Oleh : Elvira Masitho R Agustin

Mediaoposisi.com-Perayaan hari perempuan Internasional merupakan salah satu agenda perayaan yang terjadi setiap tanggal 8 Maret dalam setiap tahunnya.  Hari tersebut merupakan suatu hari dimana Berkumpulnya para perempuan untuk merayakan pencapaian, mulai dari aspek politik  hingga sosial dengan misi utama untuk menyerukan kesetaraan gender.

Perayaan ini dilakukan oleh kalangan feminis yang mampu menyatukan perempuan dari seluruh jenis profesi, lalu dikemas melalui aksi unjuk rasa, penampilan karya seni, orasi, dan pawai. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menuntut agar hak-hak para perempuan tidak ditindas dan berkehendak untuk disetarakan gendernya. Atau dengan kata lain, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki, keduanya haruslah sama kedudukannya.


Namun adanya gerakan ini, bukanlah solusiyang mampu mengatasi masalah pelanggaran-pelanggaran yang menyangkut hak perempuan. Karena masih banyak terjadinya berbagai tindakan kekerasan terhadap perempuan. Komisi Nasional terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terjadi kenaikan jumlah kasus terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus. 

Baca juga: Derita Muslim India

Selain itu dalam redaksi berita yang sama menyampaikan bahwa Komisioner Komnas Perempuan Mariana Aminudin mengatakan kasus kekerasan terhadap anak perempuan yang banyak terjadi adalah inse, yakni sebanyak 770. Menyusul berikutnya adalah kasus kekerasan seksual sebanyak 571 kasus dan kekerasan fisik sebanyak 536 kasus. 


Kategori kasus inses diartikan kekerasan seksual di dalam rumah dengan pelaku yang memiliki hubungan darah, yakni ayah kandung, ayah tiri, dan paman. Sedangkan kasus kekerasan seksual terjadi dilakukan oleh pihak luar yaitu tetangga atau lingkungan terdekat.


Adanya masalah yang menyangkut perempuan seperti kekerasan yang dilakukan oleh pihak dalam keluarga maupun pihak luar keluarga. Hal tersebut rentan terjadi, karena suasana seolah membolehkan untuk melakukan hal tersebut dan masih belum adanya tindakan tegas oleh hukum. 


Bahkan adanya tindakan unjuk rasa yang dilakukan oleh kaum feminis yang senantiasa menyerukan kesetaraan gender bukanlah hal yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan tetapi bekebalikan, yakni bertambahnya masalah baru. Karena bagaimanapun juga, antara laki-laki dan perempuan memiliki peran dan fungsi masing-masing.

Baca Juga: Krisis Moral Dunia Pendidikan

Hal ini tentu berbeda jika aturan benar-benar diterapkan dalam suatu negara. Yakni melindungi hak-hak perempuan dan menindak tegas bagi pelaku penindasan fisik atau seksual terhadap perempuan. Begitu juga yang tercermin dalam aturan islam yang begitu menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus dijaga kehormatannya dan benar-benar dijaga oleh negara. 


Dalam islam, posisi perempuan tidaklah memiliki kesamaan peran namun memilki peran yang berbeda dengan laki-laki yakni memiliki peran yang berharga, sebagai pencetak generasi yang dapat  melanjutkan kehidupan.


Dalam hal ini, islam tidak memposisikan perempuan dalam posisi yang rendah, namun begitu dijaga kemulyaannya. Seperti halnya dalam sistem kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz yang mengerahkan seluruh pasukannya untuk melindungi seorang perempuan yang hendak dilecehkan seorang laki-laki yang hendak menyingkap pakaian seorang perempuan tersebut. 


Dari kejadian tersebut, menunjukkan bahwa Islam begitu memuliakan seorang perempuan dan benar-benar dijaga kehormatannya.  Berbeda dengan kondisi saat ini yang jauh dari Islam, sehingga banyak terjadi berbagai kekerasan terhadap perempuan.[MO/ia]
  

Posting Komentar