Oleh : Aida Al Farisi
(Aktivis Dakwah Kampus Makasar)

Mediaoposisi.com-Siapa sih di antara sahabat yang tak mengenal Tik Tok? Pasti sudah tau semuakan?Sedikit saya tuliskan biodatanya, Tik Tok adalah sebuah jaringan sosial dan platform video musik, tanah kelahirannya di negeri Tirai Bambu, peluncuran dimulai sejak 2016 oleh Zhang Yiming, nach aplikasi ini membolehkan untuk membuat video musik pendek, dan berbagai video lipsync. 


Kebanyakan sambil goyang badan, hingga jaripun ikut bergoyang. Tik tok sudah mulai menjamur di negeri ini 2018 silam, yang dipopulerkan oleh seorang anak usia 13 tahun, Bowo. Tak tanggung- tanggung berkat Tik Tok ia memiliki lebih dari 200 ribu followers di instagram, selain itu video lipsync-nya di Tik Tok juga telah dinonton 700 ribu kali. Ini sebenarnya membuktikan Tik Tok ini digandrungi oleh khalayak.



Setelah nama Bowo viral dan aplikasi Tik Tok menjadi booming, tak lama kemudian aplikasi ini secara mendadak diblokir oleh Kementeriaan Komunikasi dan Informatika (Kemkomimfo). Selasa, (03/7/2018). Alasan Kemkomimfo memblokir Ti Tok karena dinilai negatif untuk anak. “Pelanggaran konten yang ditemukan antara lain pornografi, asusila, pelecehan agama, dan lain- lain.” Ujar Dirjen Aptika Kominfo. 


Baca Juga: Iuran BPJS Batal Naik, Bukti Pemerintah Tarik Ulur

Pemblokiran itu hanya berlangsung seminggu, terhitung mulai 3 Juli 2018 hingga 10 Juli 2018. Dalam waktu yang cukup singkat, terhitung saat aksesnya kembali dibuka, Tik Tok semakin menampakkan taringnya. Dilansir, kompas.com “Kami sudah ada di Indonesia dua tahun lebih. Semakin banyak masyarakat Indonesia menikmati untuk berkreativitas di Tik Tok,” jelas Angga Anugrah Putra, Head of User and Content Operation. 


Capaian Tik Tok ini bukan kaleng- kaleng, aplikasi ini mampu mengungguli sebagian besar aplikasi yang berada di bawah naungan Facebook. Hanya WhatsApp yang mampu mengungguli capaian unggahan Tik Tok dengan angka 1,5 miliar.  Meski banyak kalangan yang mencibir karena dipandang aktivitas ngeTik Tok unfaedah, tapi  banyak juga yang menyukainya. 



Sampai hari inipun aplikasi ini masih memenuhi ruang- ruang sosial media, bahkan lagu- lagu Tik Tok selalu saja terdengar di mana- mana, bukan cuma smartphone, tapi di angkutan transportasipun baik kota maupun di pedesaan, begitu semarak terdengar, bahkan di odong- odong anak sekalipun. 


Selebgram, selebriti, aktor, aktris, muda mudi yang umurnya remaja bahkan dewasa, pejabat negara, hingga masyarakat awan sekalipun. Mereka banyak mengupload video hasil Tik Tokan. Entah itu niatnya untuk viral, panjat sosial (pansos), menghibur diri, mengusir keresahan, atau hanya sekedar mengisi waktu kosong. 


Bahkan banjir beberapa bulan lalu yang melanda JaBoDeTaBek ada beberapa kalangan masyarakat yang memposting vidoe Tik Tok pada saat evakuasi berlangsung. Katanya menghibur diri dan memperlihatkan budaya santuy. Namun yang jelas tahun ini Tik Tok semakin berlalu lalang, di siang bolong, hingga tumbuhnya mengalahkan sang ilalang. Hehehe. Bahkan tak mengenal waktu, Tik Tok ini selalu tampil berwara- wiri memenuhi akun- akun medsos. Nggak capek banget sich.  



Fenomena beredarnya konten negatif pada aplikasi ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta orang tua untuk mengawasi penggunaan gedget. “Orang tua harus kontrol. Anak diberi gadget, di rumah ada wifi mestinya punya fungsi kontrol yang lebih baik,” kata Retno Litsyarti, komisioner KPU Bidang pendidikan saat konferensi pers di kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/7).

Baca Juga: Perempuan dan Kemiskinan

Sistem kehidupan saat ini adalah sistem kehidupan yang sekuler (pemisahan agama dari kehidupan). Standar kehidupan serba materi. Peluang- peluang apa saja yang bisa menghasilkan keuntungan maka akan dilirik oleh para kapital. 


Meski minim manfaat atau bahkan tak bermanfaat sekalipun bagi masyarakat, tapi jika itu bisa menghasilkan pundi- pundi ekonomi maka akan dimassifkan. Dilansir Warta Ekonomi. co. Id, Surakarta, induk perusahaan Tik Tok, ByteDance membukukan pendapatan di kisaran 50 milliar yuan- 60 milliar yuan (sekitar Rp 99,3 triliun- Rp 119 triliun, di paru pertama tahun ini (1/10/2019). 


Nilai ini bahkan melebihi perkiraan dari para pakar analis. Jumlah yang sangat fantastis. Teknologi kian berkembang, hingga sekarang kita sudah berada dalam Revolusi 4.0. Jangan sampai capaian Indonesia dalam menghadapi persaingan global dunia, hanya sekedar sumbangsi Tik Tok dalam tren tekonologi, namun terjajah dan terbelakang di segala bidang aspek kehidupan. 



Cina dalam kisruh perang dagang bersama Amerika Serikat, negeri Tirai Bambu ini menargetkan 2030 akan bekerja secara mandiri dalam mengembangkan segala aspek politik, ekonomi, militer, dan tentu akan menjadikan teknologi sebagai modal utama. Maka melihat potensi negeri- negeri kaum muslim termasuk Indonesia, dengan populasi kaum muda 2030, Cina sudah mempersiapakan pangsa pasar yang menggiurkan untuk kaum muda. 


Inilah salah terobosan aplikasi Tik Tok. Bisa dibayangkan korban- korban teknologi hanya sekedar mengetahui penggunaanya, setidaknya tidak gaptek. Namun di balik layar kita diteropong oleh negeri- negeri imperialis. Kita hanya tau sekedar beli data jika jaringan sudah lemot. Tapi tak pernah memahami bahwa kita sebenarnya dijadikan korban- korban ekonomi dalam memberikan keuntungan sebanyak- banyaknya. 


Inilah sitem Kapitalis Sekularisme, memanfaatkan teknologi untuk nilai materialisme. Dalam sistem saat ini media sekuler memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk semakin mengeksiskan peran mereka sebagai imperialisme (penjajah). Teknologi hari ini dikuasai oleh negara- negara adidaya dan negara maju. Negara dengan teknologi paling maju di dunia tentu termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Cina, Jerman, inggris dan termasuk Australia serta Swedia.   
               

Sebagai seorang muslim memandang fenomena Tik Tok, harus dengan pandangan yang cemerlang. Bijak dan cerdas dalam menyikapi peristiwa ini. maka yang perlu dibahas bukan aplikasinya. Tapi tampilan yang ditayangkan apakah itu berfaedah atau tidak ada manfaat sama sekali, bagi kebangkitan kaum muslimin. Dalam pandangan Islam teknologi boleh diambil, karena termasuk madaniyah umum yang tidak mengandung hadharah. 


Dituliskan oleh Syekh Taqiyuddin an Nabhani pendiri Hizbut Tahrir dalam kitab Nidzamul Islam “Hadharah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk- bentuk fisik dari benda- benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Hadharah bersifat khas terkait pandangan kehidupan. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia. 


Bentuk- bentuk madaniyah yang dihasilkan dari hadharah seperti patung termasuk madaniyah yang bersifat khas. Sedangkan bentuk- bentuk madaniyah yang menjadi produk kemajuan sains dan teknologi industri termasuk madaniyah yang bersifat umum, boleh digunakan oleh seluruh umat manusia. Bentuk madaniyah yang terakhir ini bukan milik umat tertentu, akan tetapi bersifat universal seperti halnya sains dan teknologi.”


Terkait teknologi Allah SWT berfirman “Allah memberikan kemudahan agar manusia mendapatkan kemudahan.” (QS Al- A’la: 8). Di masa lalu teknologi dalam peradaban Islam, para cendikiawan muslim  menjadikan teknologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang sah. Sejumlah kitab dan risalah ditulis oleh para ilmuwan muslim, mengklasifikasikan ilmu- ilmu terapan dan teknologi seperti kitab Mafatih al Ulum karya al- Khawarizmi, Ihsa al Ulum karya al- Farabi, kitab al Najat karya Ibnu Sina. 


Lalu ada Abu Hanifah Ahmad (828-896 M) menulis kitab an- Nabat di dalamnya terbahas tumbuhan (botani) sebanyak 637 jenis tanaman. Selain itu beliau juga mengkaji aplikasi meteorologi dan astronomi, untuk pertanian, seperti posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai hingga mata air. Bahkan tak ketinggalan para Insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, guna untuk menaikkan irigasi dan menjalankan mesin giling. 


Di salah satu kota Sevila terdapat 6.000 alat tenun untuk sutera. Karen Armstrong mengatakan “Kaum Yahudi menikmati zaman keemasan Islam di Andalusia.”  Islam di masa lalu menjadi mercusuar peradaban, karena kaum muslim menjadikan teknologi untuk mengembangkan kejayaan kaum muslim, dan  menjadikan teknologi sebagai wasilah/ sarana dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.                                                                                                    


Kegemilangan kaum muslimin, bukanlah romantisme sejarah. Bukan cuma semata isapan jempol. atau muncul begitu saja. Semua karena sempurnanya penerapan Islam dalam segala aspek kehidupan.                                                                                                                               
             
Maka untuk saat ini, karena institusi Khilafah belum tegak, maka kita menggunakan teknologi tentu kepada hal- hal yang bermanfaat untuk kebangkitan kaum muslimin. Menggunakan teknologi sebagai wasilah (sarana), dalam melakukan aktivitas dakwah amal makruf nahi munkar, menuju tegaknya peradaban Islam dalam naungan khilafah ala minhaji Nubuwwah.[[MO/ia] 


WaaLahu a’alam bishowab.

Posting Komentar