Oleh :  Rosyidah Assanani
(Pengajar Yogyakarta)

Mediaoposisi.com-Publik terkaget dengan pemberitaan kasus kriminal yang terjadi di akhir pekan lalu, dimana gadis remaja berusia 15 tahun melakukan pembunuhan terhadap anak kecil usia 5 tahun. 


Latar belakang pembunuhan masih diselidiki oleh pihak berwajib.  NF inisial remaja tersebut, yang bersangkutan mendatangi Kantor Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat 6 Maret 2020. Kepada polisi, NF mengaku baru saja membunuh seorang bocah. Gadis remaja itu datang seorang diri sekira pukul 10.00 WIB.


Ini merupakan sebagian kecil dari kasus kenakalan remaja yang berdampak kematian.berapa kasus narkoba setiap bulannya? Berapa kasus tawuran, klithih? Berapa kasus kehamilan sebelum pernikahan? Berapa kasus penyakit menular yang diderita remaja kita karena pergaulan bebas?



Anak-anak dan remaja merupakan korban dari system. System yang tidak melindungi tumbuh kembang mereka dengan aman. Aman dari narkoba, tetapi undang-undang miras psikotropika masih bertengger dengan penggolongannya saja bukan mutlak pelarangan digunakan umum. 


Undang-undang kebebasan informasi yang tidak dibarengi dengan edukasi yang baik, sehingga banyak remaja menjadi gagap teknologi dan asal mengikuti narasi yang menyesatkan. Gembar-gembor kebebasan / liberalitas yang kebablasan berujung pada kehamilan, aborsi, penyakit menular yang berujung pada rapuhnya rumah tangga yang premature.


Pola berfikir liberal cenderung sekuler yang perlahan-lahan menjadi standar kebenaran di masyarakat, membuat setiap anak yang bertumbuh dalam system tersebut mempunyai kencenderunagan mudah stress. Standar kehidupan yang materialis membuat terjadi persaingan yang tidak sehat dalam pergaulan, atau terjadi kesenjangan dalam pergaulan. Mengarahkan anak-anak kepada perilakau individualis cenderung privat.


Kehidupan privat dan individualis tanpa pemahaman agama yang kuat (agama semakin ditinggalkan/sekuler), menjadikan anak mudah tertekan kejiwaannya. Anak yang menjadi tanggung jawab orangtuanya, namun orangtua tidak akan bisa melindungi anaknya sendiri tanpa adanya pemerintahan yang mengkondisifkan linkungan tumbuh kembang mereka.


Kemana keberadaan orang tua sekarang sehingga “kecolongan” kasus-kasus seperti ini? Para orangtua tertahan di lokasi mereka bekerja, tersibukkan dengan pemenuhan kebutuhan keluarga yang terbebankan kepada mereka. Dalam system ekonomi sekarang ini keluarga menanggung banyak kebutuhannya dengan sedikit peran negara. 



Setiap keluarga harus menanggung, kesehatan, pangan, hunian, keamanan, pendidikan dan lain sebagainya. Beban keluarga yang sangat besar ini membuat para orangtua kehilangan focus dalam mendidik anak. Kehilangan fase tumbuh kembang anak sehingga tidak sedikit hambatan komunikasi terjadi.


Dalam sabda Rasulullah tentang pentingnya pendidikan anak :


“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).




Dan anak menjadi investasi orangtua diakhirat, dalam hadist:



Sesungguhnya anak merupakan investasi akhirat“Sesunguhnya Allah ta’ala akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kemudian dia akan berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku? Maka Allah menjawab, “Hal itu dikarenakan do’a yang dipanjatkan anakmu agar kesalahanmu diampuni.” (HR. Ahmad: 10618. Hasan).


Solusi yang dapat menanggulangi semua ini yaitu dengan system pemerintahan yang dapat membagi beban sebuah Lembaga keluarga. Sehingga orangtua akan lebih siap dan focus dalam mendidik generasi negeri ini. Dalam system Islam, negara yaitu lembaga yang diserahi oleh umat untuk mengurusi urusan umat, sehingga penyerahan urusan yang sekarang dianggap domestik kepada negara akan meringankan beban keluarga. 


Jaminan kesehatan, ketersediaan lapangan kerja , ketersediaan hunian, bahkan urusan Pendidikan, distribusi makanan dll akan menggerakkan roda perekonomian dengan sehat. Bagian yang perlu banyak diingat pemimpin kita adalah hadis berikut:


“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 2278).[MO/ia]


Allahua’lam bishowab

Posting Komentar