Oleh : Yuliana, M.Pd. 
(Dosen Agama Islam)

Mediaoposisi.com-Corona atau covid-19 sudah menjadi pandemi. Penyebaran virus ini sudah mencapai lebih dari 150 negara. (Kompas.com, 17/3). Di Indonesia sendiri sudah mulai mewabah sejak adanya 2 orang dari Depok yang terpapar virus ini. 


Sejak diberitakan dari awal Maret lalu, penyebaran virus ini terus meningkat pesat. Hingga saat tulisan ini ditulis, pasien positif Corona sudah mencapai 309 orang.


Pemerintah Indonesia telah melakukan social distancing untuk mencegah penyebaran virus ini. Sejak 16 Maret lalu sebagian sekolah diliburkan, begitupun para pekerja diminta Work From Home. Mereka diminta diam di rumah dan menghindari keramaian. Masyarakat Indonesia sendiri berbeda-beda menyikapi social distancing. Ada yang manut mengikuti arahan namun tak sedikit pula yang mengabaikannya.


Sikap masyarakat yang terlihat santai masih ditemukan di berbagai tempat. Arisan, pengajian majelis taklim dan acara-acara rutinitas lainnya masih dilakukan dengan tatap muka. Anak-anak yang sekolahnya diliburkan pun masih berkeliaran bermain di jalanan. Kurangnya sosialisasi bahaya pandemi dan belum adanya kasus di lingkungan terdekat yang terjadi mungkin menjadi sebab abainya sebagian masyarakat.


Dalam riset yang diterbitkan kompas 18 Maret lalu, Mahatma Crhyshna menyatakan pencarian populer kasus Corona di Indonesia mulai naik sejak adanya dua orang di Depok yang terjangkiti virus ini. Padahal kasus ini sudah terjadi sejak Januari lalu. “Di Indonesia, kedua puncak tersebut dapat didekati dengan peristiwa terkait virus korona yang ada di Indonesia.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim? Haruskah kita takut Corona atau takut kepada Allah?


Sebagai seorang muslim, tentu meyakini segala sesuatu yang terjadi di atas bumi ini adalah kehendakNya, termasuk pandemi virus Corona. Keyakinan ini harus tertanam di dalam benak seorang muslim, karena bagian dari keimanan.


مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (TQS. Al-Hadiid: 22)


إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَىْءٍ إِذَآ أَرَدْنَٰهُ أَن نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ


“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya ...:kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (TQS. An-Nahl: 40).


Di sisi lain rezeki, maut dan datangnya sakit juga merupakan kehendak Allah swt. Adapun virus Corona bukanlah penyebab datangnya kematian. Tidak semua yang terkena virus Corona meninggal dunia kemudian ada pula yang meninggal dunia bukan karena virus tersebut.


Wilayah keyakinan berbeda dengan wilayah perbuatan. Dalam wilayah perbuatan ada hukum sebab akibat dan ada ikhtiar yang harus diupayakan.

\
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah Keadaan (nasib) sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan (perilaku) yang ada pada diri mereka sendiri” (TQS. Ar-Rad: 11)
Menghindari pandemi virus Corona adalah ikhtiar yang harus kita jalani. Mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, memakai masker hingga berdiam diri di rumah adalah upaya yang harus di lakukan. Allah swt juga mengabarkan dalam firmanNya mengenai larangan meninggalkan kampung atau kawasan yang sedang dilanda musibah.


اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ اُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِۖ فَقَالَ لَهُمُ اللّٰهُ مُوْتُوْاۗ ثُمَّ اَحْيَاهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka:”Marilah kamu”, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (TQS. Al-Baqarah: 243)
Pada masa Rasulullah saw juga pernah terjadi wabah penyakit tha’un. Beliau bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)
Di masa Khulafaurrasyidin juga pernah tertimpah wabah, tepatnya di masa Umar bin Khattab ra. Abdullah bin Amir menceritakan sebagai berikut:
أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏”‏‏
Artinya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).
Berdasarkan dalil-dalil di atas maka wajib bagi kita berikhtiar semaksimal mungkin menghindari wabah, edemi ataupun pandemi seperti yang terjadi saat ini. Melaksanakan ikhtiar ini adalah ibadah yang kita niatkan semata-mata karena Allah swt dibarengi dengan keyakinan bahwa hanya Allah swt saja yang berkehendak atas segala sesuatu. 
Sayangnya sikap pemerintah yang terkesan lambat dalam menangani kasus ini membuat upaya masyarakat menjauhi virus Corona ini menjadi tidak maksimal dan jauh dari kesiapan. Semoga Allah swt segera mengakhiri pandemi ini. Aamiin[MO/ia]


Posting Komentar