Oleh: Sunti


Mediaoposisi.com-Dari bulan Desember 2019 dunia digemparkan dengan adanya virus mematikan yang pertama kali muncul di daerah Wuhan, China yaitu virus Corona atau Covid 19. Kelelawar dianggap sebagai sumber penyebaran Virus Corona jenis baru itu, atau Novel Coronavirus (2019-nCoV). 


Peter Daszak, Presiden EcoHealth Alliance, yang telah bekerja selama 15 tahun, telah mempelajari bagaimana penyakit berpindah dari hewan ke manusia. "Ketika Anda melihat urutan genetik virus dan mencocokkannya dengan setiap Coronavirus, maka yang paling mendekati adalah berasal dari kelelawar."


Penularan virus ini sangat cepat. Sampai saat ini jumlah korban meninggal di seluruh dunia akibat virus ini mencapai 8.732. Di Indonesia sendiri sudah 25 orang meninggal dan 309 dinyatakan positif terjangkit virus corona. 


Kasus positif coronavirus disease (Covid-19) atau virus korona baru di Indonesia terus bertambah. Dalam dua pekan terakhir, jumlah kasus positif virus korona mencapai 309 atau bertambah 82 orang. “Ini perkembangan data terhitung dari pukul 12.00 WIB pada 18 Maret hingga 12.00 WIB 19 Maret 2020,” ujar Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, Jakarta, Kamis (19/3/2020). 


Adapun total pasien sembuh sebanyak 15 orang dan total yang meninggal dunia yakni 25 orang. Artinya, saat ini death rate atau tingkat kematian akibat virus korona mencapai 8,09 persen.


Peningkatan korban positif corona ini cukup besar dibanding negara-negara lain yang baru mengumumkan adanya korban yang terjangkit virus di negaranya. Untuk mecegah penularan virus ini Bapak Presiden Jokowi meminta agar masyarakat melakukan social distance. (Detiknews, 16/03/20). Social distance adalah jarak sosial. 


Artinya, seseorang menjaga kedekatan fisik dengan seseorang guna mengurangi perpindahan virus dari tubuh satu ke yang lain. Selain itu, social distance juga dilakukan dengan mengisolasi diri bagi orang yang terinfeksi, mengkarantina diri, sehingga orang dapat terpisah satu sama lain. Dengan social distence ini masyarakat dapat bekerja, beribadah dan belajar di rumah masing-masing.


Fakta yang terjadi sekarang kebijakan tersebut tidak berlaku menyeluruh di seluruh indonesia. Untuk menjaga jarak atau mengkarantina diri hanya berlaku untuk anak sekolah (pelajar) dengan diliburkannya selama dua minggu, tetapi untuk para pekerja, pendidik mereka masih bekerja seperti biasanya. 


Bahkan sampai saat ini pemerintah pun masih membuka penerbangan luar negeri dan mengijinkan para wisatawan luar negeri yang ingin berwisata ke Indonesia. Disatu sisi diisoalsi, dilindungi agar tidak terpapar virus disisi lain malah dibuka celah virus itu masuk menyebar di Indonesia.



Cara Islam Mengatasi Wabah Virus


Islam adalah agama sempurna dengan Al qur'an dan Hadist sebagai petunjuk di dalamnya. Mulai urusan terkecil hingga urusan besar sudah ada aturan dan solusinya dalam Islam. Apalagi masalah wabah virus ini.


Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. 



Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda : "Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari)".


Dengan demikian, metode karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Untuk memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul saw. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah. 


Peringatan kehati-hatian pada penyakit kusta juga dikenal luas pada masa hidup Rasulullah saw. Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).


Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Kalau sekarang dikenal dengan istilah lockdown. Beliau bersabda: "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu (HR al-Bukhari)".


Dikutip dalam buku berjudul, Rahasia Sehat Ala Rasulullah saw.: Belajar Hidup Melalui Hadis-hadis Nabi karya Nabil Thawil, pada zaman Rasulullah saw., jika ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, beliau memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus. 


Jauh dari pemukiman penduduk. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.


Pada masa Kekhalifahan Umar bin al-Khaththab juga pernah terjadi wabah penyakit menular. Diriwayatkan : Khalifah Umar pernah keluar untuk melakukan perjalanan menuju Syam. Saat sampai di wilayah bernama Sargh, beliau mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengabari Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. 


Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari). Riwayat ini juga dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wa al-Nihayah. Menurut Imam al-Waqidi saat terjadi wabah Tha’un yang melanda seluruh negeri Syam, wabah ini telah memakan korban 25.000 jiwa lebih. 



Bahkan di antara para sahabat ada yang terkena wabah ini. Mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.


Islam pun telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktikkan gaya hidup sehat. Misalnya, diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman: "Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian (TQS an-Nahl [16]: 114). Selain memakan makanan halal dan baik, kita juga diperintahkan untuk tidak berlebih-lebihan. Apalagi sampai memakan makanan yang sesungguhnya tak layak dimakan, seperti kelelawar. 

Allah SWT berfirman : 

"Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (TQS al-A’raf [7]: 31). Islam pun memerintahkan umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar. Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. misalnya, senang berwudhu, bersiwak, memakai wewangian, menggunting kuku dan membersihkan lingkungannya.


Para pemimpin Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., sebagaimana riwayat di atas, telah mencontohkan bagaimana seharusnya pemimpin bertanggung jawab atas segala persoalan yang mendera rakyatnya, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular. Seharusnya para pemimpin-pemimpin negeri sekarang meniru atau mencontoh apa yang telau beliau-beliau contohkan. 


Kehadiran pemimpin yang benar-benar tulus mengutamakan keselamatan rakyat dibandingkan kepentingan bisnis maupun ekonomi sangat didamba oleh rakyat. Karena tentu kita tidak ingin dipimpin oleh sosok pemimpin sebagaimana sabda Rasulullah saw. : 


"Siapa yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusan kaum Muslim, lalu dia tidak mempedulikan kebutuhan dan kepentingan mereka, maka Allah tidak akan mempedulikan kebutuhan dan kepentinganya (pada Hari Kiamat).(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)".[MO/ia]

Wallohualam bishawab.








Posting Komentar