Oleh Fikri Maulana
(Mahasiswa Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung)


Mediaoposisi.com-Belakangan ini dunia sedang digemparkan oleh sebuah virus COVID-19 atau lebih dikenal sebagai Corona Virus, virus ini pertama kali muncul di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. Maka dari itu virus ini diberi nama COVID-19 yang membuat heboh dunia akibat gejala yang ditimbulkan oleh virus ini yang diberitakan pertama kali oleh media Amerika, sehingga dunia tahu tentang fenomena ini.


Dunia saat ini sedang fokus memutus mata rantai penyebaran virus ini yang berakibat fatal terhadap ekonomi, sosial, dan politik di seluruh negara. Virus ini sendiri hampir memakan kurang lebih dari 4000 jiwa di seluruh penjuru dunia yang mengakibatkan banyak negara mengeluarkan berbagai macam kebijakan, seperti: social distance, membatasi keluar-masuk dari warga asing, dan lock-down.
Indonesia pun terpapar virus corona dengan berbagai kasus awal.


Seperti: dihebohkan WNA di Bandung yang dirawat di RSHS, diisolasinya warga Batam akibat berinteraksi WN Jepang yang positif corona di Singapura, dikarantinanya ABK kapal feri akibat beberapa penumpang positif virus, dan warga Depok yang positif corona setelah berinteraksi dengan warga Cina.


Semakin hari pun bertambahnya kasus orang yang terpapar virus ini yang membuat pemerintah pun mengeluarkan kebijakan social distance sebagai langkah memutuskan mata rantai penyebaran virus ini di Indonesia. Menurut data statistika, Indonesia merupakan negara yang paling banyak dengan jumlah korban yang terpapar virus setelah Cina sebagai negara asal virus ini.


Social distance sendiri merupakan tindakan untuk mengurangi aktivitas sosial diluar rumah, serta membatasi aktivitas sosial dengan cara: menjauhi kerumunan, melakukan PHBS, dan sebagainya. Kebijakan ini pun menuai pro-kontra yang mengakibatkan seluruh ranah kehidupan pun terdampak akibat adanya fenomena ini.


Dibidang pendidikan sendiri mengharuskan belajar dirumah dengan metode pembelejaran online, dibidang  kantoran pun bekerja dengan jarak jauh, dan banyak lainnya. 


Banyak plus-minus dari gerakan ini, disamping mengurangi yang terdampak pun ada yang mendapatkan kerugian, seperti pedagang kecil yang menjadi berkurang pemasukannya, pembelajaran online yang memerlukan kuota untuk mengaksesnya, dan anehnya lagi perusahaan industri tetap beroperasi ditengah digencarkannya social distance.


Ekonomi global sendiri pun mengalami krisis akibat virus ini, aktivitas ekspor-impor pun terganggu, dan nilai tukar mata uang pun semakin carut marut ditengah virus ini yang oleh WHO ditetapkan sebagai pendemi. 


Harga-harga dipasaran pun mulai meningkat akibat virus ini, belum lagi APD (alat pelindung diri) seperti masker, handsanitizer, dan lain-lain pun mendadak menjadi sangat mahal. Kelangkaan beberapa komoditas pasar pun mulai terjadi akibat femenologi ini, akibat proses ekspor-impor terhambat akibat diperketatnya regulasi pembatasan barang masuk.


Banyak pendapat yang mengatakan bahwa ini hanya pengalihan isu dari politik perang dagang antara Cina dan Amerika, Presiden Trump menyebut virus Cina, dan Menlu Cina menyebut virus ini berasal dari Amerika. Israel negara pertama yang menemukan vaksin virus ini, seperti yang kita ketahui bahwa Israel ini sebagai kolega dari Amerika. 


Cina pun tidak tinggal diam, baru-baru ini menemukan obat yang mampu menangani virus ini yang dimana obat ini sama dengan virus di Jepang beberapa waktu lalu. Indonesia yang dikenal dekat dengan Cina pun siap mengimpor obat-obatan itu, padahal obat ini belum lulus uji pra-klinis terhadap manusia yang mengakibatkan pro-kontra.


Jangan Lupa


Ditengah pendemi global, kita pun jangan lupa dengan berbagai permasalahan negeri ini yang sebelumnya sudah terjadi seperti buronan KPK, jiwasraya, BPJS, BBM, dan omnibus law. Kita boleh saja siaga dengan femenologi yang ada, tetapi dibalik fenomena ini pun ada sebagian oknum yang memanfaatkan kejadian ini untuk melancarkan hasrat pribadinya.


Omnibus law atau dikenal sebagai UU Cipta Kerja atau Cilaka atau UU Sapu Jagat ini memanglah sama-sama berbahaya dengan virus corona. Banyak spekulasi yang mengatakan ini bisa membantu mendobrak perekonomian Indonesia lewat industrialisasi dan peningkatan investasi asing. 


Ada juga yang mengatakan ini tidak pro terhadap rakyat, akibat tidak adanya kejelasan tentang status kerjanya akibat sistem kontrak gaya baru, upah yang dibayar per jam dibawah UMR, penghasilan ditentukan perusahaan, dihapuskannya wajib AMDAL bagi perusahaan, hak perempuan tidak terjamin di RUU Cilaka ini.


Sudah sepatutnya kita selaku masyarakat yang terbentuk kesadaran maju, yang peduli terhadap kemaslahatan bersama untuk bahu membahu saling mengingatkan tentang pentingnya mengkritisi RUU Cilaka ini yang sangat tidak pro terhadap rakyat.


Selain disudut pandang pekerja dan juga lingkungan, ada juga dari sudut pandang pendidikan yang dimana mendikbud mengeluarkan kebijakan kampus merdeka, membuat institusi pendidikan memenuhi kebutuhan industri saat ini. 


Kebijakan ini membuat adanya komersialisasi, privatisasi, dan liberalisasi pendidikan yang seharusnya pendidikan ini dibuat untuk melahirkan manusia yang siap menjaawab tantangan jaman, malah pendidikan disiapkan layaknya pabrik untuk mencetak mesin-mesin industri untuk memenuhi kebutuhan pasar dan industri.[MO/ia]


Posting Komentar