Oleh : Ai Sani Nuraini


Mediaoposisi.com-Bicara soal generasi maka kita akan bicara soal pemuda, dan dari sana kita tahu bahwa pemuda adalah tonggak peradaban. Maju tidaknya sebuah peradaban akan sangat tergantung pada seperti apa kondisi pemudanya. Jika pemudanya memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap sang pencipta, maka sudah bisa dipastikan peradaban yang akan tercipta akan gemilang. 



Sebagaimana kita ketahui dulu Konstantinopel dapat ditaklukkan oleh seorang pemuda bernama Muhammad Al Fatih, di usianya yang sangat muda beliau mampu membuat peradaban islam mencapai kegemilangannya. 



Kini pertanyaannya apakah generasi muda kita saat ini mampu menjadi sosok yang demikian? Apakah sudah cukup kuat keimanan generasi muda kita terhadap Allah SWT? Apakah kita sudah mampu menaklukkan hawa nafsu diri sendiri? Apakah kita sudah menjadikan Al Qur'an dan sunah sebagai pedoman kita menjalani kehidupan? Cukup jawab dalam hati kita masing-masing.
     


Jika pertanyaan itu sudah mendapatkan jawaban, dan kamu menyadari bahwa Al Qur'an dan sunah sebagai pedoman hidup, selamat kamu adalah salah satu yang beruntung dari banyaknya pemuda yang merasa bingung dengan identitas mereka yang sesungguhnya. Mereka masih enggan menjadikan aturan islam sebagai pegangan. Mereka masih senang mengatur dirinya sendiri dengan aturannya sendiri. Mereka lupa ada sang Maha Pengatur untuk segala aspek kehidupan.


     
Coba kita lihat faktanya saat ini, dimana para pemuda banyak berkumpul? Di tempat kajian atau malah di tempat hiburan?. Sayangnya mereka lebih menyukai tempat hiburan dibandingkan tempat kajian. Apakh mereka disibukkan dengan kegiatan yang bermanfaat atau malah disibukkan dengan kegiatan yang sia-sia? 


Tentu kita sudah tahu persis jawabannya. Contohnya sekarang generasi muda kita sangat disibukkan dengan eksistensi diri membuat konten-konten unfaedah,menguploadnya berlenggak-lenggok bergoyang tanpa rasa malu sedikitpun karena saat ini sedang trend, iya aplikasi Tiktok yang kini sedang viral, belum lagi challenge-challenge unfaedah lainnya. Miris, negara dengan penduduk muslim terbanyak di seluruh dunia pemudanya masih berkutat dengan hal-hal yang tidak penting. 


Banyaknya kasus kenakalan remaja,sex bebas, penggunaan obat-obatan terlarang, dan masih banyak lagi. Apakah hal ini tidak cukup membuat mata kita terbelalak melihat fakta yang ada, apakah banyaknya kasus tersebut tak mampu membuat kita berfikir bahwa ada yang salah dengan generasi ini, ada yang coba ditinggalkan oleh generasi ini, apa itu? Jawabannya adalah Islam.
    


Ketika generasi muda sudah mulai meninggalkan identitas keislamannya makan tunggulah kehancuran pada generasi tersebut. Maka peradaban gemilang itu akan semakin sukar kita ciptakan, Na'udzubillah. 



Sekarang kita akan bicara siapa saja yang harus memiliki peran untuk mengubah keadaan ini, ada beberapa elemen yang harus bekerja sama dalam memperbaiki keadaan ini. Selain dari individu pemuda itu sendiri, lingkungan keluarga, juga masyarakat ada elemen yang tak kalah pentingnya yaitu pemerintah. 


Pemerintah dalam hal ini tidak mampu membendung atau menyelesaikan permasalahan remaja dan pemuda, liberalisasi yang tak dicegah oleh pemerintah menjadi salah satu faktor terkuat yang membuat generasi muda kita rusak. Kebebasan mengakses tontonan yang tidak berfaedah bahkan tontonan yang tidak senonoh, pembiaran aktifitas pacaran, pembiaran adanya tempat hiburan yang banyak merusak generasi, dan masih banyak lagi yang luput dari perhatian pemerintah.
     


Untuk mengubah kondisi ini tentunya harus ada peran pemerintah yang memiliki Otoritas dalam mengatur segala hal yang menyangkut urusan masyarakat. Pengaturan yang baik untuk masyarakat, menciptakan aturan yang ditujukan untuk menjaga ketertiban masyarakat. Termasuk dalam hal ini menjaga generasi muda agar tidak terjadi lagi kasus-kasus yang seringkali terjadi. 



Pemerintah juga yang harusnya menjadi pelopor perubahan menjadi lebih baik, menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik, juga menanamkan dalam tiap diri pemuda tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.



 Namun karena sistem yang dipakai adalah buatan manusia, maka akan selalu ada cacat padanya. Pemerintah lalai menjaga generasi penerus peradaban, pemerintah malah sibuk memperjuangkan perpanjangan jabatan, sibuk memperkaya diri sendiri dengan cara korupsi.
     


Sungguh miris melihat kondisi negeri ini, yang amat jauh dari kata islami. Sungguh kami rindu masa-masa dimana Islam menjadi pedoman hidup, yang dari sejarahnya saja kami jatuh cinta pada bagaimana Islam diterapkan dalam sebuah negara yang mengatur segala aspek kehidupan. 



Sebab hanya Islam satu-satunya sistem terbaik yang akan menciptakan peradaban yang gemilang, sebab Islam yang selalu punya cara terbaik dalam menyelesaikan permasalahan Ummat, semua solusi ada di dalam Islam. Kami jatuh cinta pada kedamaian dan ketentraman yang dirasakan pada masa-masa Islam diterapkan di tengah-tengah Ummat, dipimipin oleh seorang Khalifah yang adil, diberlakukan sistem dari sang pembuat hukum yakni Allah SWT. 




Sungguh kami rindu, para pemuda yang giat menuntut ilmu, menjadikan takwa sebagai pakaian mereka, menjadikan rasa malu sebagai perhiasan mereka dan menjadikan ridho Allah satu-satunya tujuan mereka. Kami rindu kepemimpinan Ummat yang satu, kami rindu Daulah Khilafah Islamiyyah, kami rindu dan semoga istiqomah dalam memperjuangkannya. Wallahu A'lam Bisshawab.


Posting Komentar