Oleh : Hermin Setyoningsih, Amd. Keb. 
(Praktisi Kesehatan)

Mediaoposisi.com-Hingga saat ini wabah virus corona terus menjadi trending topik dunia. Makhluk kecil tak kasat mata ini, tak henti membuat kepanikan masyarakat dunia. Demikian pula di negeri yang dikenal gema ripah loh jinawi kita tercinta, Indonesia.


Meski media berusaha keras meredam kepanikan itu, dengan menyampaikan berbagai pernyataan pejabat negara, yang seolah virus corona itu tak mudah menular, mudah sembuh, hanya dengan empon-empon khas Indonesia, seperti jahe merah, temulawak, kunyit, lengkuas, kunir, sereh, dan sebagainya.


Seperti yang dilansir CNN Indonesia, Presiden Joko Widodo mengaku minum jahe merah tiga kali dalam satu hari sejak wabah virus corona menyebar di Indonesia. Ia mengaku tak heran, harga rempah-rempah melonjak hingga lima kali lipat.


Namun realita menunjukkan, selang dua pekan sejak Jokowi mengumumkan pertama kalinya ada 2 penderita positif terjangkit Covid-19, hingga saat ini sudah mencapai 134 pasien. Lonjakan jumlah penderita yang signifikan ini menjadi sebuah kewajaran memicu kepanikan masyarakat yang luar biasa. Hingga membuat masker dan hand sanitizer yang juga diyakini sebagai pencegah penularan corona menjadi barang langka dengan harga yang meroket.


Di tengah kepanikan inilah kemudian pemerintah berupaya memberi solusi, terhadap kelangkaan masker dan handsanitizer yang merupakan kebutuhan urgen sebagai upaya preventif terhadap penyebaran virus corona. Dengan menyita masker yang ditimbun oleh oknum nakal yang memanfaatkan situasi ini. 


Nah sayangnya, kemudian viral di medsos, bahwa ada oknum polisi yang menjual masker sitaan itu dengan harga 4000/10 masker. Dan itupun ditanggapi "santuy" oleh Menkumham Mahfudz MD, bahwa tindakan itu tidak melanggar hukum asal uangnya dikembalikan pada Negara.


Klop sudah, bagai ungkapan sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dialami masyarakat saat ini. Bagaimana tidak, di tengah kepanikan wabah corona, kemudian diserukan masker adalah salah satu upaya preventif penyebaran virus, yang membuat masker langka dan harganya melangit. Tapi justru "dagelan" yang tak lucu kembali ditunjukkan oleh aparat pemerintah saat ini. 



Bukannya malah menenangkan, tapi semakin membuat kegaduhan publik dengan anomali sikapnya. Bukan malah berupaya keras menindak tegas penimbunnya, memproduksi sebanyak-banyaknya sesuai kebutuhan, atau lebih tepatnya memberikan secara gratis masker sitaan itu. Tapi justru berkelakar dengan menjualnya meski dengan harga murah, dan itu direstui oleh pejabat setingkat atasnya, sungguh raja tega.



Namun, bagai sebuah habit, hal ini adalah lumrah bagi penguasa di sistem sekuler kapitalis. Di mana negara sekali lagi hanya berperan sebagai mediator terhadap solusi permasalahan bangsa bukan pelindung sebagaimana seorang Khalifah. Sistem yang memisahkan agama dari persoalan politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan bahkan sosial budayanya, meniscayakan solusi yang pragmatis dalam setiap kebijakan yang diambil. 



Jadi bagi mereka yang memiliki akal sehat, tak akan heran dengan sikapnya dalam menghadapi wabah corona ini. Penguasa yang selalu capital minded, akan menjadikan setiap kebijakannya selalu berorientasi pada untung dan rugi. Bukan menjadi ro'in/pelayan bagi masyarakatnya.



Di sinilah kemudian bagi kita muslim yang cerdas, yang harusnya berlepas diri dari orang-orang bodoh (penguasa) ruwaibidah menjadi pemimpin bagi kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. 



Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)



Urgensitas Sistem Islam



Ya, urgensitas tegaknya sistem Islam menjadi semakin gamblang. Memang, kita harus sadari bahwa wabah ini adalah bagian dari takdir Allah yang  tak bisa kita hindari. Tapi dalam kaidah amal yakni kaidah kausalitas, ada aktifitas ikhtiar semaksimal mungkin yang ada pada ranah yang kita kuasai. 



Di sinilah kemudian, muncul kebutuhan akan pemimpin yang serius dalam melayani rakyatnya atas dasar kecintaan mereka kepada Allah, bukan sebaliknya capital minded. Sehingga berharap dengan kuasa Allah, akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi karena ketundukkan kita kepada syariatNya dalam memilih pemimpin.


Bagaimanapun, virus corona adalah makhluk ciptaaan  Allah, yang bagiNya adalah sangat mudah dengan kuasaNya untuk melenyapkan. Di samping itu, pemimpin amanah yang akan menjalankan kepemimpinanya karena rasa takutnya kepada Allah, secara pasti akan membuat kebijakan yang berorientasi pada pelayanan secara maksimal, bukan abal-abal apalagi berorientasi untung rugi.



Sebagaimana kisah Khalifah ternama, Umar bin Khattab, saat ada musibah gempa melanda negerinya. Maka beliau, Umar kemudian mengetukkan tongkatnya ke bumi dan mengatakan:
"Wahai bumi, apakah aku berbuat tidak adil?" Lalu beliau melanjutkan dengan lantang, "Wahai penduduk Madinah, apakah kalian berbuat dosa? Tinggalkan perbuatan itu atau aku yang akan meninggalkan kalian."


Umar mengerti bahwa bumi pun bisa diajak berkomunikasi, dengan izin Allah. Dan bumi itu tunduk pada ketentuan Allah. Akan memberikan keberkahan jika pemimpin dan penduduknya bertaqwa,
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya," (TQS. Al-A'raf: 96).


Karena itu, saatnya umat Islam bersatu padu. Tanggalkan segala atribut keormasan dan bahu-membahu berjuang untuk mengganti penguasa tega sekaligus sistem bawaannya dengan pemimpin Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah. Sehingga yakin dan pasti Allah akan menurunkan keberkahan dengan kuasaNya. 


Menundukkan virus corona dan menghilangkan kepanikan masyarakat Indonesia bahkan dunia, hanya dengan Kun Fa Yakun (jadi maka jadi lah). Wallahua'lam bisshowab.[MO/ia]

Posting Komentar