Oleh : Nur Azizah
 (Penulis & Aktivis Muslimah Jakarta Utara)


Mediaoposisi.com-Itu adalah kalimat-kalimat yang seringkali digaungkan kaum feminisme. Mencoba menggiring seluruh perempuan untuk menuntut keadilan dihari Women's Day. Alih-alih ditempatkan sesuai peran dan fitrahnya, justru perempuan dituntut berdaya dengan bersaing didunia kerja sehingga bisa dikatakan setara dengan laki-laki.


IWD membawa misi untuk perempuan dalam hal kesetaraan gender. Bahwa perempuan juga bisa seperti laki-laki. Perempuan meminta haknya untuk dihargai sebagaimana laki-laki dihargai. Karena posisi awalnya perempuan hanya dianggap sebagai makhluk dunia belakang (dapur, sumur, kasur) saja. Hal itu yang menyebabkan mereka para Feminis membuat stigma bahwa kaum perempuan sedang dihina, atau kaum perempuan akan digiring untuk merasa direndahkan.



Problematika yang pelik ditengah-tengah masyarakat saat ini, dimana perempuan adalah makhluk yang lemah dari segala sisi. Kekuatannya yang tidak sebanding dengan laki-laki, kelemahannya yang menjulang membuat perempuan semakin dianggap rendah, merasa tidak dihargai sebagai perempuan, hingga akhirnya munculah aktivis dari Feminisme ini. Mereka membentuk sebuah kelompok menggiring semua perempuan untuk melawan segala bentuk kekangan pada gendernya. 




Meminta keadilan untuk kesetaraan gender. Meminta hak mereka untuk dihargai layaknya laki-laki.
Dikutip dari laman Kabarnews, sebab itu diperingatilah setiap tahunnya Momentum International Women's Day pada bulan Maret, tepatnya tahun ini di negeri +62 menyelenggarakan Momen tersebut di Desa Uraso Kecamatan Mappadeceng, Luwu Utara. 



Rencana dari kegiatan ini akan diselenggarakan pada tanggal 10-14 maret 2020 mendatang. Acara ini akan dihadiri beberapa tokoh yang berpengaruh bagi perempuan seperti perwakilan perempuan, pemuda tani, serta pejuang pangan se-Nusantara.


Tak jauh beda dengan hal itu, peringatan hari perempuan ini juga dirayakan di kawasan The Breeze, BSD, Tangerang. Agenda ini diprakarsai oleh Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) bersama UN Women, menggandeng PT Unilever melalui salah satu brand-nya “Rexona”. Agenda ini dinamakan HeForShe Run 2020, yaitu ajakan untuk bergerak dengan mengajak seluruh elemen baik laki-laki maupun perempuan.


Di saat yang bersamaan, di tengah dukungan para aktivis gender merayakan IWD 2020, rakyat Indonesia justru dibuat kebakaran jenggot. Dalam memperingati hari perempuan internasional ini, kaum buruh perempuan justru geruduk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Jakarta, Jumat, 6/3/2020. Mereka menyuarakan aspirasinya tentang penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law.




Terwujudnya Momentum Women's Day ini bukan berarti tidak memiliki alasan, kalau diteliti lebih dalam gemaan ini akan menang mengingat jumlah korban wanita pada kekerasan terus meningkat tiap tahunnya.



Sedangkan IWD lahir karena adanya aktivis yang merasa bahwa perempuan menjadi makhluk yang di nomor duakan setelah laki-laki. Landasan ini berpacu karena adanya keterbatasan bagi perempuan, maka feminisme makin gencar menumpah ruahkan kelompoknya untuk menggiring kaum perempuan menyuarakan ketidaksetujuannya.



Apalagi jika memandang aturan Islam yang mewajibkan perempuan menutup auratnya dan menjadi ibu serta pengatur rumah tangga. Perempuan semakin digiring untuk membenci aturan dalam islam, gaungan feminisme mencoba untuk menyingkirkan islam dalam kehidupan para wanita. Sehingga mereka menganggap bahwa Islam hanyalah mengekang kebebasannya.


Seharusnya hal ini tidak boleh menjadi landasan dasar seorang muslim khususnya muslimah, sangat tidak relevan ketika menginginkan sebuah akhir dari masalah tetapi mengadopsi asumsi yang salah. Padahal kita meyakini dengan jelas bahwa Allah adalah pencipta kita, seluruh aspek kegiatan yang kita lakukan tak luput dari pengawasannya dan seluruh dari setiap ujian pastilah ada solusinya yang tentunya tidak keluar dari syariatNya.


Kapitalisme menjadikan akal sebagai pemutus benar dan salah. Sehingga lahirlah ketimpalan yang tidak sebanding antara perjuangan perempuan yang ingin eksis dan kebijakan pemerintah yang perlu investasi. Alhasil, yang ada hanyalah sebuah ketidakpuasan dengan segala bentuk kebijakan yang diberlakukan.


Islam Memuliakan Klan Perempuan.


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujurat: 13)



Ayat diatas menjelaskan bahwa penciptaan antara laki-laki dan perempuan tidak berbeda. Yang membedakan dari keduanya adalah bentuk ketaatan dan ketakwaannya saja. Selebihnya mereka diberikan kemampuan masing-masing sesuai fitrahnya.


Perintah menutup auratpun jelas seperti ayat di bawah.


"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. Al-Ahzab : 59).



Perempuan diwajibkan menutup aurat karena begitu cara mereka dimuliakan dalam Islam, maka disana jelas aturannya. Mereka dijaga dan dilindungi agar tidak menjadi santapan dan dinikmati oleh pandangan laki-laki hidung belang, dan menjaga kehormatannya, bahkan jika ada yang berani melanggar syariatNya allah tidak tanggung-tanggung mengancamnya dengan Api Neraka. 


Namun karena adanya gerakan aktivis yang menyuarakan kebebasan menyebabkan perempuan tidak mengetahui perkara tersebut. Mirisnya, banyak yang tau tetapi justru menganggapnya sebagai sebuah hambatan untuk berkarir.



Bidadari diciptakan oleh Allah dengan segala bentuk ketaatanNya. Bahkan seorang muslimah akan mendapatkan tempat lebih spesial dari bidadari dan dicemburui oleh bidadari, kenapa? Karena perempuan muslimah harus melewati berbagai ujian dari penciptanya, mentaati segala perintahnya tanpa tapi, semata hanya untuk mendapatkan SurgaNya.


Jika bidadari suci dari kesalahan, maka berbeda halnya dengan wanita muslimah yang tak lekang dari kesalahan, namun karena tekatnya kuat untuk mendapatkan surga membuatnya lebih semangat untuk mentaati segala aturanNya.


Semua itu akan berjalan jika landasannya adalah Islam. Karena hanya negara Islam (pemimpin kaum muslim) akan memahami bagaimana kewajibannya.


“Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya).” (HR Imam Al Bukhari dan Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Umar ra.). Karena tidak ada solusi yang lebih baik dari pada Islam, semua landasan dasarnya jelas tidak ada lagi keraguan di dalamnya.[MO/ia]

Wallahu a’lam bish shawab


Posting Komentar