Oleh: Eqhalifha Murad
(Analis data dan pemerhati politik Islam)

Mediaoposisi.com-Waketum DPP Golkar Rizal Mallarangeng mengatakan partainya akan mengusung Airlangga Hartarto (AHA) maju di Pilpres 2024 mendatang sebagai calon presiden. "Untuk itu kita harus solid," kata Cheli, sapaan akrab Rizal saat pembukaan Musda Partai Golkar Papua. Cheli mengajak seluruh kader menjadikan musda X sebagai momentum baru merebut kembali kejayaan Golkar.


Ketua DPD Golkar Papua Klemen Tinal mengatakan, pembaruan sedang dilakukan diantaranya tidak memungut biaya pendaftaran kepada kader maupun bukan kader yang ingin maju dalam pilkada di 11 kabupaten. Golkar Papua akan memberikan dukungan sepenuhnya sehingga calon tidak perlu meminta dukungan langsung ke DPP Golkar.


Proses pemberian dukungan yang dilakukan tanpa mahar itu dilakukan secara prosedur, terang Klemen yang juga menjabat Wagub Papua. Hal ini mengkonfirmasi beberapa hal: pertama, Golkar merupakan salah satu partai politik peninggalan era Soeharto yang eksis dalam 3 periode, mulai periode akhir ORLA, ORBA dan Reformasi.


Partai Golongan Karya (Partai Golkar), sebelumnya bernama Golongan Karya (Golkar) dan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Berdiri pada akhir pemerintahan Presiden Soekarno, tapi kemudian menjadi salah satu yang menyerangnya. Tepatnya 1964 oleh Angkatan Darat untuk menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia. Sekber Golkar berubah menjadi Golkar dan menjadi salah satu organisasi peserta Pemilu.



Kedua, dalam Pemilu 1971 (Pemilu pertama dalam pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto), Golkar tampil sebagai pemenang. Dan terus berulang pada Pemilu-Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 (masih periode ORBA). Ini bisa terjadi karena pemerintahan Soeharto membuat kebijakan-kebijakan yang sangat mendukung kemenangan Golkar, salah satunya peraturan monoloyalitas PNS. 

Setiap PNS wajib mencoblos partai berlambangkan pohon beringin ini, dengan logo nomor 2. Dan peraturan tentang netralitas PNS kepada pemerintah yang sedang berkuasa. Inilah yang disebut jimat kekuasaan partai berwarna kuning ini.

Ketiga, setelah Soeharto turun dan reformasi bergulir, Golkar berubah menjadi Partai Golkar. Dan untuk pertama kalinya mengikuti Pemilu tanpa ada bantuan kebijakan-kebijakan yang berarti seperti sebelumnya pada masa Soeharto. Pemilu 1999 pada masa Presiden Habibie, perolehan suara Partai Golkar turun menjadi peringkat kedua setelah PDI-P.

Periode ORBA Golkar selalu nomor satu dalam pemilu. Turunnya Soeharto mempengaruhi perolehan suara Golkar dimasa Reformasi. Anak-anak Soehartopun keluar dari Golkar karena jualan Soeharto sudah tidak laku. Kemudian mendirikan Partai Berkarya dibawah pimpinan Tommy Soeharto.

Keempat, ketidakpuasan terhadap pemerintahan Megawati Soekarnoputri menjadi salah satu sebab para pemilih di Pemilu 2004 kembali memilih Partai Golkar, selain partai-partai lainnya seperti Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan lain-lain. Partai Golkarpun memenangkan Pemilu 2004 dengan meraih 24.480.757 suara atau 21,58% dari keseluruhan suara sah.

Baca juga: Ilusi Patriarki Women`s March 2020
Kemenangan tersebut merupakan prestasi tersendiri bagi Partai Golkar. Karena pada Pemilu 1999, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan mendominasi perolehan suara, Partai Golkar peringkat kedua. Dan Pilpres 2019 lalu Golkar berkoalisi dengan PDIP mengusung Jokowi-Ma'aruf.

Partai Politik Dalam Sistem Islam

Dalam Islam partai politik bertujuan untuk menegakkan hukum-hukum Islam melalui kekuasaan. Tapi kekuasaan bukanlah menjadi tujuannya, lain halnya dalam sistem Demokrasi. Parpol dijadikan kendaraan untuk mencapai nafsu berkuasa. Tidak ada musuh yang abadi dalam demokrasi, yang ada adalah kepentingan pribadi. Terserah saja caranya, mau sikut kanan kiri, yang jelas sangat identik dengan suap, KKN bahkan ABS (Asal Bapak Senang).

Partai politik dalam sistem Islam didirikan semata-mata ingin memenuhi perintah Allah dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 104: " Dan hendaklah ada diantara kamu, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar (berdakwah) merekalah orang-orang yang beruntung.


" Jadi fokus aktivitasnya adalah dakwah, memperjuangkan sistem Islam yang akan ditegakkan oleh negara. Negara yang mempunyai sistem Islam ini mempunyai politik luar negeri yang khas yakni jihad dan dakwah Islam keseluruh dunia. Nama sistem itu adalah Khilafah.


Khilafah VS Demokrasi


Namun tujuan akhir parpol dalam Islam bukanlah khilafah tapi melanjutkan kembali  kehidupan Islam, menyebarluaskan dakwah Islam kepenjuru dunia. Dimana pemerintahan merupakan thariqah untuk mewujudkan semuanya. sehingga manusia dan alam semesta mendapatkan rahmat sang Pencipta melalui penerapan Syari'ahNya.

Para kader Parpol bekerja berdasarkan kesadaran hubungannya dengan Allah, Sang Penguasa yang sebenarnya dibumi ini. Parpol yang selalu melaksanakan kewajibannya memuhasabahi penguasa.


Sedangkan Demokrasi meniscayakan kepentingan golongan diatas segalanya, asal dapat kebagian kue kekuasaan, pemimpin tidak amanah atau keluar dari Syari'at Sang Penguasa Dunia mereka tidak peduli. Semua itu adalah pengejawantahan dari diterapkannya faham Sekularisme Kapitalis Demokrasi. 


Saatnya Parpol lebih mengarahkan visi misinya kedalam aktivitas yang ideologis. Begitu juga dengan Parpol Islam yang mengusung aspirasi yang berbau Islami. Bahwa berjuang didalam sistem yang tidak Islami sama saja seperti membakar kapas alias sia-sia, asapnya tidak kelihatan pun wujud dan baunya tak berbekas.   


Sistem Demokrasi yang membutuhkan biaya tinggi juga membuat partai politik dalam sistem ini bekerja berdasarkan hitungan untung rugi. Sedangkan sistem Khilafah akan menciptakan kader parpol yang bekerja berdasarkan kesadaran akan dakwah semata-mata memperjuangkan hak Allah diatas bumi berupa penerapan hukum-hukum Syari'ah Islam. Wallahu 'alam. [Mo.db]

Posting Komentar