Oleh : Fitriani, S.Sos
(Sekretaris Desa)


Mediaoposisi.com-Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang mempelihatkan seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) digerayangi paksa tiga temannya. Video yang merekam dugaan perundungan dan pelecehan seksual itu diduga terjadi di Sulawesi Utara

Tim Siber Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Sulut pun menelusuri video tersebut. Hasilnya, setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian, ternyata video tersebut memang benar terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow.


Kemudian  ditetapkan 5 orang tersangka oleh Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abbast mengatakan, "Dari lima tersangka, tiga orang laki-laki, dua perempuan inisialnya PL, NP, RM, NR, dan PN.


Ini  bukan satu-satunya kasus kenakalan pelajar, sebut saja kasus SM, kasus Audrey yang kasusnya sempat viral di jagat dunia maya.  Remaja (pelajar) yang melakukan kekerasan di tanah air juga tak pernah surut dengan beragam kasus. 


Memukuli guru sampai menjadi anggota gang motor yang membegal korban. Indonesia darurat kekerasan remaja. Mereka adalah pelaku sekaligus korban. Pelakunya remaja dan korbannya juga remaja. Ini belum termasuk cyberbully.


Miris memang ketika kita melihat angka kenakalan remaja yang begitu tinggi. Terus meningkatnya presentase kerusakan yang terjadi pada anak bangsa ini bagaikan bola salju yang terus-menerus menggelinding, yang menjadikannya semakin membesar dari waktu ke waktu. Apa yang menjadi penyebabnya?Apakah orang tua? Guru ? Sekolah?


 Saat ini pendidikan di Indonesia begitu melekat berbagai bentuk pendidikan yang berbasis kebebasan dengan orientasi materi/duniawi semata. Tidak heran dari sini, maka tumbuhlah pendidikan-pendidikan yang kering dari nilai-nilai agama, campur baur antara pelajar lelaki dan wanita, seragam yang menampakan aurat dan kurikulum-kurikulum yang tidak menyentuh ruhani begitu dominan dalam dunia pendidikan mereka, adab terhadap guru luntur ditelan gaya hidup bebas.


Sistem pendidikan yang diterapkan dalam institusi pendidikan saat ini adalah sistem pendidikan sekuler. Kurikulum yang diterapkan merupakan kurikulum sekuler yang pondasinya adalah memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, materi dan metode pengajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam didesain untuk menjadikan Islam sebagai pengetahuan belaka, ini di satu sisi.  


Di sisi lain, jam mata pelajaran pendidikan agama dirancang sangat minimalis, tiga hingga empat jam sepekan. Agama tidak dijadikan pondasi dalam mendidik pelajar. Pelajar muslim jauh dari islam. Akibatnya, Allah SWT dipahami sebatas gagasan kebaikan sebagaimana pandangan Barat terhadap konsep ketuhanan. 


Para pelajar tidak akan sampai pada pemahaman konsep keridhoan Allah SWT sebagai standar kebahagiaan tertinggi yang harus diraih. Aspek kemashlahatan tetap menduduki posisi lebih tinggi daripada konsep halal haram dalam menstandarisasi aktivitas. Di samping itu, Islam hanya dipahami sebagai agama yang mengatur urusan akhirat, bukan sebagai sistem kehidupan yang mengatur dan memberikan solusi atas setiap persoalan kehidupan manusia.


Selain itu output dari pendidikan sekuler ini adalah menghasilkan generasi yang gersang akan iman tapi generasi sekuler yang menjadikan materi adalah segalanya. Remaja didik untuk siap bersaing dalam dunia kerja sehingga mereka bisa hidup mandiri dan memiliki penghasilan (income) dalam rangka memenuhi kebutuhan (konsumtif) dan saving. Makanya sekolah keterampilan/ kejuruan marak di berbagai penjuru daerah. 


Arah pendidikan dikalangan remaja yang hanya disiapkan untuk memiliki keterampilan dan kesiapan masuk dunia kerja yang gersang dari pembentukan karakter kepribadian islam yang tangguh dan mandiri. Remaja bukan disiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan yang terjadi adalah pendidikan dijadikan sebagai “pabrik buruh” yang mencetak para buruh murah yang menjadi “budak” kapitalis.


Adapun di dalam Islam, negara akan berfungsi sebagai pilar utama dalam pendidikan anak. Negara akan membuat kurikulum pendidikan yang berdasarkan pada akidah Islam. Dengan kurikulum itulah negara akan mencapai tujuan pendidikan yang hakiki, yaitu melahirkan individu-individu yang bersyaksiyyah Islam (pola pikir dan pola sikap Islam) dan bertaqwa. 


Penerapan sistem pendidikan islam, menyibukan anak didik untuk haus ilmu. Anak-anak usia SD-SMP-SMA adalah anak yang sedang giat-giatnya belajar. Waktunya habis untuk belajar, menghafal al-qur’an, membantu orang tua, menggali potensi diri dan boleh jadi berlatih berdikari dengan usaha kreatif. Anak-anak ini berada dalam pendidikan berkualitas. 


Tidak ada ruang untuk anak bermain-main dengan dorongan syahwat. Sebab mereka ditanamkan aqidah yang kokoh.  Terbentuklah generasi Rabbani yang memikirkan ukhrowi, bukan sekedar kesenangan duniawi. 


Dalam pendidikan Islam juga, segala sesuatu akan senantiasa menjadikan syari'at Islam sebagai satu-satunya tolak ukur keilmuan yang lain. Tanpa ada paksaan untuk menjadi "sesuatu" ataupun "menghasilkan sesuatu". Segala kebaikan akhlaq, kecerdasan, tata krama, daan hal-hal baik lainnya akan menjadi buah dari sistem pendidikan Islam karena menyentuh pondasi dasarnya yakni aqidah. 


Hal ini bisa ditemukan di masa Imam Bukhori salah satunya. Pada usia 18 tahun, Bukhori sudah mampu menerbitkan kitab pertama Kazaya Shahabah Watabiin padahal sejak lahir ia telah kehilangan penglihatannya. 


Sudah waktunya kita berpaling dari sistem pendidikan sekuler, kembali pada Islam yang telah Allah jadikan sebagai solusi bagi setiap permasalahan kaum muslimin.[MO/ia] 

Wallahu'alam bisshowab.





Posting Komentar