Oleh : Qonita
 (Mahasiswi Unair)


Mediaoposisi.com-Pernyataan kontroversial tentang Pancasila akhir-akhir ini  dilontarkan. Salah satunya yang dilontarkan oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudian Wahyudi saat wawancara dengan tim Blak-blak an Detik.com, “Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama, bukan kesukuan,” kata Yudian Wahyudi



Pernyataan tersebut nampak sangat tendensius dan menimbulkan banyak pertentangan. Banyak kalangan politikus menganggap pernyataan tersebut berbahaya dan menyesatkan. Dari penyataan tersebut yang menempatkan agama sebagai musuh terbesar Pancasila tentu menyakiti hati umat Islam.


Isu mengenai Pancasila yang dibenturkan dengan agama sendiri sebenarnya bukan satu-satunya isu di negeri ini. Di negeri-negeri Islam yang lainnya pun dasar negara nasionalistik yang serupa juga ada, hanya dengan nama yang berbeda. Ini merupakan upaya untuk menghindari agama dijadikan asas negara. 



Sehingga masyarakat teralihkan pada asas negara yang seolah merupakan kesepakatan semua pahlawan negara terdahulu sehingga paling tepat dijadikan basis negara, tanpa peduli apakah itu asas yang benar atau tidak berdasarkan akidah Islam yang masyarakat yakini. Akibatnya, islam hanya dicukupkan sebagai agama spiritual saja. Inilah sekulerisasi umat Islam dengan dalih menyatukan pendapat dan toleransi.


Meskipun dengan istilah yang berbeda tetapi isu mengenai asas negara dibenturkan dengan agama ini semua sama intinya.  Sejarah pancasila itu sendiri lahir dari Bapak Soekarno yang dari tahun 1930-an sering memojokkan syariat dan mengkritik islam sebagai ideologi. \



Begitu pula dengan bapak perumus yang lain seperti Moh. Yamin, Soepomo yang sekuler, dan pejuang islam yang menyampaikan ide tersebut pun bukan berasal dari dalil tetapi dari kepentingan bersama dan pandangan nasionalis yang tidak ada akarnya dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadis.



Lebih jauh dari itu, Pancasila ini merupakan bentuk perpanjangan dari penjajahan, supaya masyarakat tetap bisa dijajah tetapi bukan dengan fisik melainkan dengan bentuk pemikiran yang mempengaruhi penerimaan, penolakan, keputusan dan tingkah laku umat Islam negeri ini. Kita hari ini tidak ditodong senjata, tapi dirayu logika sesat tak berbasis wahyu. Seolah semua benar, padahal jauh dari apa yang Allah ridhoi. 



Lebih parah, penjajahan pemikiran ini membuat kita puas mengimani Pancasila sebagai ideologi final negara tanpa kita merasa perlu mengecek ridho atau murka Allah atas keyakinan kita itu. Al-Quran ayat mana yang membuat kita menganggap Pancasila sebenar itu? Hadis shahih yang mana yang membuat kita yakin dasar negara ini harus Pancasila? Pendapat mujtahid mu’tabar mana yang kita ikuti saat mengimani pernyataan itu? Itulah keberhasilan penjajahan sekuleristik dalam Pancasila. 



Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang sebenarnya diupayakan oleh pejuang islam didalam Piagam Jakarta? Piagam yang menjadi basis negara yang disepakati panitia PPKI sebelum akhirnya dibatalkan dalam semalam dan diganti dengan Pancasila. Jawabannya yakni untuk bisa diterapkan islam di negeri ini, meskipun hasil kompromi pejuang Islam dengan tokoh-tokoh sekuler hanya dapat mengupayakan penerapan islam bagi pemeluknya di sila pertama. Akan tetapi kesepakatan tersebut masih dikhianati. 


Di malam keputusan itu, tokoh Islam panitia 9 yang berjuang merumuskan Piagam Jakarta dengan segala sikap mengalah mereka dari awal malah tidak diundang! Padahal alasannya hanya utusan dari Indonesia timur tidak terima dengan sila pertama. Siapa mereka? Sekuat apa mereka mewakili suara Indonesia Timur? 



Apakah benar seberpengaruh itu suara mereka sehingga pasti akan lepas dari Indonesia saat Piagam Jakarta tetap disahkan? Terlihat jelas, Pancasila adalah kekalahan pejuang Islam dari pejuang sekuler yang mengkhianati mereka. Sejarah ini ada di semua buku sejarah dan IPS. Silakan cek sendiri.


Sehingga menjadi pertanyaan bagi kita, setelah mengetahui sejarah yang demikian dari pancasila, kemudian atas dasar apa Pancasila dijadikan asas negara yang dikatakan mengakomodir kepentingan seluruh rakyat?


Semua ini menjawab pernyataan Yudian. Bagaimana bisa Islam dibandingkan dengan Pancasila? Apalagi bila yang disindir dan digarisbawahi adalah Islam politis ideologis yang membuat seorang calon gubernur kafir batal mendapatkan jabatan yang diangankan. Tentu kita sebagai umat Islam wajar bahkan harus merasa geram dengan pernyataan berisi hinaan ini. 



Apalagi bila pernyataan tersebut ditujukan membuat umat Islam galau, bingung memilih antara islam atau pancasila. Jelas, standar kita sebagai muslim adalah Al-Quran dan As-Sunnah, bukan pancasila atau hasil pemikiran manusia manapun yang tidak sesuai dengan syahadat kita. Sesuai dengan ayat dalam surah Al Baqarah ayat 2:


ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ



“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” Dan untuk selamat didunia bukan pancasila yang dijadikan pedoman yang bahkan isinya bukan berasal dari wahyu melainkan perkataan manusia. Akan tetapi Al-Quranlah yang harus dijadikan asas negara karena tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk keselamatan dunia akhirat bagi orang bertakwa dan jalan rahmat bagi seluruh manusia.



Sebagai umat islam jangan sampai kita didoktrin tapi harus mengecek dengan sesuatu yang benar. Apakah dengan menggunakan pancasila sebagai asas kehidupan dapat menyelamatkan kita di dunia. Jika ingin peduli kepada nasib negara alangkah baiknya kita jalankan negara sesuai Al-Quran dan As-Sunnah yang benar yang dapat dijadikan petunjuk hidup dan dapat menjadi petunjuk untuk membangun negara. 


Jujur bahwa pancasila itu bukan wahyu dari Allah dan tidak bisa dijadikan asa negara.  Dan kembali yakin bahwa Al-Quran dan As-Sunnahlah yang dapat dijadikan asas dasar negara yang menyelamatkan negeri ini dari seluruh masalah yang menghantuinya.[MO/ia]







Posting Komentar