Oleh: Putri Sarlina 
(Aktivis Muslimah Dakwah Comunity UINSU)



Mediaoposisi.com-Peran perempuan dalam masalah kesetaraan yakni hal pendidikan nampak nya masih belum merata. Padahal tingkat keinginan untuk naik kejenjang pendidikan selanjutnya begitu tinggi pada kaum wanita. 


Namun persoalan-persoalan yang mengakar dalam budaya setempat seperti mitos-mitos, berbeda nya perlakuan antara perempuan dan laki-laki juga permasalahan ekonomi akhirnya membuat ketidakpercayaan diri sebagian pihak, perempuan dipaksa mundur menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.
            

Di Indonesia, alasan ekonomi kerap menjadi hambatan bagi perempuan untuk melanjutkan studi. Berbagai kepelikan yang dialami perempuan saat berupaya mengecap pendidikan pun mengakibatkan lebih kecilnya angka perempuan yang meraih gelar doktor dibanding laki-laki.
            

Survei Pusat Data dan Statistik Pendidikan (PDSP) Kemendikbud tahun 2013 menunjukkan bahwa persentase pengajar perempuan perguruan tinggi sebesar 40,58%, sementara pengajar laki-laki perguruan tinggi sebesar 59,42%. Anggapan “ perempuan hanya bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga” membuat sebagian perempuan kurang termotivasi mengambil pendidikan lebih tinggi.
            


Kerikil-kerikil yang menghambat perempuan untuk masuk di ranah pendidikan dari sisi luar sekolah atau kampus. Di dalam institusi pendidikan sendiri, ada hal lain yang mesti siap di hadapi perempuan di tengah dominasi budaya patriarkis ini.
            

Hambatan lain yang dihadapi perempuan dalam karirr akademisi. Rektor UIN Jakarta, Dede Rosyada, membuat kebijakan yang menuai kontroversi yaitu melarang perempuan bercadar untuk mengajar di kampusnya. Alasannya adalah cadar menghalangi komunikasi antara dosen dengan mahasiswa.  Berbeda dengan pengamat pendidikan, Budi Trikoryanto yang memandang bahwa kebijakan itu  dinilai berlebihan.
            

Belum lagi kondisi yang cukup miris di rasakan oleh perempuan akademisi yang mendapatkan pelecehan seksual di institusi pendidikan. Hal ini di buktikan dari jurnal Psycology of Women Quarterly, dinyatakan bahwa sebesar 58% perempuan di ranah akademis pernah mengalami pelecehan di tempat kerja.
            

Di Indonesia, faktor ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakan oleh kaum perempuan. Padahal, menurut psikolog Pendidikan Raky Martha, pendidikan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya.
            


Meski secara global, sepanjang 25 tahun BPFA 1995 sudah banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan, namun masalah-masalah kekerasan masih sangat rentan dialami perempuan. Karenanya, menjamin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di masyarakat bukan solusi akan adanya perlindungan dan penghormatan bagi perempuan.
            


Perlakuan terhadap perempuan bergantung pada pandangan dan nilai yang disebarkan di tengah masyarakat mana pun terkait nilai dan martabat perempuan itu sendiri. Di dalam masyarakat liberal kapitalis, terdapat kontradiksi antara seruan untuk menghormati perempuan dengan konsep kebebasan pribadi dan seksual yang memupuk pola pikir di dalam benak banyak laki-laki untuk memandang dan memperlakukan perempuan sesuai keinginan mereka.
            

Maka pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu mayarakat harus dijamin pemenuhannya per individu secara sempurna termasuk dalam hal pendidikan, juga menjaga martabat dan kemuliaan kaum perempuan bukan hanya dalam hal pendidikan tetapi juga dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini hanya akan di dapati jika pandangan masyarakat di ubah menjadi pandangan yang sesuai dengan islam yang hanya terwujud ketika islam di terapkan secara kaffah.[MO/ia]
           

           

Posting Komentar