Desi Dian S., S.I.Kom


Mediaoposisi.com-Melalui program pemberdayaan perempuan kepala keluarga, pemerintah provinsi Jawa Tengah berusaha mengejar penurunan angka kemiskinan dari berbagai sektor. Hal ini terjadi karena angka kemiskinan yang ada di Jawa Tengah sangat dipengaruhi dengan adanya perempuan kepala keluarga yang mencapai 40%.


Perempuan kepala keluarga adalah sebutan bagi para perempuan yang terpaksa menjadi kepala keluarga sebab adanya faktor pernikahan dini dan perceraian. Jawa tengah sebagai provinsi yang terbanyak menurunkan angka kemiskinan secara nasional di tahun 2018 kini men-Pemberdayaan perempuan kepala keluarga dilakukan dengan memberikan pelatihan literasi membentuk kelompok simpan pinjam serta mendukung usaha kecil sehingga mampu mengentaskan kemiskinan. 
\

Dilansir dalam jatengprov.go.id  (11 -02-2020), Gubernur Ganjar Pranowo tercatat sukses menurunkan angka kemiskinan terbanyak secara nasional pada 2018. Perlu diketahui bahwa kemiskinan adalah permasalahan yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia menurut data Bappenas pada 2019 terdapat 9,4 juta penduduk Indonesia masih miskin kronis sangat miskin.



Sedangkan dalam stategi pembangunan pengarusutamaan gender perempuan diharapkan mampu berperan secara aktif agar mendapatkan posisi yang setara dengan laki-laki. Hal ini telah lama disinggung oleh Sri Mulyani selaku menteri keuangan menuturkan bahwa ketidak setaraan gender mengakibatkan dampak negatif dalam berbagai aspek pembangunan mulai dari ekonomi sosial pertahanan keamanan. 


Hal ini ia sampaikan saat memberikan keynote speech dalam acara "Voyage to Indonesia’s Seminar on Women’s Participation for Economic Inclusiveness" di Surabaya, Kamis (2/8/2018).


Oleh sebab itu, perempuan harus diberikan akses, partisipasi, kontrol manfaat dalam proses pembangunan yang sama dengan laki-laki. Hal tersebut diamini oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana yembise yang mengatakan bahwa kondisi perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan namun posisi status perempuan masih menghadapi hambatan di berbagai bidang pembangunan dalam indeks pembangunan gender Indonesia adalah 92,6 sementara rata-rata di dunia adalah 93,8.


Yohana menyoroti bahwa sektor yang menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan adalah bidang pendidikan. menurut data badan pusat statistik rata-rata perempuan di Indonesia hanya berpendidikan sampai kelas 7 atau kelas 2 SMP hal ini berdampak pada tingkat partisipasi perempuan yang masih jauh di bawah laki-laki. Di mana perempuan menempati posisi 50 sedangkan laki-laki 83 perempua


Sisi Lain Kesetaraan


Jika wilayah di jawa tengah mulai serius memberdayakan perempuan, lain lagi dengan Lombok timur NTB yang  merupakan pengirim terbesar TKI di Indonesia. Dalam satu desa saja terdapat 350 anak yang terpisah dari orang tua. 


Di tahun 2015 menurut penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah.


Lombok Timur tercatat sebagai kabupaten pengirim tenaga kerja terbesar ke luar negeri dengan jumlah 15.000 lebih pada 2016 berdasarkan data pemerintah setempat. Lemahnya perekonomian di Desa Lenek Lauk, kurangnya lapangan kerja sehingga mereka pergi ke luar negeri, ungkap salah seorang kepala desa di wilayah lombok timur.


Para buruh migran adalah pengerak perekonomian di lombok timur dimana menurut Bupati Lombok Timur Mochamad Ali bin Dachlan, setiap tahun mereka mengirimkan uang dalam jumlah besar untuk sebuah kabupaten yang miskin.


Mochamad Ali  menambahkan Pada 2016, jumlah remitensi tercatat Rp820 miliar, belum termasuk uang yang dikirim pulang tanpa melalui bank, misalnya lewat teman atau tetangga yang pulang," Tahun sebelumnya 2015 jumlah kiriman TKI ke Lombok Timur Rp966 miliar.


Dibalik Ide Kesetaraan


Bicara mengenai kesetaraan yang diusung oleh barat maupun kelompok kelompok feminis, perlu disadari bahwa fokus utama dari narasi tersebut adalah materi. Dimana peran perempuan di sini hanya sebagai pendongkrak ekonomi. Perempuan akan disebut berdaya ketika mampu menghasilkan materi sehingga perempuan di tarik untuk masuk ke dunia kerja dan bersaing dengan laki-laki.



Apalagi upah perempuan juga lebih rendah dari laki-laki sedangkan produktifitas perempuan lebih tinggi sangat disukai oleh para pemilik modal. Padahal perempuan memiliki angka produktivitas lebh besar 3x lipat dari laki-laki. Hal ini diungkapkan dalam refleksi 25 tahun pelaksanaan Beijing platform for action  (BPFA). Nampak jelas ketidakadilan dalam ide gender tersebut saat produktifitas yang dilakukan oleh perempuan tak bernilai apa-apa dalam dunia kerja.


Sampai kapanpun perempuan bak sapi perah dalam sistem yang hanya menilai manusia dari asas manfaat semata. Jika hari ini muncul Kemiskinan sistemis pada jutaan perempuan dan  dikaitkan pengarus utamaan gender (PUG) tanpa sadar justru menghasilkan masalah baru  yang justru merusak ketahanan keluarga. Sebut saja ketika perempuan merantau ke negeri sebrang untuk menjadi buruh migran, maka tugas dan peran dia menjadi seorang ibu ditingalkan begitu saja. 


Akibatnya anak bisa terlantar atau terjerumus masalah. Ketahanan keluarga dipertaruhkan untuk keuntungan para kapital. Apalagi narasi  pengetasan kemiskinan yang terus digaungkan bukan berarti menerjunkan perempuan secara langsung dan bersaing dengan laki-laki dalam segi materi. Hal ini justru malah menghancurkan tatanan keluarga, ikatan keluarga menjadi ringkih dan mudah goyah. Apalagi ketika perempuan berhasil sukses menjadi wanita karir yang berpenghasilan.


Menurut hasil penelitian terbaru di Swedia menyebutkan bahwa semakin tinggi karir perempuan  mencapai jabatan CEO maka menjadi rumah tangganya makin rapuh dan banyak yang berujung pada perceraian apakah ini yang diinginkan oleh kesetaraan gender ? Kesetaran gender tidak pernah memuliakan perempuan namun ingin menarik manfaat ekonimi semata.


Solusi Islam vs Solusi Barat


Jika ide gender terus digaungkan oleh negeri barat, islam punya cara lain dalam menyikapi potensi perempuan. Adapun Islam, yang aturan-aturannya menjamin kesejahteraan hakiki pada peran laki-laki dan perempuan.


Perempuan memiliki tugas utama sebagai pencetak dan penjaga generasi, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah tangga berjalan dengan baik dan sempurna, Islam telah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dengan menetapkan beban nafkah dan peran sebagi kepala keluarga ada pada pundak suami, bukan pada perempuan. 


Sehingga dia tidak usah bersusah payah bekerja ke luar rumah dengan menghadapi berbagai resiko sebagaimana yang dialami perempuan-perempuan bekerja dalam sistem kapitalis sekarang ini.


Mengatur rumah tanga dan melahirkan dan membesarkan generasi berkualitas yang akan menjadi penerus bangsa. Tanpa dibebani urusan mencari nafkah sehingga keluarga terurus sebagaimana mestinya sebab masing-masing anggota keluarga memerankan tuganya.[MO/ia]

Posting Komentar