Oleh : Adriani
(Aktivis Dakwah Islam)


Mediaoposisi.com-Kemiskinan adalah salah satu masalah  yang ingin di berantas oleh semua negara beda negara beda penyelesaian, namun ketika kemiskinan di kaitkan dengan kesamarataan  perempuan dengan laki-laki maka, itu adalah sesuatu hal yang berbeda. 


Bagaimana mungkin masalah kemiskinan bisa di diselesaikan hanya dengan memberikan hak perempuan sama dengan hak laki-laki. Padahal masalah kemiskinan ini memiliki banyak faktor yang mempengaruhi baik dari segi pengelolaan sumberdaya alam , tidak tersedianya lapangan kerja, banyaknya infestor asing dll. 

Pemerintah sudah berhasil menekan angka kemiskinan hingga menjadi 8,5 hingga 9,5 persen pada 2019. Penurunan ini, menurut dia, cukup drastis sebab pada Maret 2018, prosentase kemiskinan masih mencapai 9,82 persen. Bambang menjelaskan salah satu faktor pemicu penurunan angka kemiskinan itu adalah peningkatan upah riil buruh tani dan nilai tukar petani selama Maret-September 2018. 

Baca Juga: Kriminalitas Cilik Problema Akut Generasi Sekuler

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), garis kemiskinan pada September 2018 tercatat  sebesar Rp410.670/kapita/bulanRinciannya: komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp302.022 atau 73,54 persen, serta garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp108.648 atau sebesar 26,46 persen.


Lantas bagaiamana dengan manfaat ekonomi dalam pemberdayaan perempuan?? Menteri Keuangan Sri Mulyani serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise memberikan keynote speech dalam acara "Voyage to Indonesia’s Seminar on Women’s Participation for Economic Inclusiveness" di Surabaya, Kamis (2/8/2018). 


Seminar ini memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholder, baik dari dalam maupun luar negeri untuk membahas, bertukar pandangan, dan pengalaman tentang manfaat ekonomi bagi pemberdayaan perempuan. 


Disisi lain berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk.


Inilah bentuk salah  kaprah sosok perempuan dalam sistem kapitalis sekuler hari ini, salah memaknai fitroh sebagai perempuan. Dan menjadikan peran perempuan beralih fungsi sebagai mana mestinya bukan solusi yang di dapatkan tapi bukti kegagalan pemerintah menagani masalah kemiskinan. Kaum perempuan cenderung lebih lemah dari segi penciptaan, bentuk tubuh, dan tabiatnya. 

Baca Juga: Pepesan Kosong Solusi Kesetaraan Gender Mengentaskan Kemiskinan

Perempuan harus mengalami haidh, hamil, melahirkan, dan menyusui. Wanita adalah bagian dari lelaki, serta perhiasan baginya. Adapun kaum lelaki lebih sempurna dalam hal penciptaannya dan kekuatan alaminya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan lelaki itu tidaklah sama seperti perempuan” (QS. Ali Imran: 36).


Ketahuilah, bahwasanya yang diberi tanggung jawab menafkahi keluarga adalah lelaki, bukan Perempua. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS. Al-Baqarah: 233)



Perempuan memiliki peran yang lebih besar dalam mengasuh anak. Karena Perempuanlah yang melahirkannya, kemudian menyusuinya selama dua tahun, sebagaimana firman Allah (yang artinya), ”Dan hendaklah para ibu menyusui anaknya dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS. Al-Baqarah: 233).


Maka tidak akan penyelesaian dalam sistem kapitalis sekuler hanya menjadikan semua hal itu menjdi sebuah manfaat bagi penganutnya, sampai tidak akan disisahkan sedikitpun bagi mereka, karena hanya untuk memberikan keuntungan sebagaian pihak dan sebagaian pihak lain dirugikan.


Alih-alih menyelesaikan kemiskinan malah akan memberikan masalah baru bagi generasi kedepanna ketika mereka harusnya dididik dengan baik tapi malah los pendidikan karena yang mendidiknya sibuk dengan mencari nafkah akhirnya muncullah generasi-genarisi keras, psikopat, haus kasih sayang, begal dll.


Hanya islam yang mampu menempatkan posisi perempuan, karena dalam islam sangat menjaga fitroh manusia baik itu sebagai laki-laki maupun sebagai perempuan, tidak akan ada penyamarataan laki-laki dan perempuan sebab semuanya sudah ditempatkan pada posisinya masing-masing baik itu laki-laki sebagai pemimpin kelauarga dan perempuan sebagai ummu warobatul bait. 

Baca Juga: Mengulik BPJS, Antara Ada Dan Tiada

Namaun keinginan untuk menempatkan perempuan dalam posisinya tidak akan mungkin diterapkan dalam sistem hari ini karena penerapan islam, bisa digunakan hanya ketika menerapka aturan islam dengan khilafa islam.[MO/ia]


Wallahualam bishowab .

Posting Komentar