Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Mediaoposisi.com-Siapa yang tidak bergidik saat melihat sebuah foto seorang wanita secara vulgar menunjukkan foto seluruh tubuhnya tanpa selembar kain pun yang menutupinya. Aksi ini membuat masyarakat memiliki persepsi yang berbeda atas foto tersebut. Banyak yang menyayangkan aksi sang artis tersebut dengan dalih kampanye anti body shamming akhirnya rela mengorbankan kemulianan dan kehormatannya di depan umum.


Wanita tersebut adalah seoramg  aktris berusia 29 tahun yang bermaksud mengajak orang-orang untuk lebih percaya diri dan mencintai tubuh masing-masing apa adanya.Tara Basro menjelaskan bahwa foto bugilnya merupakan satu kampanye yang mengandung ajakan kebaikan kepada seluruh wanita bahwa mereka harus mencintai tubuh mereka sendiri tanpa syarat. 



Apakah tubuh itu sempurna dengan keindahan ataupun banyak kekurangan yang terbentuk akibat alami ataupun  pasca melahirkan yang biasa terjadi pada wanita umumnya.



Sebagai seorang artis pasti lebih menyadari bahwa dirinya adalah public figure yang mampu mempengaruhi orang lain. Jalan kampanye yang diambilnya justru dapat menjatuhkan harga diri dan kemuliaannya sebagai wanita. Sebagai wanita cerdas tentu masyarakat akan lebih mengapresiasi tindakan dan cara yang lebih elegan dan menentramkan dibandingkan dengan aksi bugilnya. 



Menyampaikan sebuah pesan kepada khalayak umum yang ditujukan bagi kaum wanita dalam mencintai tubuhnya sendiri, tidak harus dengan berpose yang berbau pornografi. Pro dan kontra tentu akan terjadi Karena konteks seni, bugil, konsumsi umum semua memiliki versinya masing-masing.  Namun yang pasti Islam melarang perbuatan tersebut, karena melanggar syariat Allah, jelas idak ada lagi batasan aurat yang wajib dilindungi seorang wanita di dalamnya.


Gempuran feminisme yang sedang terjadi saat ini sudah semakin tidak terkendali. Bagaimana sistem rusak liberalisme telah mengacak-acak pemikiran wanita muslim dan non muslim di dunia. Apalagi kalau bukan atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) sebagai akar kebebasan berekspresi dibenarkan asalkan tidak mengganggu orang lain.  


Sungguh mengerikan jika racun-racun pemikiran tersebut terus menerus dipahami sebagai jalan pembenaran bagi kaum generasi muda yang akan datang. Seperti hal nya kampanye lewat foto bugil. Pornografi jadi dianggap seni yang kebablasan. Para wanita tidak menyadari bahwa mereka sedang dipermalukan pikirannya agar menerima konsep liberalisme barat yang dibawa ke negeri ini.



Namun, yang paling menyedihkan adalah, para pemimpin negeri sudah tidak berempati pada keyakinan agama masing-masing masyarakatnya. Seharusnya hal-hal yang dapat mempermalukan masyarakatnya harus mampu disikapi dengan cara bijak. 



Tetapi justru malah menguatkan kondisi ketidaknyamanan masyarakat atas perilaku tersebut, seperti yang disampaikan  oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate yang menegaskan pose artis Tara Basro saat mengkampanyekan Worthy of Love di Instagram tidak melanggar UU ITE. Menurut dia, apa yang dilakukan Tara merupakan bagian dari ekspresi seni.



Itulah bahayanya pemahaman liberalis terhadap berbagai aspek kehidupan. Berbagai ranah telah "babak belur" dijadikan satu visi yang justru merusak akidah umat manusia. Apalagi terkait aurat sebagai kehornatan wanita yng harus dijaga bukan diumbar- umbar ke publik.



Dalam Islam Allah swt telah memgatur bagaimana batasan aurat wanita, dan mana saja aurat yang boleh ditampakkan ataupun tidak boleh ditampakkan, Allah swt berfirman:



﴿وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ﴾



“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum baligh.


Semua orang yang disebutkan di dalam ayat tersebut boleh melihat anggota-anggota tubuh wanita yang termasuk mahramnya berupa rambut, leher, tempat gelang tangan [pergelangan tangan], tempat gelang kaki [pergelangan kaki], tempat kalung, dan anggota-anggota tubuh lainnya yang biasa menjadi tempat melekatnya perhiasan.


Maka jika Allah telah menurunkan hukum seputar aurat wanita, lalu bagaimana mungkin kita melanggarnya? Bagaimana mungkin tak ada rasa kekhawatiran akan murka Allah jika kita melanggarnya? Padahal azab Allah telah menanti kita kelak. Naudzubillahimindzaliik. 


Dalam konteks ini, Pornografi yang dianggap seni malah menjadi jalan kerusakan para wanita negeri ini. Bias hukum syariat sengaja di buramkan maknanya agar mereka mendapat pembenaran dari aksinya tersebut.


Sejatinya hanya Islam Kaffah yang mampu menangkis dan menyelamatkan kaum wanita dari kerusakan feminisme liberalis yang membolehkan  melakukan apapun tanpa melihat batasan hukum syara yang berlaku. 


Dan hadirnya pemimpin umat yang amanah, akan melindungi serta menjaga kehornatan wanita dalam wilayahnya secara tegas tanpa tedeng aling-aling, bahwa syariat harus dijalankan, bahwa kebatilan harus dihilangkan dan yang benar harus ditegakkan.



Saatnya umat di pimpim oleh  sosok pemimpin dambaan umat yang menjaga kemuliaan wanita untuk dihormati dan  sebagai ibu para generasi rabbani, ibu para pendidik anak-anaknya dengan melihat tuntunan kemuliaan dari para sohabiyah yang pernah ada. 


Seperti halnya Fatimah Azzahra r.a. yang senantiasa menjaga kemuliaan dan kehormatannya dengan cara yang elegan, smart dan tetap di hargai ucapannya. Itulah tanda wanita pemikir cemerlang di masanya. Semoga kita dapat menjadi wanita yang ahlaknya seperti Fatimah r.a.  Wallahu a'lam bishawab.[MO/ia]


Posting Komentar