Oleh :  Desy Purwanti 
(Komunitas Mahasiswi Jambi)

Mediaoposisi.com-Di Indonesia, faktor ekonomi dan patriarki seolah menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan. Padahal, menurut psikolog Pendidikan Reky Martha, pendidikan dapat menjadi peluang perempuan menyejahterakan hidupnya.


Meski secara global, sepanjang 25 tahun sejak BPFA 1995 sudah banyak kemajuan pada kondisi pendidikan perempuan, namun masalah-masalah kekerasan masih sangat rentan dialami perempuan.
Laporan yang berjudul “Era Baru untuk Anak Perempuan”, merangkum kemajuan atas Beijing Declaration and Platform For Action 25 tahun.


Dalam laporan setebal 40 halaman tersebut menjelaskan bahwa, pada 1995 dunia mengadopsi Beijing Declaration and Platform For Action, agenda kebijakan paling komprehensif untuk kesetaraan gender, dengan visi mengakhiri diskriminasi terhadap wanita dan anak perempuan. Namun, 25 tahun kemudian, diskriminasi dan stereotip yang membatasi masih lazim ditemukan.


Adapun pada 2016, 70 persen korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, 1 dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan.


Muncul harapan besar bagi kaum perempuan dengan adanya Deklarasi Beijing. Deklarasi Beijing ini menegaskan tentang perlunya menerapkan pendidikan perempuan dan anak perempuan demi mencapai hak-hak perempuan dan demi setara dengan laki-laki.


Di Indonesia sendiri pendidikan untuk perempuan sudah sejak lama diperjuangkan. Raden Ajeng Kartini menjadi salah satu sosok perempuan yang dikenal gigih dalam memperjuangkan hal itu.
Namun dalam kenyataanya, pendidikan untuk kaum perempuan belum merata. 


Data-data yang ada menunjukkan bahwa kehidupan kaum perempuan masih jauh dari yang diharapkan. Tidak banyak dari kaum perempuan yang melanjutkan pendidikannya sampai ke Perguruan Tinggi. Orangtua mereka juga tidak memahami pentingnya pendidikan untuk anak-anaknya sebakai bekal dikehidupan mendatang. Terlebih sistem kapitalis yang  diambil untuk mengatur kehidupan.


Banyak dari kaum perempuan yang menjadi korban perdangan orang untuk pemenuhan nafsu orang-orang kapitalis. Selain itu, perempuan dan anak-anak perempuan juga menjadi sasaran pelecehan seksual.


Perlu disadari, Deklarasi Beijing merupakan pelestarian hegemoni Barat. Negara-negara kapitalis di dunia akan melakukan segenap upaya untuk mencegah kebangkitan Islam yang akan mengancam kepentingan-kepentingan dan ekonomi mereka. Maka untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mereka menggaungkan ide-ide feminisme keseluruh negeri Muslim melalui agenda ini.


Rezim-rezim sekuler senantiasa mempromosikan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pekerjaan demi memperoleh kehidupan yang layak. Sehingga, anak-anak perempuan yang berpendidikan akan memasuki dunia kerja dan merasa yakin bahwa ia memiliki kemampuan yang tidak rendah dari laki-laki.


Padahal, pendidikan anak perempuan adalah ide liciknya rezim sekuler. Pendidikan perempuan semata-mata dijadikan sebagai penggerak ekonomi mereka bukan untuk memberikan hak dasar akan pendidikan itu sendiri.


Pasca runtuhnya khilafah 1924, kehidupan kaum Muslim diatur dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, perempuan kerap menjadi sasaran pelecehan seksual. Kehormatan dan kemuliaan perempuan menjadi terabaikan dalam sistem ini. Media massa dan ide liberal Barat membuka ruang lebar kebebasan berekspresi. Sehingga, perempuan tidak memiliki rasa malu untuk mengumbar auratnya dengan dalih hak asasi manusia.


Untuk itu, sudah menjadi keharusan bagi negeri-negeri Islam untuk menyuarakan tentang kemuliaan perempuan dalam pandangan Islam. Bahwa kemuliaan itu akan tercapai ketika terikat pada syari’at Allah.


Di dalam Islam, laki-laki dan perempuan tidak mengatur sendiri hak-haknya, peran dan tugas mereka berdasarkan kesetaraan dan kepentingan mereka, melainkan semua itu telah diatur berdasarkan hukum Allah.


Syari’at Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam sudah sangat lengkap mengatur kehidupan umat manusia. Ketika hukum Allah diterapkan secara kaffah dalam kehidupan, tentunya akan mendapat kebahagiaan hidup di dunia terlebih lagi di akhirat kelak. Firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 59:


“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 59)


Ayat diatas menjelaskan aturan khusus bagi perempuan, yaitu aturan dalam pakaian yang menutupi seluruh tubuh perempuan. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki. Allah memerintahkan demikian agar mereka dapat selamat dari mata-mata khianat kaum laki-laki dan tidak menjadi fitnah bagi mereka. Inilah salah satu penjagaan Islam terhadap kemuliaan dan kehormatan perempuan.[MO/ia]

Posting Komentar