Oleh : Kiki fatmala(Aktivis muslimah dakwah community UINSU)


Mediaoposisi.com-Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto memberikan data terbaru terkait pasien positif mengidap Covid-19 akibat virus corona. Hingga Jumat (20/03/2020), pemerintah memastikan ada 369 kasus Covid-19 di Indonesia.


Hal ini berbeda dengan kota Wuhan, Tiongkok yang menjadi awal mula penyebaran virus corona untuk pertama kalinya tidak melaporkan kasus baru infeksi wabah Covid-19. Penyebab tidak adanya kasus baru di Wuhan ialah karena kebijakan pemerintah Tiongkok  yang melakukan penguuncian ketat (Lockdown) di seluruh wilayahnya dengan melarang warga bepergian dan tetap tinggal di rumah.


Saat ini media sosial khususnya Twitter mendadak ramai dengan Tagar #LockdownIndonesia pada sabtu, hal ini dipicu dengan mewabahnya virus corona yang kian agresif masuk ke Tanah Air. Tercatat ada lebih dari 22,4 ribu cuitan yang menyerukan tagar tersebut. 



Hal ini dipicu oleh sikap pemerintah yang dinilai lamban menangani virus Corona. Terlebih presiden yang belum kepikiran untuk melakukan Lockdown atau menutup akses Indonesia dari luar. Padahal jumlah pasien dampak Corona makin meningkat saat ini.


Bahkan sejak awal masyarakat sudah meragukan sikap keseriusan pemerintah dalam menangani Covid-19. Sudah banyak pihak yang memperingati mulai dari tenaga medis, penelitian luar negeri. Namun pemerintah masih bersikap santuy dalam merespon. Belum lagi pemerintah bersikap plin plan seolah olah menutupi atas merebaknya virus ini yang tidak terlihat oleh mata, namun nyata adanya. 



Begitu juga atas sikap presiden yang perlu dikritisi dalam menentukan status darurat Corona dengan menyerahkannya kepada masing-masing kepala daerah, dan lambannya dalam menentukan status sebagai bencana Nasional. Hingga WHO mengirimkan surat kepada presiden , barulah diputuskan sebagai bencana Nasional.


Hal ini tentu menimbulkan pro dan kontra atas sikap presiden yang menyerahkan status dan penanganan wabah Corona kepada kepala daerah masing masing , banyak pihak yang menilai presiden lepas tanggung jawab atas status wabah ini. 


Seharusnya sebagai kepala Negara presiden sudah mempersiapkan kebijakan kebijakan apa yang ditetapkkan jika virus ini masuk ke Indonesia. Seorang pemimpin harusnya bertindak sebagai negarawan dan bertanggung jawab dalam menuntaskan masalah rakyat yang dihadapi.


Tentu hal ini sangat berbeda dalam Islam, kepala Negara atau penguasa adalah pengurus urusan umat yang bertanggung jawab penuh untuk kesehjateraan rakyatnya terutama dalam hal kesehatan rakyat. Islam menetapkan adanya pemimpin sebagai pelayan untuk mengurusi urusan umat yang dipimpinnya. 


Maka bagaiman solusi sebenarnya dalam mengahadapi virus Corona dalm Islam? Sebenarnya masalah penyakit menular bukan hanya terjadi saat ini saja, namun jauh sebelum ini telah terjadi pada masa generasi sahabat Rasulullah seperti penyakit Tha’un.


Dimasa Rasulullah SAW, beliau pernah menganjurkan untuk melakukan isolasi atau Lockdown untuk pencegahan penularan penyakit, dan saat ini metode tersebut juga diikuti oleh Negara Negara Eropa seperti Italia, Irlandia, Denmark, Prancis, Filiphina, Malaysia dan masih banyak lagi. 


Seharusnya Indonesia juga menerapkan system Lockdown untuk melindungi rakyat nya, sebagaimana Rasulullah melakukannya, dan senantiasa kita juga harus muhasabah diri terhadap bencana yang menyebar ini. bisa jadi ini adalah bentuk teguran dari Allah SWT, sebab kita tidak mau menerapkan aturan darinya yaitu menerapkan Islam secara Kaffah di bumi Allah ini.[MO/ia]

Posting Komentar