Oleh : Habsah 
(Aktivis Muslimah Dakwah Community UINSU)

Mediaoposisi.com-Saat ini dunia hidup dalam mimpi buruk karena suatu mahluk berukuran 150 nanometer yang berhasil menggemparkan dunia. Mahluk ini dikenal dengan nama Corona Virus disease 2019 disingkat Covid-19 yang sudah masuk katagori pandemi global.


Mimpi buruk ini berawal dari negeri tirai bambu lebih tepatnya di Kota Wuhan, Profinsi Hubei, Tiongkok pada akhir Desember 2019 dimana beberapa orang mengalami pneumonia tanpa sebab dan jelas yang sudah memakan puluhan ribu korban. Dan mimpi buruk ini pun berlanjut hingga ke berbagai belahan negeri lainnya, termasuk Indonesia.


Di Indonesia sendiri sudah ada 450 kasus Covid-19 dengan kasus kematian 38 jiwa . Sampai saat ini berbagai reaksi masyarakat terlihat, ada yang panik ada pula yang terlalu menganggap santai dan berbagai reaksi lainnya. Hal ini membuat sebagian masyarakat untuk melakukan Lockdown. Hingga masyarakat rela berbondog-bondong memborong pasokan makanan dan juga masker untuk persediaan, terutama masker. 

Baca Juga: Pemerintah Abai, Dibawah Teror Covid-19

Lalu ada juga masyarakat yang berkata “mau makan apa kita kalau hanya mengurung diri dirumah”. Padahal setiap harinya korban ada saja yang bertambah, bahkan Indonesia menepati urutan kedua kasus kematian atas wabah ini.


Disamping masyarakat disibukan dengan pandemi ini, muncul lagi masalah lainnya yaitu kenaikan kurs dolar. Fundamental dalam negeri tidak mampu menahan laju pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada perdagangan.


“kabar bertambahnya penyebaran virus corona di cina dan global memicu kembalinya kekhawatiran pasar sehingga aset-aset beresiko mengalami penurunan” (kepala riset Monex Investindo Futures Ariston dikutip dari Antara, 3/2).


Pemerintah Indonesia belum memberlakukan Lockdown malah lebih memilih untuk tes massal. Alhasil banyak masyarakat yang tidak melakukan Lockdown dan juga anggap sepele ali-alih dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 


Wajar saja jika sebagian masyarakat menganggap hal demikian, karena di tengah-tengah keberadaan wabah ini mereka harus bergelud dengan maut, belum lagi semua serba mahal ditambah lagi naiknya dolar. Jika demikian dimanakah peran pemerintah? sementara pemerintah tidak ikut andil dalam pemenuhan kebutuhan dalam menghadapi pandemi ini?


Dalam konferensi pers BNPB Indonesia pada Rabu (18/03), Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang diwakili oleh Prof. Wiku Adisasmito beberkan alasan pemerintah belum memberlakukan lockdown. 

Baca Juga: Tik Tok, Otak Atik Otak

Ia menyebut kebijakan lockdown akan memiliki implikasi terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan keamanan di Indonesia. Menurutnya, masih banyak warga di tanah air yang menggantungkan hidup dari upah harian sehingga jika kebijakan lockdown diberlakukan, aktivitas ekonomi dikhawatirkan akan menjadi sulit.


Dari sini kita sudah bisa melihat sejak awal pemerintah Indonesia sudah plin plan dan terlalu santai semenjak munculnya wabah ini. Bahkan hal paling lucunya adalah bencana nasional tapi penanganannya tergantung kebijakan daerah masing-masing. Bagaimana ini bisa terjadi? Lalu bagaimana nasib masyarakat yang harus bergelud dengan maut ini?


Jika Khilafah menghadapi wabah seperti ini maka kebijakan yang akan diberlakukan adalah memastikan suplai kebutuhan vital di wilayah isolasi, yang mana isolasi ini tidak mengabaikan kebutuhan warga setempat seperti kebutuhan makanan, minuman, vitamin, serta alat kesehatan pribadi, serta pelayanan lainnya agar masyarakat yang terkena wabah segera sembuh. 


Kemudian khilafah juga nantinya akan membiayai riset untuk menemukan obat dari wabah tersebut, dan jika obat tersebut sudah didapat semua manusia bisa merasakannya tanpa ada pihak yang mencari keuntungan di tengah musibah. Khilafah juga akan tegas memberlakukan pelarangan untuk menutup jalur akses keluar masuk di daerah yang terkena wabah bahkan memberhentikan import barang dari wilayah pusat penyakit.

Baca Juga: Iuran BPJS Batal Naik, Bukti Pemerintah Tarik Ulur

Dengan kebijakan-kebijakan yang seperti ini masyarakat pasti tidak akan merasa resah karena semuanya sudah dipenuhi, baik dari segi kebutuhan pangan sampai kesehatan karena sudah terpenuhi. Berbeda dengan era kapitalis yang hanya akan mengambil setiap keutungan atas terjadinya wabah yang sudah masuk katagori pandemi global ini.[MO/ia]


Wallahu‘alam

Posting Komentar