Oleh: Aida Al Farisi
(Aktivis Dakwah Kampus)

Mediaoposisi.com-Agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar. Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu tanpa pondasi akan roboh, dan sesuatu tanpa penjaga akan hilang”. (Imam Al- Ghazali). 


Sepenggal pesan yang sebenarnya sudah mampu membuka cakrawala berfikir umat manusia  menempatkan landasan agama dalam sebuah pengaturan konsep kehidupan, baik dalam politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pergaulan sosial dan bidang kehidupan yang lainnya. 


Konsep utuh yang dilahirkan dalam agama Islam adalah hal yang harus menjadi keyakinan sebagai pembenaran yang pasti (tashdiqul jazm) tanpa ada keraguan di dalamnya. Status kita sebagai seorang hamba, hanyalah sami’na wa ath’na (taat lagi mendengar). 


Baca Juga: Ingat Di Liburkan 2 Pekan Bukan Untuk Liburan Ya!

Tugas kita hanya sekedar menerapkan dan mengambil apa yang sudah ditetapkan dalam Kitab Suci Al-qur’an dan dibawa oleh Rasulullaah SAW sebagai, siraj (pelita) serta berita gembira bagi kaum Muslimin, dan rahmat bagi seluruh Alam, hanya saja sudah menjadi sunatullah  jika haq dan bathil itu akan mengalami pergesekan. 


Namun yang disayangkan jika mereka mengaku Islam namun harus menjadi pemuja ideologi Sekularisme dan penentang terhadap agama Islam itu sendiri. Namun tak dapat dipungkiri dalam Al- Qur’an banyak golongan-golongan yang disebutkan, ada kaum munafikun, fasikun, hingga kafirun. 


Semoga kita termasuk penjaga agama ini, meski sebenarnya Allah SWT sendiri yang menjaga agama-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya “Sungguh Kami telah menurunkan Adz- Dzikr (Al- Qur’an), dan Kami pula yang benar- benar menjaganya”. (QS. Al-Hijr: 9).
                

Mengejutkan namun tak sampai membuat kaget hingga jantung ini copot. Hanya saja semakin membuat darah mendidih, tapi tak sampai membuat pembuluh darah ini pecah, syukurlah. Ini wajib dikritisi. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi membuat pernyataan nyeleneh. Menurut Yudian Husain ada kelompok minoritas yang ingin mereduksi agama di atas kepentingan pribadi dan begitu gamblang mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama. 



Katanya “Si minoritas ingin melawan Pancasila dan mengklaim diri sebagai mayoritas. Ini berbahaya. Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu adalah agama, bukan kesukuan”. Ujarnya Yudian (12,2,2020). Menanggapi pernyataan tersebut, banyak tentunya umat Islam yang bersuara salah satunya Hidayat Nur Wahid menyatakan bahwa pernyataan Yudian Wahyudi adalah pernyataan ahistoris dan irasioanal. Bukan hanya kritik yang yang disampaikan, tapi banyak organisasi dan menuntut BPIP dibubarkan.
                


Menempatkan posisi konstitusi di atas Kitab Suci, dan menganggap konsensus sebagai hukum tertinggi dalam mengatur sosial politik  adalah pandangan sesat dan menyesatkan. Dalam melihat pernyataan yang kontroversial dari para penguasa Negeri ini, bukan kali ini saja pernyataan- pernyataan ini banyak berlalu lalang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. 



Banyak kemudian pernyataan yang  secara nyata menyerang Islam dan menolak tentang keberadaan syariat dan agama dalam asas pengaturan kehidupan manusia. Salah satu dari sekian banyaknya ide- ide sekuler yang diviralkan oleh para pengagum Barat dengan asas Sekularisme- Demokrasi adalah Jihad bukan kewajiban, dan Khilafah bukan model dalam bernegara. Inilah sikap yang mendistorsikan Islam dan mengaborsi syariat Islam, hingga hanya memandang Islam sekedar agama ritual semata. Penyerangan ide- ide sekuler nan liberal yang benuansa pandangan politik dan kebijakan- kebijakan yang di atur dalam Undang- Undang buatan manusia. 



Begitu tumbuh subur guna  menjauhkan  kaum muslimin dan fobia terhadap agamanya sendiri melalui perang pemikiran. Kebebasan berpendapat dari para pembenci Islam begitu terlindungi dalam topeng Demokrasi. Tak ada delik hukum yang mendera, sebab kebebasan berpendapat yang menjadi mantel penista dan pelindung dari para tokoh- tokoh liberal masih begitu kokoh dalam sistem Demokrasi.



Begitulah sebuah Ideologi, meniscayakan para penganutnya (Sang Ideolog) untuk mengembangkan asas- asas pemikiran, serta aturan yang terkandung di dalamnya. Maka perlu diketahui Pancasila hanyalah mengandung nilai- nilai falsafah, namun karena adanya Ideologi Sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan inilah yang menyebabkan para pemuja dari ideologi ini begitu berani dalam mengemban amanah untuk menjadi pengacau dan penghambat tegaknya Intitusi Negara Khilafah. 



Ah sungguh ironis negeriku ini. Begitu banyak berkah yang berlimpah namun bergitu banyak problematika yang mendera. Mungkinkah negeriku berTuhan atau berTuan?


Syaikh Taqiyuddin an Nabhani pendiri Hizbut Tahrir dalam kitabnya Nidzamul Islam, beliau menjelaskan 3 ideologi di dunia, Islam, Sosialis- Komunisme, dan Kapitaliseme- Sekuler. Dua ideologi yaitu Islam pernah berdiri selama 1300 tahun lamanya, dan menguasai 2/3 dunia hingga diruntuhkan pada 3 Maret 1924 M, dan dijanjikan oleh Allaah akan kembali tegak. 


Sedangkan ideologi Sosialis- Komunisme juga pernah bangkit, namun juga telah runtuh kisaran tahun 1991 yang notabennya adalah Uni Soviet atau Rusia,  lonceng kematian Sosialisme adalah pertanda bahwa Sosialisme tak akan bangkit lagi dalam memimpin peradaban manusia. Sedangkan saat ini ideologi Kapitalisme- Sekular ini menjadi pemimpin dunia yang di emban oleh Amerika Serikat dan sekutu- sekutunya dan menjadikan metode imperialismenya dalam menjarah negri- negri kaum muslimin. 



Termasuk Indonesia di dalamnya yang mayoritas kaum muslim, telah terpapar dan tercemari serta menganut paham Sekularisme dalam bingkai sistem Demokrasi. Di zaman yang edan ini yang dipenuhi dengan hiruk pikuk fitnah yang bertebaran di mana- mana, ibarat jamur yang tumbuh di musim hujan, membuat negri- negri kaum muslimin semakin terbelakang serta mengalami kemunduran berfikir yang begitu akut, sebab penopang dalam sendi kehidupan telah dilepaskan ikatannya satu- persatu oleh musuh- musuh Islam, termasuk kau kafir dan antek- anteknya di negeri muslim. 



Ikatan aqidah Islam yang harusnya menyatukan kaum muslimin kini telah terganti dengan ikatan Nasionalisme, kaum muslimin terpecah menjadi beberapa negara bagian menjadi negri- negri kecil yang dipayungi dengan segala payung kebijakan neoliberal  yang ditelurkan dalam draft Undang- Undang. 



Kekuasaan dibagi kepada para antek- antek asing yang menjadi boneka dan siap tunduk pada arahan kafir penjajah, jika negeri itu masih mampu dijajah secara pemikiran seperti Indonesia, maka tak perlu angkat senjata dalam memusnahkan populasi kaum muslim sebagaimana konflik perang yang terjadi di Timur Tengah. Misi- misi misionaris abad ke- 11 Hijriyyah (abad 7 Masehi) telah dihembuskan dari sejak melemahanya daulah Khilafah hingga saat ini. 



Terjadinya transfer pemikiran filsafat India, Persia, dan Yunani, hingga kaum muslimin mengkopromikan filsafat tersebut dengan Islam. Bahasa Arab diabaikan, hingga disusul dengan dipisahkannya dari Islam, sedangkan ijtihad mustahil dilakukan tanpa menggunakan bahasa Arab. Penguasa dan korporasi begitu langgeng bermesra dalam kabijakan- kebijakan ekonominya. 



Sehingga para tuan- tuan yang sejatinya duduk di atas mimbar- mimbar penjajahan kekuasaan, dengan segala hegemoninya dalam bidang politik maupun ekonomi  hanya sekedar mendikte para anteknya akan ke mana arah langkah dan kebijakannya. Inilah penjajahan gaya dalam negriku yaitu penjajahan pemikiran yang tentunya akan melanggengkan penguasaan tehadap sumber- sumber kekayaan alam yang begitu melimpah di zamrud khatulistiwa ini .



Saatnya kaum muslimin bangkit dari pemikirannya. Melihat kemunduran kaum muslimin bukan hanya sekedar kasuistik namun kemunduran ini bersifat sistemik. 



Metode dalam Islam  menuju kebangkitan melalui jalan berfikir, untuk menuju keimanan yang hakiki. Sejatinya kaum muslimin adalah kahiru ummah (ummat terbaik) sebagaimana dalam firman Allah, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran: 110).



Hanya dengan Khilafahlah kehidupan Islami mampu dikembalikan, lalu mampu mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia, dan membangun masyarakat di atas asas Islam. Membangkitkan kaum Muslim dengan pemikiran cemerlang dan mengembalikan kemuliaan dan keagungan yang pernah dimiliki sebelumnya. 


Hanya dengan Khilafahlah segala aturan Islam secara kaffah akan mampu dilaksanakan. Kewajiban tersebut tidak mungkin bisa dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan adanya sesorang penguasa (Amir, Khalifah) yang mempunyai kekuasaan, sebagaimana kaidah syara’ menyatakan:



“Suatu kewajiban yang tidak dapat sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu adalah wajib”.[MO/ia]

               

Posting Komentar