Oleh : Ummu Fatih


Mediaoposisi.com-Berbagai peristiwa internasional yang terjadi di Dunia Islam baik itu Palestia, Suriah, Sudan, Muslim Xinjian, Rohignya, dan yang lain sungguh mengiris hati.Terbaru adalah peristiwa yang terjadi di India. 


Jika kita mengkaji sejaraah maka sesungguhnya peristiwa pembantaian terhadap kaum muslim di India bukan hanya terjadi akibat disahkannya UU kewarganegaraan namun jauh sebelum itu konflik yang ada di Kashmir juga masih terjadi. Selain itu perlakuan diskriminatif juga terjadi untuk warga Negara India yang beragamaa Islam. 


Berbagai protes dan aksi kepedulian dilakukan oleh kaum muslim tak terkecuali di Indonesia. Kepedulian kaum muslim ini merupakan bukti bahwa persatuan umat islam masih ada. Persatuan yang terwujud berdasarkan aqidah yang mampu menembus batas/ sekat Negara. Bahkan dampaknya tidak hanya berkah untuk kaum muslim saja tapi juga non muslim.


Baca Juga: Menabur Luka Ditengah Bencana

Umat Islam disatukan oleh akidah Islam. Mempunyai satu tuhan, yaitu Allah. Satu kitab suci, yaitu al-Qur’an. Satu kiblat, yaitu Ka’bah, dan satu Nabi, yaitu Nabi Muhammad saw.  Secara historis, sejarah peradaban Islam telah membuktikan, bahwa mereka dahulu pernah hidup dalam naungan satu negara, yaitu negara Khilafah, dengan satu bahasa resmi, yaitu bahasa Arab. 


Realitasnya persatuan umat islam juga bisa kita saksikan pada saat pelaksanaan ibadah haji, setiap tahun. Seluruh umat Islam, dari berbagai penjuru dunia, dengan paham dan mazhab yang berbeda-beda bersatu dalam ritual ibadah haji, pada hari, tanggal, waktu dan tempat yang sama.


Selama akidah islam ini masih ada dan hidup dalam diri mereka maka persatuan umat  sebagaimana firman Allah SWT dalam Ali-Imron:103 Ayat ini menjelaskan bagaimana kondisi kaum Muslim sebelum mereka memeluk Islam dan hidup pada zaman Jahiliyah. Mereka hidup dalam perpecahan, peperangan satu sama lain dan membanggakan kebanggaan Jahiliyah. 


Tetapi, semuanya itu berubah ketika mereka memeluk Islam, dan Islam menjadi way of life mereka. Mereka tidak lagi melihat faktor ras, suku, bangsa, kelas, umur, termasuk jenis kelamin. Satu-satunya yang mereka lihat adalah kualitas keislaman dan ketakwaan mereka. Selain itu adanya institusi negara islam (Khilafah menjadikan persatuan sebagai hal yang niscaya.

Baca Juga: Niat Beradaptasi di Era Disrupsi, Nyatanya Pengangguran Makin Meroket


Maka menjadi kewajiban kita sebagai sesama muslim untuk menyelamatkan mereka mereka yang teraniyaya bahkan dalam ancaman genosida. Bentuk penyelamatan yang paling dibutuhkan adalah harus ada pemimpin yang tegas terhadap rezim yang ada. Pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin Negara karena akan mampu memberikan tekanan baik dengan memutuskan hubungan diplomatic maupun memerangi kafir. 



Sebagai contoh adaalah peristiwa yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Beliau telah mengerahkan sekitar puluhan tentara sekaligus memimpin sendiri pasukannya untuk membebaskan wanita keturunan Fathimah ra, yang disiksa dan dinistakan oleh penguasa Amuriah.



Saat ini bukan hanya satu wanita muslim juga bukan seorang muslim yang dinista, dilecehkan bahkan dibunuh. Semoga segera ada pemimpin Negara yang bisa mengakomodasi seluruh kekuatan untuk membebaskan kaum muslim yang sedang teraniyaya. Amin[MO/ia]



.


Posting Komentar