Oleh Nadia F.L

Mediaoposisi.com-India memanas karena bentrokan yang menyebabkan umat Muslim terpinggirkan dan mengalami kekerasan. Lebih dari 30 orang tewas dan menjadi sorotan dunia. Berita ini sempat menjadi trending di twitter #ShameOnYou India. 


Masalah bermula dari kebijakan yang diberlakukan yaitu Undang-Undang. UU Kewarganegaraan di India menjadi kontroversial karena mengizinkan pemerintah setempat memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. 


Akan tetapi, status kewarganegaraan itu hanya diberikan kepada imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam. Akibat kontroversi tersebut, konflik meletus di pinggiran New Delhi karena UU itu dianggap mendiskriminasi umat Islam. 

Baca Juga: Benarkah Agama Musuh Negara ?

Lahirnya UU ini karena dipelopori partai penguasa India beraliran nasionalis Hindu yaitu Bharatiya Janata Party (BJP). Diberlakukannya UU tersebut membuka mata bahwa mengapa agama selalu dipersoalkan terutama islam.


Kerusuhan buruk ini mengulang perestia yang sama pada tahun 1947.


Kesaksian dari muslim india menjelaskan kejadian yang dialami. Salah satu situs memuat cerita tersebut. Yasmin, ibu tiga anak berusia 35 tahun, memegang tasbihnya yang berwarna biru dan putih ketika dia menunggu di kamar mayat sebuah rumah sakit untuk mengambil mayat abang iparnya yang babak belur. Dia baru saja kehliangan saudaranya yang seorang penduduk di lingkungan New Delhi. 


Kisah ini ditulis Stephani Findlay dan Ami Kazmin dari Financialtime.com pada 28 Februari lalu. Peristiwa ini mengagetan karena lokasi mereka tinggal adalah dari kalangan kelas pekerja baik yang beragama  Hindu dan Muslim. Mereka pun selama ini  telah hidup berdampingan secara damai selama bertahun-tahun. Mehtab sendiri adalah seorang pekerja konstruksi berusia 22 tahun.


Nasib Mehtab dalam kasus rusuh berbau agama di India beberapa hari silam memang naas. Kala itu dia pada Selasa malam dia keluar dari rumah untuk membeli susu. Namun kepergiannya itu ternyata tidak pernah kembali. Di tenhaj jalan dia diangkut pergi oleh perusuh yang menggunakan tongkat, kemudian ia ditemukan mati beberapa jam kemudian. 


Tubuhnya memar dan terbakar. Tak hanya itu malam itu suasana sangat mencekam. Bersamaan dengan kepergian Mehtab, Yasmin dan suaminya meringkuk ketakutan di rumah. Kala itu ia mendengar para peusuh mengeluarkan ancaman akan membakar toko-toko dan tempat tinggal milik Muslim tetangga mereka. 



"Orang-orang meneriakkan slogan-slogan Jai Shri Ram ['Salam Kepada Srr Rama] dan mengatakan' tinggalkan rumah ini - kita akan membakarnya '," kata Yasmin, suaranya bergetar dengan emosi. “Ini adalah pertama kalinya saya melihat konflik seperti itu. Kami selalu menganggap Hindu sebagai saudara kami. [Mehtab] dibunuh karena ia seorang Muslim. Kami diserang karena kami Muslim, ” ujarnya lagi.


Tidak hanya itu, masih banyak kejadian lain yang tidak terpublis di media. Mayoritas Agama Hindu di India, mengecam keras jika muslim disana masih mengkonsumsi sapi, karna sejatinya sapi adalah hewan yang dimuliakan bahkan dianggap tuhan oleh mayoritas hindu. Rumah-rumah dibakar, dan banyak muslim ketika menjalankan ibadahnya kemudian dibantai. 


Aksi protes terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan. Kedua belah pihak saling serang menggunakan batu dan benda lain, serta merusak bangunan dan kendaraan. Bahkan termuat di media bagaimana perusakan masjid dilakukan oleh sejumlah oknum.


Memang ketegangan sektarian telah meningkat sejak Desember lalu ketika pemerintah Narendra Modi mengamandemen undang-undang kewarganegaraan negara India. Dalam undang-undang itu  dimasukkan kriteria agama untuk pertama kalinya dan memberi umat Hindu dan pengikut agama Asia Selatan lainnya lebih diprioritaskan daripada Muslim.




Selain itu pertumpahan darah akibat penyerangan umat Hindu kepada Muslim ini bertepatan dengan kunjungan Donald Trump ke India. Padahal wacana publik di media massa sangat memberikan tempat atas pujian berlebihan Presiden AS untuk Narendara Modi. 



Akan hal itu, para analis di India telah memperingatkan bahwa kerusuhan ini akan mengancam serta mengalihkan perhatian pemerintah dari tugas mendesak untuk menghidupkan kembali ekonomi yang goyah. Apalagi Modi ingin mewujudkan ambisinya untuk menjadi salah satu kekuatan global. Lagi-lagi kepentingan antar negara untuk kemajuannya.



Kejadian ini membuat beberapa negara mengecam bahkan ada yang diam. Salah satunya Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas muslim. Bahkan beberapa tokoh seperti dari Meteri Agama dan kepala Ormas Islam PBNU juga buka suara. Merespons hal itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU akan menyambangi Kedutaan Besar India di Jakarta. Mereka ingin meminta penjelasan kronologi peristiwa sebenarnya. 


"Silaturahim antara PBNU dan Kedubes India untuk mencari tahu duduk soal sampai perkembangan terakhir seperti apa," kata Wakil Sekjen PBNU, Masduki Baidlowi dalam acara talkshow di Jakarta, Jumat, 28 Februari 2020. Beliau menjelaskan NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. 



Hal ini menjadi catatan NU karena selama ini RI dan India punya hubungan yang baik. "Langkah-langkah yang sudah dilakukan ataupun yang akan dilakukan seperti apa, karena India kita tahu dengan Indonesia itu adalah negara sahabat yang baik, bilateral juga sangat baik," ujarnya.  Maka itu, menurut dia, sikap RI juga diminta jangan terbawa emosi.


Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar suruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan tak bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antara umat Hindu dan Muslim di India beberapa hari terakhir. 



"Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional," kata Fachrul dalam keterangan resminya, Jumat (28/2). Lebih lanjut, Fachrul prihatin dan mengecam keras peristiwa kekerasan atas nama agama di India tersebut.


Terbaru ada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Imam Sayyid Ali Khamenei, mendesak pemerintah India untuk mengambil tindakan terhadap kelompok ekstremis Hindu yang menyerang warga Muslim, sehingga memicu kerusuhan dan korban jiwa. "Hati umat Muslim di seluruh dunia berduka akibat pembantaian umat Muslim di India. 


Pemerintah India harus melawan kelompok ekstremis Hindu dan para pendukungnya dan menghentikan pembantaian terhadap umat Muslim supaya India tidak dikucilkan dari dunia Islam," cuit Khamenei melalui akun Twitter, seperti dikutip pada Jumat (6/3).



Melihat Reaksi dunia dan beberapa petinggi atau bisa disebut mereka yang mengatur rakyat berpendapat dan mengeluarkan statmennya, sangat mengkhawatirkan sebab mereka punya pengaruh pada umat. Pentingnya intelektual ketika berpera/mempunyai pengaruh. Dimana dengan segala tsaqofah dan ilmu yang mereka dapat, yang harusnya menjadi tumpuan dan melihat realita untuk mencari jalan keluar atas setiap masalah. Terlebih mereka adalah muslim.


Kitab Takatul Hizbi Karya Syekh Taqiyyudin dijelaksan tentang betapa pentingnya peran intelektual ditengah masyarakat. Namun fakta sekarang antara tsaqofah dan perasaan islam menjadi sesuatu yang terpisah. Pemikiran muslim didominasi dengan tsaqofah asing dan hanya modal perasaan yang msih tertinggal.


Kejadian ini bukan aksi tanpa sebab. Potensi manusia atau dikenal dengan gharizah sangat berperan pada respon yang kita berikan. Respon yang tersampaikan adalah buah dari pemahaman atau maklumat. Pemahaman akan mengarahkan pada tindakan atau ucapan.


Kejadian muslim minoritas tidak akan lepas dari penindasan , ini bukan hanya di India namun ada dibelahan negara lain. Seperti uyghur di china salah satunya. Kejadian yang hampir serupa dilakukan oleh orang yang mayoritas dengan agama diluar islam.



Hal ini diperkuat bahkan difasilitasi, karena faktanya umat muslim memang tidak mempunyai tameng dan benteng yang menjaga mereka. Sistem dalam berbagai negara dengan sekat sekat negara Nasionalisme ini, menjadikan negara merdeka dengan sendirinya, memikirkan negaranya untuk menjadi power. 


Kebebasan mengatur ini menjadi ladang keamanan bagi mereka. Padahal fakta membuktikan kemerdekaan yang digaungkan pada setiap negara justru menimbulkan perkara lain. Kebebasan yang diterapkan merupakan asas liberal dari Kapitalisme. Aturan/sistem yang ada sekarang memfasilitasi kebebasan. 



Kebebasan berkeyakinan salah satunya. Sehingga hal semacam ini mudah saja terjadi. Karena mereka mendapat fasilitas tanpa batas aturan yang baku. Lalu apakah memang sistem yang seperti ini mampu menyelesaikan ?



Dalam praktiknya sendiri muslim tidak akan pernah berbuat dengan ancaman nyawa. Syariat Islam yang mulia telah datang salah satunya untuk menjaga nyawa manusia. Nyawa seorang muslim memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh ta’ala. Namun manusia yang zolim ini telah banyak menyalahi syariat yang mulia dari Robb tabaaraka wa ta’ala. 



Nyawa manusia sekarang seakan sangat murah sekali.  Dan barangsiapa yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam. Ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.[an-Nisâ`/4:93]. Dalam ayat yang mulia ini Allah Azza wa Jalla mengancam keras pelaku pembunuhan dengan sengaja, sampai-sampai karena besarnya dosa pembunuhan ini Allah Azza wa Jalla tidak mensyari’atkan kafârat. 



Sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan besarnya dosa pembunuhan ini dalam sabdanya : Lenyapnya dunia lebih ringan di hadapan Allah k daripada membunuh seorang Muslim. [HR at-Tirmidzi dan an-Nasâ`i dan dishahîhkan al-Albâni dalam Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb no. 2438].


Larangan ini tidak hanya berlaku pada jiwa Muslim, namun juga pada semua jiwa yang dilindungi dalam syariat Islam, sebagaimana dijelaskan Rasulullah n dalam sabdanya: Siapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (Mu’âhad), maka tidak mencium wanginya surga. Sungguh wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun [HR al-Bukhâri] 


Selain ancaman tersebut, sudah ada bukti kongkrit ketika masa kejayaan peradaban islam, mereka yang berada dibawah naungan daulah islamiyah, dengan tetap berkeyakinan pada agama selain islam, akan tetap mendapatkan perlindungan. 



Karna sejatinya muslim juga tidak akan pernah berambisi pada dunia, karna sudah menjadi hakikat bahkan janji Allah jika muslim memang akan memimpin kembali, dalam qur’an juga dijelaskan, bahwa kekuasaan itu akan dipergilirkan, dalam bisyarah dan jajinya juga disebutkan bahwa islam berjaya kembali.


Kadalam kekuasaan islam tidak akan bertindak gegabah, bahkan melakukan penindasan, sejatinya semua umat mendapat hak, dan pengaturan umat atau rakyat mutlak tanggung jawab negara, sehingga tidak akan pernah terjadi pada pemerintahan islam.



Merasa takut terancam jika muslim akan terus lahir dan membuat gelombang besar bahwa ketika kasus yang terjadi di india, mereka menyatakan bahwa muslim akan membuat semua orang akan berislam, menanadkan ikatan yang ada ditengah mereka. Dalam kitab nidzham dijelaskan tentang ikatan yang mengikat orang-orang untuk bertindak. 



Ada ikatan Nasionalisme yang mana mempertahankan kawasannya saja  agar tidak mendapat serangan dari luar, ternyara ikatan ini juga dimiliki hewan karena seperti burung-burung mereka akan menyerang bila suasana tidak aman, ikatan ini muncul karena emosional. 



Ikatan kesukuan dan ikatan keluarga, mereka akan menjaga sukunnya saja jika terdapat ancamanm, dan bahkan ketika mereka berkuasa hanya ingin sukunya mengusai bangsa yang lain, ikatan ini tidak bisa mengikat karna hanya persaingan. 



Ikatan kemasalahatan juga tidak menjamin karena ada peluang tawar menawar mweujudkan kemasalahatan yang lebih besar maka itu didahulukan, ikatan ini tidak akan menyelamatkan. Ikatan kerohanian yang menjadikan mereka hnaya terikat pada aturan rohani tidak dengan aturan diluar itu. Ikatan ini terbatas dan tidak bisa menyelesaiakn persoalan hidup. 



Sehingga yang dibutuhkan adalah ikatan yang bisa menjamin adalah yang sesuai aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan menyeluruh bukan parsial. Atau kita kenal dengan istilah Mabda/ideologi. Mabda mempunyai pemikiran dan peraturan sebagai dasar mengatur. Ikatan ini akan mengikat pemeluknya, namun ada 3 ideologi yang mempunyai pengaruh. 



Pertama kapitalisme menyatakan dasar kehidupan ini harus terpisah dengan agama. Sosialisme menyatakan semua dinilai berdasarkan materi dan Islam menerangkan dibalik kehidupan ini ada pencipta dan pengaturnya. Maka hanya ada 1 ikatan atas dasar ideologi yang mampu menyelamatkan yaitu Ideologi islam.



Menyoal kejadian yang terjadi di India, menunujukan bahwa seluruh umat muslim di dunia tidak mempunyai ikatan yang mngikat karena tersekat oleh bangsa-bangsa. Segala kecaman/ tindakan penolakan tidak akan bisa menyelesaikan persoalan penindasan diberbagai belahan dunia. Fakta yang ada justru semakin banyak muslim yang tertindas tidak ada yang bisa menyelamatkan bahkan melindungi agama, harta, martabat/kehormatan dan  darah kaum muslim. 



Berbagai pemimpin muslim dibelahan negara lain hanya bisa mengencam. Tidak ada yang bisa menyelesaikan kecuali satu komando untuk melawan. Tidak akan ada negara yang mampu mengehntikan kecuali satu kesatuan umat muslim dalam satu komando pemimpin muslim untuk menyelesaikan yaitu dengan Khilafah. 


Sebagai sistem pemerintahan dengan pedoman syariat, karena aturan yang selama ini dibuat dengan akal pikiran manusia tidak menyelesaikan justru menibulkan masalah baru. Maka sudah saatnya menerapkan aturan yang bersumber dari pencipta, berupa syariat yang diturunkanya.


Tidak ada kemuliaan tanpa islam, Tiada islam tanpa penerapan Syariat dan Tiada penerapan syariat tanpa Tegaknya Daulah Khilafah.[MO/ia]

Posting Komentar