Oleh : Siti Komariah, S. Pd. I 
(Pegiat Opini, Komunitas Peduli Umat)


Mediaoposisi.com-Miris, sedis, pilu, geram bak ingin meronta. Mungkin inilah ungkapan yang hampir semua orang rasakan, melihat kondisi moral generasi kian hari kian rusak.


Baru -baru ini publik digemparkan dengan adanya pembunuhan berencana nan sadis yang dilakukan oleh gadis berumur 15 tahun, kepada balita 5 tahun di Kawasan Besar, Jakarta Pusat. Pasalnya, pembunuhan tersebut terinspirasi oleh flim horor.


Di tempat yang berbeda, seorang gadis kelas 2 Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Bathin III Ulu, diduga telah dinodai dan digilir oleh 3 bocah laki-laki yang merupakan kakak kelas korban, perbuatan biadab ini terjadi di salah satu SDN di Bungo. Lebih memilukan lagi, ada oknum guru yang seakan menitupi, bahkan menyuap si korban dengan iming-iming uang untuk tidak mencerikan kejadian keji tersebut kepada orang tua dan masyarakat lainnya.




Bahkan, masih banyak lagi kasus-kasus kerusakan moral generasi yang kian menjadi, mulai dari tawuran, bullying, melakukan kekerasan kepada guru, serta orang tua mereka sendiri dan lain sebagainya.


Sungguh memilukan, entah apa yang terjadi dengan moral generasi saat ini hingga mereka tega melakukan perbuatan keji tersebut, bahkan melakukan perbuatan diluar nalar mereka?.



Generasi seyogianya merupakan ujung tombak dari sebuah peradaban bangsa. Dimana mereka merupakan penerus tongkat estapet kepemimpinan suatu bangsa. Maju dan tidaknya bangsa pun tergantung dari generasinya. Lalu bagaimana jika generasi sebuah bangsa tersebut rusak?.


Moral generasi kian krisis, bahkan menghampiri jurang kehancuran. Seyogianya persoalan ini merupakan persoalan sistemik, dimana faktor penyebab kerusakan moral generasi saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Mulai dari sistem keluarga, pendidikan, masyarakat, hingga sistem media dan budaya.


Menurut psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Candra, mengutip sebuah teori ekologi Bronfenbrenner, perilaku anak-anak seperti itu dipengaruhi oleh banyak sistem. Sistem terdekat bagi siswa yaitu ekosistem sekolah dan keluarga, kemudian lebih luas sistem masyarakat, kebijakan, media sosial, dan budaya.


Tak dapat dipungkiri, jika saat ini para generasi dilatih serba instan. Tak heran jika, tolak ukur keberhasilannya adalah nilai yang bagus. Pendidikan pun hanya berorintasi pada peningkatan prestasi dan persaingan dunia kerja, walaupun pendidikan telah melakukan pendidikan karakter, namun nyatanya hal itu belum mampu terealisasi dengan sempurna. Pembentukan akhlak generasi masih menjadi tanda tanya besar.


Selain itu, anak-anak juga cenderung kurang dihargai dan diberi apresiasi saat berada di sekolah maupun di rumah. Akibatnya, ketika tidak pernah dihargai maka mereka pun akhirnya cenderung tidak bisa menghargai dan mengapresiasi orang lain.


Disisi lain, keluarga yang harusnya menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, justru saat ini kehilangan fungsinya. Ibu yang harusnya fokus mencetak generasi yang gemilang dan cemerlang, mendampingi tumbuh kembang si buah hati, membentuk akhlak mereka dengan baik, harus meninggalkan perannya akibat satu dan lain hal, seperti membantu suami mencari nahkaf demi kebutuhan keluarga.


Mengingat kebutuhan hidup saat ini sangatlah mahal. Alhasil, anak pun harus tumbuh tanpa dapingan dan perhatian lebih dari keluarga.


Tak hanya itu, krisis moral generasi saat ini pun juga diakibatkan oleh faktor media televisi yang menyajikan tontonan yang kurang mendidik, tak terlepas juga media sosial yang memberikan kemudahan pada anak untuk mengakses segala macam informasi, dan berbagai vidio-vidio yang merusak pemikiran mereka, vidio porno, kekerasan dsb. Tentu saja sebagian besar anak belum mampu memfilter yang baik dan buruk. Alhasil, anak cenderung meniru apa yang dilihatnya dan mempraktekkannya.


Kemudian sistem pergaulan dan kurangnya kontrol masyarakat. Masyarakat juga memiliki andil besar dalam mencetak dan membangun akhlak generasi. Lingkungan masyarakat yang baik akan menciptakan generasi yang baik, begitupun sebaliknya. Namun, sistem kapitalisme membuat masyarakat memiliki sifat individualisme, sehingga mereka tak lagi memfungsikan kontrol masyarakat dengan baik, masyarakat tak mampu lagi membersamai tumbuh kembang generasi.


Sistem pergaulan generasi pun saat ini tidak diatur sesuai aturan syara. Mereka memiliki kebebasan berbuat apapun, tanpa batasan-batasan syara asal tidak mengangu orang lain, maka mereka masih memiliki kebebasan berperilaku. Namun sayangnya masyarakat tidak menyadari, jika lambat laun apa yang dilakukan para generasi dapat merusak tatanan bermasyarakat, bahkan berbangsa seperti saat ini.


Sehingga telah jelas bahwa penyebab krisis moral generasi saat ini saling keterkaitan antara sistem yang satu dengan lainnya. Sehingga dibutuhkan peran negara dalam menangganinya. Namun, dalam sistem kapitaliame peran negara dalam meriayah rakyatnya seakan hilang. 



Negara menyerahkan pengurusan pembentukan akhlak generasi kepada keluarga, namun dilain sisi keluarga, tanpa terkecuali seorang ibu mau tidak mau harus terjun ke ranah publik guna membantu memenuhi kehidupan keluarganya, karena negara tidak mampu menciptakan sistem ekonomi yang stabil, sistem pergaulan yang baik, sistem media da budaya yang baik dan lain sebagainya.




Islam sebagai agama ritual, dia juga sebagai ideologi yang paripurna. Memiliki berbagai solusi terhadap problematika kehidupan manusia, tanpa terkecuali krisis moral generasi.


Islam memandang bahwa generasi merupakan aset terbesar sebuah negara. Karena memeng maju tidaknya suatu bangsa ke depan akn dipikul oleh para generasinya. Segingga Islam menaruh perhatian besar terhadap generasi.


Islam selalu berorintasi terhadap pembentukan akhlak setiap individu rakyatnya. Dimana negara memiliki kewajiban untuk mendorong setiap individu rakyatnya, termaksud generasi untuk tunduk dan taat kepada aturan Allah.



Islam pun memposisikan keluarga sebagai sekolah pertama dalam pembentukan karakter seorang anak. Tugas seorang ibu dalam Islam yaitu sebagia ummu wa robatulbait (Ibu dan pengatur rumah tangga). Seorang ibu berkewajiban membersamai tumbuh kembang anak-anaknya. Menanamkan pendidikan karakter sejak dini. 


Mereka tak perlu terjun ke ranah publik untuk meningalkan anak-anaknya hanya untuk mencari materi (memenuhi kebutuhan keluarganya), karena Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pokok seluruh rakyatnya. Islam menciptakan lapangan pekerjaan bagi para suami-suami, baik non disabilitas, maupun disabilitas. Islam menciptakan ekonomi yang stabil dan mensejahterakan rakyatnya.



Islam pun mengatur pendidikannya hanya bersandar pada asas akidah Islam. Dimana pembentukan karakter para generasi menjadi prioritas utama dalam pendidikan Islam. Para generasi dibimbing dan dididik sesuai tuntunan syara. Sehingga mereka terlahir menjadi generasi yang tangguh dan memilik daya saing tinggi, serta memiliki akhlak yang terpuji.


Selain itu, Islam pun membendung arus media yang dapat merusak pemikiran rakyatnya. Islam hanya menjadikan media sebagai ladang informasi dan penyebarluasan dakwah. Islam tak segan menutup seluruh celah pintu-pintu kemaksiatan.



Islam pun membuat masyarakat menyadari perannya sebagai pendorong tercuptanya generasi yang gemilang. Mereka menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, jika masyaraky melihat perilaku generasi yang salah, maka masyarakat akan segera melaporkan kepada pihak negara. Islam pin menciptakan lingkungan yang harmonis, serta islami. Dengan begitu kerusakan moral generasi dalat dibendung dengan sempurna, ples tidak akan pernah terjadi dalam sistem Islam.



Hal tersebut pun terbukti pada masa kejayaannya silam. Dimana Islam telah melahirkan generasi-generasi tanggung yang menjadi garda terdepan membela negerinya.  Contohnya kecil generasi yang lahir pada masa kejayaan Islam adalah Muhammad bin Idris as-Syafii, dimana dia sudah bisa memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun.[MO/ia] 


Wallahu A'alam Bisshawab





Posting Komentar