Oleh: Anisa Rahmi Tania

Mediaoposisi.com-Jika kamu mendidik satu laki-laki, maka kamu mendidik satu orang. Namun, jika kamu mendidik satu perempuan, maka kamu mendidik satu generasi.” (Moh. Hatta).


Pendidikan memang hal yang asasi bagi manusia. Baik laki-laki maupun perempuan. Hanya saja pendidikan bagi sebagian kaum perempuan masih terbilang barang mahal. Dilansir dari situs CNN Indonesia, pendidikan untuk kaum perempuan belum merata di Indonesia. Kuatnya tradisi menjadi salah satu penghalang bagi mereka mengenyam pendidikan.


Faktor ekonomi dan patriarki seolah masih menjadi hal yang tidak dapat dielakkan oleh kaum perempuan. Padahal menurut Reky Martha, psikolog pendidikan, pendidikan dapat menjadi tangga menuju kesejahteraan hidupnya. Karena dengan pendidikan yang tinggi, kaum perempuan dapat memberikan ilmu baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain. Termasuk menaikkan derajat hidup mereka.


Hal itulah yang terus menerus digarap dengan serius oleh para pegiat feminisme. Melalui BPfA (Beijing Platform for Action), negara-negara di dunia berupaya menuntaskan salah satu butir kritis yang menjadi telaahnya, yakni masalah kesetaraan dalam pendidikan.


Namun, selang waktu berganti. Dari tahun 1995 hingga 2020 masalah yang menghinggapi kaum perempuan tak kunjung teratasi. Pendidikan bagi perempuan seakan masih menjadi pilihan hidup. Tidak semua kaum perempuan bisa mendapatkannya dengan mudah. Walaupun memang terjadi peningkatan, telah banyak perempuan yang bisa mengenyam pendidikan tinggi, tetapi jika melihat realitas permasalahan perempuan tidak kunjung teratasi secara tuntas.


Sementara itu, selama 25 tahun terakhir, meskipun terjadi kemajuan dalam pendidikan, kekerasan terhadap perempuan masih banyak terjadi di seluruh dunia.


Dilansir dari satu harapan.com UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan Internasional telah merilis laporan yang memaparkan jumlah anak perempuan yang putus sekolah turun 79 juta orang dalam dua dekade terakhir. Dalam satu dekade terakhir anak perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melanjutkan ke sekolah menengah dibanding anak laki-laki.


Namun, setelah 25 tahun berselang setelah deklarasi BPfA, diskriminasi dan stereotip yang membatasi masih lazim ditemukan.


Pada tahun 2016, tercatat 70 persen korban perdagangan orang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu 1 dari 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun atau sekitar 13 juta anak perempuan mengalami pemerkosaan. Sungguh miris.


Hal ini menunjukkan dengan bertambahnya angka pendidikan bagi kaum perempuan yang diperjuangkan kaum gender, tidak sepenuhnya menuntaskan permasalahan kaum perempuan.


Memang wajar terjadi, karena apa yang mereka perjuangkan tidak dilandaskan pada pemecahan yang komprehensif. Yakni tidak melihat akar masalah yang menyelimuti pendidikan bagi kaum perempuan.


Mari melihat duduk permasalahannya dengan lebih jelas. Pendidikan bagi kaum perempuan pada dasarnya tidak pernah menjadi masalah tatkala sistem yang diterapkan adalah sistem yang sesuai fitrah lengkap dengan aturan yang sempurna dan paripurna.


Karena permasalahan pendidikan adalah cabang dari permasalahan sistem yang dijadikan landasan negara dalam mengambil berbagai kebijakan. Pendidikan yang merata akan sampai pada sebuah mimpi saja tatkala negara tidak mau membenahi sistem yang ada.


Penuntasan masalah pendidikan dan segudang permasalahan perempuan lainnya pada akhirnya hanya menjadi mitos tatkala diselesaikan dalam kerangka ide kesetaraan gender.


Sejarah telah mencatat dengan terang benderang bagaimana Islam hadir membentuk pribadi-pribadi unggul tidak terkecuali dari kaum perempuan. Selain mereka mampu mencetak generasi yang gemilang, mereka pun bagian dari sosok yang bermanfaat untuk umat pada masanya.


Sebutlah istri Rasulullah Saw, Aisyah binti Abu Bakar, beliau adalah salah satu cermin perempuan cerdas yang menjadi rujukan para sahabat Rasulullah Saw. Selain sebagai istri yang taat pada suaminya, beliau terkenal sebagai perawi ratusan hadits Rasulullah. Juga cerdas dalam politik dan strategi.


Ada pula Rufaidah binti Sa’ad. Beliau merupakan perawat dan ahli pengobatan wanita pertama di dunia Islam. Ia belajar mengenai dunia kedokteran dari ayahnya, Sa’ad Al-Aslamy, yang berprofesi sebagai dokter di Madinah. Dengan bimbingan ayahnya tersebut lah ia menjadi seorang ahli penyembuh.


Peradaban Islam pun harum dengan nama Sutayta al-Mahamali. Beliau adalah seorang ahli matematika. Kepakarannya di bidang ini bahkan dipuji oleh banyak ulama pada zamannya seperti seperti Ibnu al-Jauzi, Ibnu al-Khatib Baghdadi, dan Ibnu Katsir.


Tidak ada perbedaan hak dalam Islam berkenaan dengan pendidikan. Karena sistem Islam memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi semua warga negaranya, baik laki-laki maupun perempuan.


Fasilitas tersebut diberikan gratis dengan kualitas terbaik. Karena Islam dalam ajarannya mewajibkan kaum muslim untuk menuntut ilmu. Bukan untuk mengejar materi, namun sebagai kewajiban yang telah Allah bebankan pada umat Islam. Sehingga dengan ilmu tersebut mereka bermanfaat bagi semua orang.


Rasulullah saw bersabda, “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla.” (HR. Ar Rabii’)


Dengan kesempurnaan ajaran Islam, kaum perempuan tidak hanya terdidik, tapi juga terjaga kehormatannya. Seperti mengharuskan bersama mahrom apabila melakukan safar selama 24 jam, mewajibkan jilbab dan Khimar sebagai penutup aurat mereka sekaligus pelindung dari mata-mata liar, dan sebagainya.


Oleh karena itu, Islam tidak hanya memberikan hak pendidikan pada kaum perempuan, tapi juga menuntaskan permasalahan perempuan secara menyeluruh dan sempurna.[MO/ia]

Wallahu'alam bishawab

Posting Komentar