Oleh: Eqhalifha Murad
(Pengamat dan eks praktisi penerbangan, aktivis dakwah syari'ah)

Mediaoposisi.com-Usai kembali menghangatnya kontrak pembelian pesawat tempur ke pihak asing, baru-baru ini berita penambahan pesawat kepresidenanpun mencuat.

Kabar ini merebak setelah foto sebuah pesawat Boeing tipe B777-300 ER yang bertuliskan "Republik Indonesia" dan terdapat lambang negara, Burung Garuda dibadan pesawat beredar di medsos. Dibagian ekor pesawat terdapat logo maskapai nasional Garuda Indonesia Airline. Pesawat tersebut berada dihanggar dan sedang proses pengecatan.


Beberapa keterangan mengenai berita tersebut dapat di ketahui bahwa: Pertama, Mentri Sekretaris Negara, Pratikno  menyatakan tidak ada penambahan pembelian pesawat kepresidenan, kalaupun ada kemungkinan adalah penyewaan pesawat Garuda. Memang bulan Maret ini presiden akan ke AS menghadiri KTT Asean-AS. Dirut Garuda Irfan Setiaputra ketika ditanya melalui pesan pribadi juga menyatakan tidak mau berkomentar dulu tentang sewa pesawat.

Kedua, sehari setelah itu Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyatakan bahwa memang pemerintah menyewa pesawat Garuda untuk KTT Asean-AS, karena pesawat kepresidenan yang ada sekarang yakni Boeing Business Jet 2 tipe Boeing 737-800 akan menjalani perawatan dan pemeliharaan pesawat rutin.



Ketiga, tenaga ahli PT. Dirgantara Indonesia (DI) Andi Alisyahbana, mengatakan walaupun pemakaian bahan bakar B777- 300 lebih boros, tapi bisa menempuh jam terbang non stop selama 13 jam tanpa transit. Sehingga bisa menghemat biaya transit. Bisa menampung penumpang lebih banyak, jadi para mentri bisa ikut satu rombongan. Tidak berangkat dengan pesawat lain sehingga bisa menghemat tiket.


Sedangkan BBJ 737-800 hanya bisa terbang nonstop 6-7 jam, sehingga jika ke AS harus transit 2 sampai 3 kali. Keempat, menurut sumber Kumparan.com 28/2/2020 dari internal perusahaan Garuda mengatakan bahwa pesawat B777-300 memang banyak yang menganggur, tersebab perlambatan ekonomi, dunia perang dagang dan virus corona.


Menilik keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa: pertama, jika memang pesawat B777-300 hanya disewa, mengapa terkesan ditutup-tutupi. Sikap pemerintah yang tidak transparan inilah yang kerap membuat gusar masyarakat, ditengah himpitan ekonomi hal ini bisa memicu sentimen sosial.



Kedua, dalam kunjungan kenegaraan biasanya selain pakai pesawat resmi kepresidenan, presiden juga memakai pesawat dari TNI AU. Mengingat pesawat B777-300 ini adalah bekas pesawat komersil, dikhawatirkan kurang aman. Sedangkan pesawat BBJ 737-800 memang dirancang khusus sebagai pesawat anti rudal dan dilengkapi sensor untuk mendeteksi benda asing.



Ketiga, Pesawat BBJ 737-800 yang dibuat dipabrik Boeing Company, AS dengan harga 820 milyar rupiah ini bisa menampung 67 orang, jadi bisa menampung rombongan juga. Keempat, bahan bakar BBJ 737-800 lebih hemat. 




Dan sudah bisa terbang nonstop 12 jam karena sudah dipasang tangki ekstra dibawah lantai bagasi. Jadi jika memang pesawat kepresidenan akan mengikuti perawatan berkala seharusnya alasan dengan mengungkapkan kelebihan dari pesawat baru tidak usah dimunculkan.


Kelima, sistem Kapitalis yang dijalankan pemerintah, memungkinkan sewa menyewa pesawat untuk keperluan kunjungan kenegaraan ini niscaya terjadi. Seharusnya Garuda sebagai perusahaan pelat merah yang notabene milik negara bisa dipergunakan armadanya untuk keperluan resmi negara. Tanpa ada batas kepentingan ibarat seorang ibu dan anak laki-lakinya.


Dalam sistem Islam semua urusan kenegaraan diatur sedemikian rupa sehingga satu sama lain saling bersinergi. Rasulullah bersabda: "Ada 4 diantara kebahagiaan; istri sholehah, tetangga sholih, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman. Ada 4 kesengsaraan; Istri yang tidak sholihah, tetangga yang buruk, rumah yang sempit, kendaraan yang buruk." (HR. Ibn Hibban).


Dalam kapasitas beliau sebagai seorang kepala negara, selain rumah yang luas diibaratkan kelapangan hati dalam menerima segala kondisi rumah, juga rumah yang diartikan sebagai tempat berlindung yakni negara tempat berlindung yang memiliki wilayah yang luas. Kendaraan yang tangguh seperti kuda yang terlatih untuk berperang.


Dalam negara Islam kunjungan kenegaraan keluar negeri termasuk dalam aktivitas politik luar negeri yakni jihad dan dakwah menyebarkan Islam. Untuk itu kendaraan yang dipakai bukan hanya sekedar alat transportasi saja. Tapi kendaraan yang bisa menunjukkan kekuatan dan ketinggian teknologi sesuai visi misi negara.


Maka negara akan menciptakan industri penerbangan yang mandiri, memproduksi pesawat sendiri tanpa tergantung dengan asing. Negara akan mengalokasikan dana yang besar untuk kemajuan industri penerbangan, dananya diperoleh dari optimalisasi SDA yang melimpah. Dalam Islam transportasi udara merupakan salah satu fasilitas umum yang harus disediakan oleh negara tanpa ada praktek bisnis dengan rakyatnya. Sehingga fenomena pesawat menganggur tidak akan ada

.

Sistem Islam juga mengharamkan kerjasama bilateral dengan negara kafir harbi fi'lan. Yakni negara yang memerangi kaum muslim. AS dalam hal ini adalah negara kafir harbi fi'lan yang nyata-nyata mendukung dan mensponsori agar kaum muslim diperangi.



Hanya dengan menjalankan sistem Islam yakni khilafah yang akan menuntun pemerintah Indonesia mempunyai sikap yang tegas dan mulia. Sehingga segala kebijakan kenegaraan yang diambil tidak melukai hati rakyat dan hanya menyenangkan bagi kaum kapitalis. Wallahu'alam.[MO/ia]



Posting Komentar