Oleh : Tri Handayani 
(Pegawai BUMN)

Mediaoposisi.com-Dunia tengah mempersiapkan hari perempuan internasioanl yang tiba pada tanggal 8 Maret 2020. Tahun ini badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema  “Saya Generasi Kesetaraan: Menyadari Hak Perempuan”. Kampanye generasi kesetaraan membawa bersama orang dari setiap gender, usia, etnis, ras, agama dan negara untuk mendorong aksi yang akan menciptakan kesetaraan gender dunia yang semua layak mendapatkannya.


Tujuan kampanye tersebut untuk mengakhiri kekerasan berbasis gender, keadilan ekonomi dan hak untuk semuanya, otonomi tubuh, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, serta tindakan feminis untuk keadilan iklim. Selain itu, menginginkan teknologi dan inovasi untuk kesetaraan gender dan kepemimpinan feminis. 


Disamping dunia yang begitu aktif dan masif menyuarakan agenda untuk mendongkrak peran perempuan di ranah publik, Indonesia tengah menghitung data statistik yang tidak lazim terkait kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi baru-baru ini. 



Tercatat kenaikan sebesar 300 persen dalam kasus kekerasan terhadap perempuan lewat dunia siber yang dilaporkan melalui Komnas Perempuan. Kenaikan tersebut cukup signifikan dari semula 97 kasus pada 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019.


Merucut pada anak perempuan pun juga dipandang tidak aman. Sepanjang tahun 2019, Komnas Perempuan mencatat terjadi 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus.


Masalah kekerasan terhadap perempuan bukanlah masalah baru. Jika meninjau laporan yang disampaikan oleh Komnas Perempuan, bukannya mereda tetapi kasus tersebut malah semakin meningkat parah. Pasalnya kejahatan seksual telah menjadi momok di negara-negara kapital yang mendewakat syahwat sebagai fantasi seksual. Solusi serampangan yang dilakukan oleh negara pun kabur dalam menyelesaikan problem konvensional ini. 


Terlebih agenda kesetaraan gender yang menuntut peran perempuan dalam ranah publik. Perempuan memiliki kebebasan dan hak otonomi tubuh untuk digunakan sesuai kehendaknya serta tak ada batasan dalam memberdayakannya. Kampanye kesetaraan gender juga menuntut porsi yang adil bagi perempuan dalam berbagai sektor vital seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan bahkan politik. 


Hal ini akan semakin membuka peluang untuk mengeksploitasi perempuan disamping hilangnya kendali dari negara yang berkuasa. Perempuan akan dipandang sebagai bahan komersil bagi oknum yang tak bertanggung jawab untuk melicinkan bisnis yang menguntungkan. 


Apalagi di mata kalangan kapitalis, keberadaan perempuan sangat berkontribusi untuk memuluskan agenda-agenda dalam meraup keuntungan materi secara maksimal. Tentu bukan kondisi demikian yang diharapkan oleh perempuan.


Perempuan secara fitrahnya diciptakan sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi kepentingan rumah dan keluarga. Peran vital seorang perempuan adalah didalam rumah atau ranah domestik. Jikalau keluar rumah, itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Perempuan tidak memiliki kewajiban untuk bekerja. Sehingga perempuan tidak terbebani dengan tugas yang mengharuskan keluar rumah. 


Meskipun demikian, perempuan dituntut untuk berpendidikan tinggi dan memiliki wawasan yang luas. Hal ini sebagai bekal ia dalam berumah tangga serta memberikan kontribusi terbaik untuk masyarakat sesuai kemampuannya. Pendidikan yang perempuan miliki bukan untuk mencapai target karir setinggi-tingginya melainkan untuk memberikan kebermanfaatan sosial. Didalam islam, laki-laki dan perempuan memiliki porsi masing-masing dalam hal pemberdayaan. 


Laki-laki memiliki kewajiban mencari nafkah atau bekerja sehingga pengetahuan dan keterampilan harus ia kuasai. Sedangkan perempuan memiliki kewajiban untuk mendidik, membina, dan menghasilkan anak sebagai generasi masa depan pembawa perubahan. Dari sini terlihat bahwa islam telah memposisikan perempuan di tempat yang mulia dan aman, tanpa harus menuntut adanya kesetaraan gender. 



Kesetaran dalam islam bukan dilihat dari kesamaan peran antara perempaun dan laki-laki diranah publik, namun kesetaraan dalam islam adalah kesetaraan dimana perempuan dan laki-laki hidup sesuai fitrah/alamiahnya. Sehingga jelas bahwa islam adalah solusi satu-satunya yang mampu mengakhiri problem konvensional dan sosial ini.

Posting Komentar