Oleh : Aida Al Farisi
(Aktivis Dakwah Kampus Makasar)

Mediaoposisi.com-Peranmu kini kian terkikis oleh arus deras kapitalisme. Kedudukanmu tak lagi menjadi mutiara peradaban, dalam melahirkan generasi tangguh, terdidik dan berkarakter Islamiyah. Kondisi ekonomi yang menghimpit membuatmu harus berjuang sebagai tulang punggung keluarga, hingga negara. 


Asap kesetaraan mengepungmu, hingga engkau terjebak dalam kabut gender yang melumpuhkan peran hakikimu. Bukan aku menyalahkan keputusan dari para perempuan untuk berjuang di ranah publik, sebab semua ini karena tuntunan kondisi dan realitas hidup, yang kian hari kian menyesakkan. Saya yakin tak ada seorang Ibu yang ingin keluar dari fitrahnya sebagai pendidik anak- anaknya dan manajer dalam rumah tangga. 


Bahkan peran yang sudah diaturkan oleh Allah sebagai seorang Ibu pasti akan melahirkan ketentraman dan itu impian semua perempuan termasuk mereka, yang sudah menyandang status sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak- anaknya.
                


Di tengah himpitan sistem ekonomi neoliberal, peran negara tak lagi berfungsi dalam mengayomi, mensejaherakan masyarakat. Fitrah manusia termasu ibu di renggut dalam buaian kapitalis. Kejam, sadis hingga dzalim. Negara bahkan memberikan titel pejuang ekonomi bangsa, kepada mereka yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di berbagai negeri. Ibu dipaksa berjibaku untuk membantu suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga. 


Di mana kekayaan alam negeri ini? Bukankah spesie kekayaan laut begitu melimpah? Hutan yang menghijau terhampar luas? Sumber daya alam begitu melimpah? Lalu mengapa negeri ini masih dirundung sejuta derita nan luka? Bahkan rakyat terasa asing di negeri ini, sebab para investor aseng maupun swasta telah merampas kekayaan alam. Oh rupanya penjajahan itu masih berkumandang di seantero negeri Zamrud Khatulistiwa ini.
                

Sebagaimana lirik lagu “harta yang paling berharga adalah keluarga, istana paling berharga adalah keluarga.”  Namun matinya peran negara ditunjang dengan berkuasanya ideology Kapitalis- Sekularisme, meluluhlantahkan segalanya. Menjadikan aturan kehidupan keluar dari koridor yang telah ditetapkan. Mengaborsi tatanan syariat hingga  membuat kaum muslimin mengadopsi pandangan- pandangan Barat. 


Tepat jika kita menyoroti penderiataan kaum Ibu adalah  bagian dari buah penerapan sistem Demokrasi. Penyerangan terhadap peran keibuan semakin dimasifkan. Ketahanan keluarga semakin dirongrong. Barat memahami benteng terakhir kaum muslim adalah level keluarga. Semuanya perlu diberangus, dalam rangka menghambat tegaknya institusi Negara Khilafah.  Generasi tangguh lahir dan bermula dari ketahanan keluarga. 



Peran orangtua wajib seutuhnya. Ayah dan Ibu harus seiring sejalan dengan visi yang selaras dalam mendidik anak- anaknya. Namun hal ini tak akan dicapai jika pemikiran kapitalis masih bercokal dalam benak kaum muslimin, dan menjadi penyangga dalam konsep aturan keluarga. Di sisi lain konsep ekonomi kapitalis menjadikan kaum Ayah sulit mencari lapangan pekerjaan.
               
                

Pemerintah melakukan upaya untuk menciptakan ketahanan keluarga, ada hari peringatan Hari Keluarga Nasional. Namun menciptakan keluarga yang harmonis tidaklah mudah. Terabaikannya peran Ibu, tingginya angka kekerasan pada perempuan, anak terlantar, perceraian semakin meningkat adalah masalah yang tersistemik. Penyelesaian masalah ini juga harus sistemik. Komponen ideologi  keluarga adalah pilar yang penting dalam kemajuan generasi dan peradaban. 


Dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, peran ibu yang tepat, adalah dengan menerapakan Islam kaffah dalam kancah kehidupan. Membangun keluarga harus dimulai dari membangun ketaqwaan diri. Setiap insan harus memahami bahwa membangun rumah tangga adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Keluarga yang bertaqwa tentu akan menghasilkan generasi yang orientasi dunia untuk akhiratnya. 


Dalam masa Khilafah peran  muslimah begitu besar dalam menyokong peradaban Islam. Mereka tampil sebagai ummun wa rabbattu bayt, namun tak melupakan peran mereka sebagai muslimah yang berkiprah dalam aktivitas politik amal ma’ruf nahi mungkar, muhasabah (koreksi) terhadap penguasa , bahkan berkontribusi dalam Jihad.  


Mereka berhasill mencetak generasi yang tak diragukan iman dan kiprahnya dalam peradaban Islam. Wajar jika umat Islam di masa lalu tampil sebagai bintangnya peradaban yang agung nan mulia. 



Tak dipungkiri pula kaum muslim mampu mendapatkan pujian sebagai ‘Khairu ummah’ (ummat terbaik). Sebagaiamana dalam firman Allah. “Kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Al- Imran: 110). Banyak teladan yang bisa diambil dari kisah- kisah para Ibu yang mendidik seorang generasi menjadi ulama pewaris Nabi. Kecerdasan Imam Syafi’I, alimnya Sufyan Ats Tsauri, sabarnya Anas bin Malik, semua ini karena ada Ibu yang taqwa kepada Allah SWT.

                
Di masa Rasulullah SAW, para Shahabiyah memberikan teladan untuk generasi selanjutnya. Seperti Ibunda Khadijah binti Khuwailid ra., Fathimah Az- Zahra ra,. Aisyah binti Abubakar ra,. Ummu Syarik ra. 


Para Shahabiyah ini sejak mereka mengenal Islam, maka aktivitas- aktivitas yang dilakukan bersungguh- sungguh dalam menjaga dan memperluas kegemilangan Islam sebagai sebuah peradaban yang membuat peradaban Persia dan Romawi takluk di bawah Islam, dan merasakan kedamaian yang dilahirkan dari ideology Islam. 


Tidak afdhal rasanya jika kita tak menyebutkan seorang Shahabiyah Al- Khansa binti Amru, yang dijuluki Ibunda para Syuhada. Tak berlebihan jika dituliskan oleh para penyair “sebaik- baik kisah tentang keridhaan seorang Ibu, ada pada keluarga Khansa bin Amru.” Kisah yang begitu mahsyur. Sebelum jihad berkumandang anak- anaknya diskusi, saling memperebutkan pedang untuk berperang untuk melawan bangsa Persia kala itu. 


Mereka juga berdebat siapa yang akan tinggal di rumah. Satu sama lain tunjuk menunjuk. Keempat anak dari Ibunda Al- Khanza menginginkan syahid. Di tengah perdebatan alog itulah Al- Khanza bertutur “berangkatlah kalian, dan bertempurlah hingga syahid menjemput kalian.” Akhir kisah Al- Khanza mendengar keempat anaknya syahid. 


Namun bukan air mata yang tumpah, melainkan binaran mata yang bersinar menandakan tanda syukur kepada Sang Khaliq. Heroik, begitu menggugagah. Kekihlasan tiada tara , sebab memahami semua milik- Nya.
                

Maka saatnya para muslimah dan terkhusus bagi seorang ibu hari ini, bangkit dan menyadari peran strategi dalam membangun peradaban. Muslimah memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dengan laki- laki dalam melakukan perubahan menuju peradaban Khilafah dengan aturan Islam kaffah. Allahu Akbar.[MO/ia] 


WalLahu a’alam bi ash-shawwab.

                                                                                                                                                                                     

Posting Komentar