Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Sekolah diliburkan selama 14 hari bukan tanpa alasan. Memutus rantai penyebaran virus corona adalah dengan menghindari kontak langsung secara massal. Oleh karena itu,  kegiatan atau forum yang melibatkan banyak orang harus dihentikan agar penyebaran covid-19 dapat ditekan dan yang sakit bisa disembuhkan.  


Kontak person secara massal akan menyebarkan virus secara cepat jika dalam kerumunan orang ada satu saja yang terindikasi terinfeksi virus corona. 


Namun, liburnya anak sekolah tidak berdampak signifikan jika tidak diikuti oleh kesadaran mayarakat untuk tidak keluar rumah dalam usaha untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain yang tidak diketahui sebagai suspect atau tidak. Ternyata banyak siswa yang mendatangi warnet atau warkop untuk mencari Wifi.  


Mereka mengisi liburan bersama teman-temannya untuk main game online. Mereka tidak melakukan kontak langsung di sekolah,  tapi mereka berkumpul di luar rumah. Kontak langsung dengan banyak tidak bisa dihindari saat masyarakat tidak bisa menahan diri untuk tidak keluar rumah. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mengisolasi diri selama 14 hari  menjadi faktor kegagalan  untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona.


Usaha menghentikan penyebaran virus corona akan sia-sia jika pemerintah setengah hati dalam melakukanya.  Gugus Tugas Penanganan Covid-19 menyatakan keputusan lockdown atau isolasi total dalam penanganan wabah Virus Corona belum diambil karena bisa berbahaya terhadap perekonomian.


Bagaimana bisa memutus rantai penyebaran covid-19,  jika interaksi sosial masih terjadi seperti biasanya.  Meskipun,  sekolah diliburkan,  gurunya tetap harus masuk,  Mall tetap buka, dan interaksi sosial terjadi seperti biasanya.  Jalan-jalan masih tetap ramai karena masyarakat tetap keluar rumah untuk mengisi waktu liburan dengan keluarga meskipun convid-19 sudah dinyatakan pandemi.


Mari kita belajar dari Itali yang penyebaran begitu cepat meskipun sudah dinyatakan lockdown oleh penguasa setempat. Namun,  Banyak masyarakat mengabaikan peringatan ini dengan melakukan interaksi sosial dan keluar rumah seperti biasa. Mereka menganggap remeh peringatan untuk mengisolasi diri dan tidak keluar rumah selama 14 hari.  Masyarakat harus menyadari bahwa lockdown juga ada dalam hukum Islam untuk menghentikan penyebaran wabah penyakit.



Tidak boleh setengah hati untuk menghentikan penyebaran virus corona.  Tidak cukup hanya sekolah yang diliburkan tapi semua aktifitas keluar rumah harus diliburkan sementara selama 14 hari.  Selama 14 hari akan nampak siapa yang terinfeksi oleh convid-19. Kemudian,  mereka yang terinfeksi diisolasi dan diobati sampai sembuh.  


Berbeda jika mereka sudah terinfeksi tapi belum menampakkan tanda-tandanya.  Dan selama 14 hari yang harusnya tidak berinteraksi, mereka berinteraksi dengan banyak orang  akan banyak orang yang terinfeksi dalam jumlah besar. Mereka yang sakit tidak akan bisa dirawat dengan baik karena keterbatasan tempat dan tenaga medis untuk menangai Convid-19.  Akibatnya banyak korban yang tidak tertolong. 


Harusnya pemerintah tidak boleh setengah hati dalam memutus rantai penyebaran virus corona.  Jika sebuah aturan tidak diikuti sanksi,  jatuhnya hanya sebuah anjuran. Harapan libur sekolah mereka tetap mengisolasi diri di rumah, tapi tidak mereka lakukan.  Mereka menyambut liburan dengan penuh suka cita dan jalan -jalan keluar rumah.  Semangat untuk mengisolasi diri agar penyebaran virus bisa berhenti tidak terlihat nyata.  Aktifitas di luar rumah masih terjadi seperti biasanya.


Dan yang lebih mengherankan pemerintah membiarkan warga negara china masuk ke Indonesia.  Bahkan pemerintahan Arab Saudi saja membekukan kegiatan ibadah umroh dengan melarang orang asing masuk ke negaranya.  Tapi aneh di Indonesia membiarkan tenaga kerja asing dari China masuk ke Indonesia bahkan secara legal.  Ini menunjukkan Indonesia setengah hati dalam usaha untuk menghentikan penyebaran virus corona.


Baca Juga: Corona Bikin Dilema

Menko Kemaritiman dan Invetasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan 49 tenaga kerja asing (TKA) dari China yang berada di Kendari, Sulawesi Tenggara merupakan warga negara asing yang legal. Menurutnya, banyak informasi yang kurang benar soal 49 orang ini. 


Inilah sistem demokrasi yang tidak menjadikan rakyat sebagai prioritas utama.  Harusnya untuk melindungi rakyat, pemerintah harus berani mengambil kebijakan lockdown dan melarang warga negara asing khususnya dari negara sumber pandemi masuk ke Indonesia.  Pemerintah harus juga mengantisipasi berbagai dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan dari kebijakan yang diambil untuk melindungi rakyatnya.[MO/ia] 


Posting Komentar