Oleh: Anggi Rahmi


Mediaoposisi.com-Hari demi hari begitu mencekam. Setiap kaki melangkah tak lagi bebas. Udara dan lingkungan tak lagi ramah. Setiap desiran angin selalu mengejutkan membawa berita korban yang terus berjatuhan. Dunia bagaikan dirundung kegelapan yang tak pernah dirasa sebelumnya. Tuhan… malapetaka biological warfare ciptaan manusia angkuh dan rakus itu mengampiri negeri kami.


Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) kembali bertambah menjadi 579 orang pada senin (23/3). Korban yang meninggal pun meningkat menjadi 49 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan jumlah pasien Covid-19 pada Minggu (22/3), yang mencapai 514 orang, 48 orang meninggal, dan 29 sembuh.


Kasus tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Setiap hari selalu mengalami peningkatan. Langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah hari ini adalah Lockdown. Tetapi pemerintah tidak pernah mengeluarkan perintah Lockdown sekalipun. Bahkan beberapa pejabat public mengeluarkan pernyataan yang sangat tak masuk akal. 


Mulai dari minum jamu, minum susu kuda liar, makan nasi kucing , hingga corona bisa sembuh sendiri. Mereka pikir nyawa  rakyat ini tidak berharga sehingga mereka jadikan bahan lawakan? Sungguh tidak berperikemanusiaan. Ini benar-benar membuat rakyat geram dan tidak habis pikir bagaimana bisa wakil rakyat yang terpilih hanya mempunyai kapasitas bicara konyol dan  asbun seperti itu.


Padahal tenaga medis sudah menyatakan bahwa mereka kewalahan mengatasi jumlah pasien yang terus bertambah, juga peralatan APD (alat perlindungan diri) semakin tidak mencukupi. Terakhir yang membuat hati rakyat yang semakin pilu adalah wafatnya 5 orang dokter karena tertular covid-19 dari pasien yang mereka tangani. Tidakkah hal ini seharusnya membuat pemerintah harus bergerak cepat untuk segera mengeluarkan kebijakan lockdown untuk memutus rantai penularan Covid-19 ini.


Bossman mardigu (19/3) – Corona ini bukan seperti virus biasa tetapi ini adalah biological warfare ini data inteligen dan ini valid dimanapun sudah ada data tersebut. Harusnya ini adalah extraordinary action,ini kok melihatnya biasa saja, kayaknya kok ragu-ragu begitu.


Dalam video nya yang berdurasi 4 menit 2 detik tersebut dapat disimpulkan bahwa dampak Covid-19 di Indonesia akan sangat mengerikan. Karena kemungkinan tertularnya Covid-19  bisa mencapai 1000 orang bahkan 5000 orang perhari. Benar sekali ternyata “gak niat banget pemerintahnya, lemah banget komunikasi pejabatnya, masak sih bangsa kita harus “learn by the hard way” terus menerus? Belajar dari yang keras terus menerus.”


Sebenarnya Indonesia bisa mencegah pandemi ini untuk tidak menjadi kasus serius, jika pemerintah bisa lebih peka. Karena kasus ini pertama kali muncul di China, seharusnya penguasa bisa belajar banyak dari China.


Sebelum virus tersebut menular ke Indonesia Pemerintah seharusnya bisa membuat kebijakan dengan cepat untuk menutup seluruh akses darat, laut, udara bagi  WNA baik China maupun non China yang ingin berkunjung ke Indonesia. Sayangnya, Penguasa tidak melakukan itu.


Namun disaat kondisi Indonesia sudah terlanjur terpapar Covid-19, pemerintah justru berdiam diri dibalik istana tanpa menetapkan kebijakan lockdown. Karena lockdown membutuhkan dana maka pemerintah tidak menganjurkan lockdown justru yang dilakukan pemerintah hari ini itu hanyalah mengingatkan agar melakukan social distancing, padahal itu saja tidak cukup untuk mencegah penularan.


 Lucunya rezim zamrud khatulistiwa, dana untuk lockdown yang nyata-nyata mengancam 271 juta jiwa Indonesia tidak ada? Tetapi mau membangun ibu kota baru dengan dana 466 triliun , ngaku dananya sudah ada? Are you kidding us?



 Dana sebanyak itu datang dari mana? padahal untuk bayar hutang saja tidak mampu. Ini fakta, karena para jubir pemerintah sendiri optimis mengatakan dana 466 triliun bukanlah hal yang susah untuk didapatkan di Indonesia. Lalu, jika untuk membangun ibu kota baru yang ribet saja pemerintah bisa, mengapa untuk menerapkan lockdown saja tidak bisa?


Sekali lagi hal tersebut membuktikan bahwa hari ini pemerintah Indonesia tidak berdaulat. Akibat gemar menghutang kepada asing–aseng sehingga untuk lockdown pun tidak berdaulat. Sungguh naas rakyat miskin terpaksa harus tetap bekerja di luar rumah untuk mencari rezeki agar tetap mampu bertahan hidup di tengah ancaman pandemic Covid-19 yang setiap saat bisa saja menyerang mereka.



Covid-19 membuktikan bahwa Demokrasi tidak mampu melindungi rakyat, suara rakyat yang di dengar bukan bagi rakyat kecil dan melarat, tetapi mereka yang mempunyai jabatan, kekuasaan, kepentingan dan uang yang akan mempermainkan nasib rakyat kecil di negeri demokrasi. Inilah demokrasi dengan rezim korporatokrasi yang tak pernah sekalipun mengurusi urusan rakyat.



 Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk mengatasi kasus Covid-19 ini umat tidak membutuhkan rezim pengkhianat rakyat tetapi rakyat butuh di pimpin dengan sistem baru yang akan bersungguh-sungguh mengurusi urusan rakyat.


Dalam kitab Ash-Shahihain diceritakan suatu ketika Khalifah Umar Bin Khattab mengunjungi daerah Syam. Dia kemudia bertemu sengan Ubaidah bin Al-Jarrah dan sahabat yang lainnya. Mereka melaporkan kepada Khalifah Umar Bin Khattab bahwa Syam sedang diserang wabah kolera maka setelah bermusyawarah Khalifah Umar segera memutuskan kembali ke Madinah. 


Dia juga memerintahkan untuk melockdown wilayah yang terkena kolera dan bagi mereka yang bersabar terkena wabah jika mereka meninggal akibat wabah tersebut mereka akan mendapatkan pahala mati syahid, rakyat pun patuh dan taat dengan perintah yang diberikan kepada mereka.



Maka kondisi tersebut juga bisa diterapkan di Indonesia saat ini. Namun, karena sistem yang dipakai bukan sistem politik Islam dan pemerintahnya juga tidak bermental negarawan sejati maka wajar saja jika Covid-19 akan  terus menjalar ketubuh umat.


Jika berbicara tentang masalah saja mungkin tulisan ini tidak akan usai. Mengingat masalah Indonesia khususnya dan dunia umumnya sangat banyak. Mulai dari pendidikan, pengangguran, korupsi, krisis moral, dolar naik,  kriminalitas, kezaliman rezim dan lainnya, itu semua akan bisa terselesaikan hanya dengan satu solusi yaitu menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Adapun sistem tersebut adalah Khilafah Islamiyah yang telah terbukti mampu menaungi dunia Islam dengan luas wialyah dua per tiga dunia.


Khilafah tidak hanya akan melindungi umat Islam saja tetapi juga non-muslim yang mau patuh dan tunduk diatur dengan syariat Islam. Hal ini bukan dongeng semata karena telah terbukti eksistensinya mampu memimpin umat dengan luas wilayah dua per tiga dunia selama kurang lebih 13 abad. Tidak kah kita rindu dengan kehadirannya? Untuk itu tunggu apalagi wahai rakyat Indonesia?


Tidakkah jelas politik demokrasi rezim hari ini sangat kejam dan menyengasarakan kita? Suadh saatnya kita bangkit dan Berjaya didalam naungan daulah khilafah Islamiyah yang berasal dari Sang Pencipta Allah ‘Azza Wajalla.







Posting Komentar