Oleh : Dedah Kuslinah, S.T
 (Muslimah Ideologis Khatulistiwa)



Mediaoposisi.com-Serasa memikul beban yang berat ketika tulisan ini saya beri judul kriminalitas cilik. Merinding, karena tak pernah terbayangkan. Sosok anak yang masih cilik-cilik terpampang dalam pemberitaan media online. Mereka harus berurusan dengan hukum.


Di Jambi, anak-anak yang masih duduk dibangku kelas lima Sekolah Dasar bergiliran melakukan tindakan tak senonoh kepada adik kelasnya yang baru duduk dikelas dua. Dan mirisnya dilakukan dikelas saat jam pelajaran berlangsung.


Seorang anak berusia 12 tahun di Mandonga bikin geger. Ia harus berurusan dengan polisi setelah tertangkap warga sedang mencuri celana dalam wanita. Menurut Kapolsek Mandonga AKP I Ketut Arya Wijarnaka, anak ini mencuri celana dalam wanita yang sedang dijemur. Ia sengaja mencuri celana dalam untuk dipakai onani.



Tidak hanya terpapar kasus-kasus pemuasan nafsu sahwat, remaja kita juga telah menjadi sosok yang supertega.



Siswi SMP di Jakarta, menjadi psikopat cilik setelah banyak mengkonsumsi tontonan film horor. Tokoh idolanya Chucky dan Slender Man. Hasrat membunuhnya terinspirasi dua tokoh film ini. Meski nilai akedemiknya bagus, serta kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik, namun tidak bisa menjadi control untuk tidak melakukan aktivitas yang buruk. Bahkan perasaan bersalah pun tidak hadir setelah ia melakukan pemnbunuhan itu.


Di Kupang, tiga pelajar SMA melakukan penganiayaan terhadap seorang guru. Tidak Cuma memukul, tiga pelajar ini lempari guru pakai batu dan kursi (Kompas.com, 4/3/2020). Penganiayaan ini terjadi, sesaat setelah seorang guru menegur ketiga siswa tersebut karena belum mengisi daftar hadir. Hal ini menyulut kemarahan mereka dan langsung  memukul sang guru hingga terjatuh. 


Tersungkurnya bapak guru tak menyurutkan aksinya. Seolah mereka semakin tertantang untuk melakukan tindakkan lebih jauh lagi. Maka kepala bapak guru pun diinjaknya kemudian mereka melempari sang guru dengan batu dan kursi. Aksi supertega ini dipersembahkan oleh remaja kita.


Beberapa tahun yang lalu, seorang murid SMK di Sampang Madura, menganiaya guru pelajaran seni tatkala pelajaran sedang berlangsung. Teguran sang guru karena dirinya tidak focus pada pelajaran dan atas aksinya menggangu teman sekelasnya, memicu tindakan anarkis ini. Dari pukulan yang dilayangkan sang murid menghantarnya menghadap Yang Maha Kuasa.



Ada apa dengan remaja kita?



Sebagaian besar berpendapat bahwa, anak yang melakukan tindak kriminal dikarenakan tidak ada perhatian dari orangtuanya. Kurangnya pengawasan dan kasih sayang. Broken home dan korban kekerasan.


Aktris senior Jajang C Noer menilai, tontonan tak mungkin secara instan mempengaruhi pikiran seseorang. Semua orang menjadi jahat karena tidak merasakan kebahagian dalam hidupnya.



Kriminologi anak, Haniva Hasna menjelaskan bahwa berdasarkan teori Social Bonding, ada empat faktor yang menyebabkan seorang anak malakukan tindakan kekerasan. Pertama, Attachment (keterikatan). 



Keterikatan atau kedekatan orangtua dengan anak berperan besar dalam tindakan sang anak. Ketika ia tidak ada kedekatan maka ia tidak mempunyai rasa tanggungjawab. Begitu pun ketika ada niat melakukan aksi kriminal, maka dirinya tidak memikirkan perasaan dan kondisi orangtuanya. Selama anak tidak merasa punya kedekatan apapun dengan orangtuanya, dia akan bebas melakukan apapun sekehendak hatinya.



Kedua,  tidak mempunyai comittment (komitmen), sehingga tidak tahu tujuan hidupnya apa. Ketiga, involvement, keterlibatan di masyarakat, keterlibatan di sekolah. Keterlibatannya dengan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan anak.



Kemudian faktor keempat adalah kepercayaan (belief) yakni agama, norma, aturan yang membuat orang takut melakukan hal-hal yang salah atau menyimpang. Adapun terkait tontonan, tidak semua tontonan kekerasan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.


Berbeda halnya dengan pendapat budayawan asal Jember, Sujiwo Tejo. Ia mengatakan diacara ILC bahwa delusi yang diciptakan oleh film bisa menjadi berbahaya jika diyakini oleh seseorang.



Delusi adalah salah satu jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis. Orang yang mengalami delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan. Penderita gangguan delusi meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.



Delusi yang paling berbahaya kalau dia meyakini itu sebagai kehidupannya. Dia tidak akan merasa bersalah, karena sudah menginternalisasi dalam dirinya peran itu. Yakni peran yang dibayangkan di film-film itu sudah ada dalam dirinya.(wow.tribunnews.com).


Psikolog anak dan keluarga dari UI, Anna Surti Ariani menyarankan, pertama orangtua wajib menghindari budaya kekerasan yang mewarnai kehidupan anak remaja. Dengan tidak memperbolehkan anak menonton video dan film berbau pembunuhan dan berbagai kekerasan lainnya.


Kedua, hentikan aktivitas kekerasan dalam rumah dari orangtua ke anak seperti kekerasan fisik berupa pukulan, tendangan, cubitan. Kekerasan emosional seperti ancaman, kata-kata kasar, hinaan ataupun pengabaian.


Ketiga jauhkan anak dari perundungan dan penghinaan di lingkungan sekolah dan  sekitar tempat tinggalnya.


Ghazizah Gusnita (kriminolog UI) faktor anak melakukan tindak pidana, berdasarkan teori delinquency adalah lingkungan, teman sebaya, orangtua dan pola asuh. Adapun menonton adegan kekerasan, anak akan mengingat kondisi kekerasan yang pernah dialaminya. Oleh karena itu, saat anak kerap terpapar kekerasan, anak akan menganggap kekerasan itu hal wajar.


Mengacu pada pendapat para pakar, bahwasannya krimanilitas yang dilakukan para bocoh mengerucut pada problema ketahanan keluarga, tidak adanya control masyarakat, dan negara abai.



Porak porandanya ketahanan keluarga karena beban ekonomi yang semakin berat dan pemisahan agama dalam kehidupan. Sehingga pondasi keluarga menjadi rapuh, karena tidak ditanamkannya akidah islam.


Akidah islam adalah keimanan kaum muslim senantiasa mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam segala urusan mereka. Karena tidak ditanamkannya akidah islam maka tidak akan perenah mengerti tentang tujuan hidupnya,  dan tak paham bahwa seluruh aktivitas terikat dengan hukum syara, yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Dengan kata lain porak porandanya ketahanan keluarga akibat diterapkannya system sekular kapitalis.


Sistem sekuler kapitalis menciptakan manusia individualis, tak mau tahu apa yang terjadi disekitar lingkungannya. Yang penting keluargaku aman, tidak mau peduli dengan keluarga lain.



Adapun terkait tontonan, para pakar berbeda pendapat, yang sebenarnya ini membuat keraguan di masyarakat antara memperbolehkan atau melarang untuk mengkonsumsi tontonan kekerasan maupun tontonan yang syur. Disinilah abainya negara. Harusnya negara menjadi pelindung dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.



Dan hanya aturan islam yang memberikan solusi yang tegas karena berdasarkan halal dan haram. Dalam kaidah fikih, apa saja yang dapat menghantarkan kepada keharaman, maka hukumnya haram. Jika tontonan itu memuat sesuatu yang dilarang, baik itu aksi kekerasan atau adegan yang dapat membangkitkan nafsu sahwat, maka Negara akan melarang meproduksinya, memperbanyak dan menyebarkannya, meskipun sebagaian pakar mengatakan tidak akan mempengaruhi seseorang. 


Tontonan yang harus sampai kepada masyarakat adalah yang mengedukasi dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT.



Jika kita melihat mundur ke belakang, dimasa lalu keluarga kaum muslimin menjadi madrasah pertama bagi putra-putrinya. Di usia emas (golden age) anak-anak bisa dibentuk menjadi apapun. Tergantung orangtuanya. Sejak sebelum lahir dan saat balita, orangtuanya telah membiasakan putra putrinya yang masih kecil untuk menghafal al qur’an. Kemudian mulai menghafal kitab- kitab hadits dan mereka pun belajar kitab- kitab bahasa arab yang berat, sekelas Alfiyah Ibn Malik.



Selain penguasaan knowledge yang begitu luar biasa, mereka juga dibiasakan untuk mengerjakan shalat, berpuasa, berzakat, infaq, hingga berjihad sehingga terbentuk akidah yang kokoh.


Mungkin kita masih ingat dengan ungkapan bijak “ jika seseorang tidak menyibukan diri dalam kebenaran pasti sibuk dalam kebatilan.”  Oleh karena itu berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukan masyarakat dalam kebathilan harus dihentikan. Mungkin awalnya mubah, tetapi lama-lama kemubahan tersebut melalaikan bahkan menyibukan dalam kebathilan.


Nabi Muhammad Saw menitahkan “ diantara ciri baiknya keislaman seseorang ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya. Boleh jadi sesuatu yang tidak manfaat itu mubah, tetapi sia-sia. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang digunakanpun hilang percuma.”


Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat dan kuat, ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, juga sistem yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat, walhasil kehidupan sosial yang terjadi ditengah masyarakat benar-benar bersih. Kehormatan (izzah) pria dan wanita serta kesucian hati (iffah) merekapun terjaga.


Semua ini memang membutuhkan Negara dengan sistemnya yang luar biasa. Dan ini adalah khilafah, bukan yang lain. Wallahu a’lam bish shawwab.[Mo/ia]




Posting Komentar