Oleh: Yuni Damayanti
(Pemerhati Sosial Asal Kabupaten Konawe, Sultra)

Mediaoposisi.com-Seorang pelajar SMP di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) berinisial Z (12) mencuri celana dalam wanita untuk melakukan fantasi seksual. Total sebanyak 12 lembar pakaian dalam wanita berhasil dicuri. Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mandonga AKP I Ketut Arya Wijanarka menjelaskan, bahwa Z melakukan aksinya pada malam hari. Pelaku mengambil celana dalam saat sedang dijemur.


AKP I Ketut Arya Wijanarka di Mapolsek Mandonga mengatakan bahwa seusai mengambil lalu dibawa pulang untuk dicium lalu melakukan aktivitas seksual. Ia pun mengatakan bahwa anak tersebut terinspirasi film porno yang sering dinonton di warnet. Celana dalam itu dicium sambil beronani (coli).



Arya menambahkan, aksi anehnya akhirnya terbongkar setelah yang bersangkutan tertangkap basah oleh warga di kawasan pemukiman samping pasar grosir, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Rabu (4/3/2020) sekitar pukul 01.00 Wita. Kata Arya, saat itu jajarannya tengah melakukan patroli. Saat melintas, warga kemudian menyerahkan anak yang telah diamankan tersebut. 



Meski begitu, pihak kepolisian tak memproses hukum Z karena masih di bawah umur. Menurut Arya, pihaknya hanya melakukan pembinaan lalu selanjutnya diserahkan kepada orang tuanya 



Miris melihat banyak perilaku menyimpang yang terjadi belakangan ini, beberapa di antaranya terinspirasi dari tontonan. Misalnya  pembunuhan yang dilakukan ABG berusia 15 tahun (NF) dengan korban bocah berusia 6 tahun (APA)  baru-baru ini di Sawah besar, Jakarta Barat. Pembunuhan itu dilakukan karena terinspirasi dari film horor yang ditontonnya, film kesukaanya adalah chucky dan The Slender Man.


Plt Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Lies Rosdianty berbagi tips untuk orang tua supaya menjaga anak-anaknya agar tidak mudah terpapar situs pornografi.  Pertama, dampingi anak saat mengakses internet. 



Dampingi anak-anak Anda saat memegang gadget, laptop atau komputer sekalipun. Apalagi saat mereka berselancar di dunia maya. Jangan biarkan mereka mengakses sendirian. Batasi hal-hal yang tidak wajar diakses karena berbahaya. Kalau perlu, gunakan safety feature untuk anak dalam mengakses internet. Hal ini begitu penting agar mencegah anak supaya tidak terpapar situs pornografi.


Kedua, berikan pengertian yang baik kepada anak. Bagaimanapun pada awal mengenalkan anak ke dunia internet, orang tua harus mendampingi dan memberi tahu anak, tentang mana yang boleh dibuka dan tidak. Pengetahuan ini sangat penting agar anak terhindar dari situs internet yang tidak layak untuk mereka. Orang tua juga harus berhati-hati dan memberikan contoh yang baik untuk buah hatinya. Apalagi kondisinya anak selalu mengkritisi segala hal yang baru diketahuinya.



Ketiga, jangan biarkan anak akses gadget di kamar. Jangan letakkan komputer atau laptop di dalam kamar, juga jangan berikan anak gadget ketika tidak bersama orangtua. Hal ini membuat anak semena-mena mengakses situs apapun yang diinginkannya. Beberapa kali bahkan orang tua kecolongan. Anak tahu segalanya seputar situs-situs yang sebenarnya tidak cocok diakses oleh mereka. Orang tua harus mencegah itu supaya anak nyaman dan mendapatkan informasi dari internet sesuai usia.


Keempat, hapus history di gadget. Saat orang tua baru saja mengakses situs-situs apapun di internet, segera hapus history. Khawatirnya, gadget Anda dibuka oleh anak-anak yang seharusnya tidak mengetahui situs internet yang cocok untuk orang dewasa. Mereka lebih peka dan rasa penasarannya tinggi. Karenanya, jangan biarkan mereka tahu history situs yang baru Anda buka supaya aman.


Kelima, buat profil safety mode. Bedakan situs internet yang dimiliki oleh anak dan orang tua. Khusus anak, pakailah safety mode dengan memasukkan usia anak saat mendaftar sebuah akun. Hal ini sangat penting supaya anak tidak bisa mengakses situs internet yang negatif. Satu platform biasanya menyaring situs apa saja yang tidak boleh diakses anak-anak saat berselancar di dunia maya. Begitupun dengan model game yang aman untuk mereka saat dimainkan.



Selain orang tua harus ekstra dalam mengawasi anak-anaknya, negara juga tak kalah penting peranannya dalam mengontrol film dan penayanganya di tengah-tengah masyarakat. Saat ini media massa di dalam negeri seolah dengan mudahnya menayangkan hal-hal yang berbau pornografi dan hal lain yang memberikan kontribusi masyarakat kepada tindakan seksual atau mendorong terjadinya seks pranikah, pemerkosaaan, pelecehan seksual terhadap anak, kelainan seks dll. 


Apalagi didukung oleh kemajuan teknologi, semua bisa diakses dengan mudah lewat telepon genggam.


Di samping itu, lemahnya keimanan mendorong individu untuk mencontoh perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat, sebab tidak adanya kesadaran bahwa Allah mengawasi setiap perbuatan hamba di dunia.


Tak hanya itu, ternyata di dalam Protokoler Yahudi disebutkan, “Kita wajib berbuat untuk menghancurkan akhlak di setiap tempat, sehingga kita mudah menguasai mereka (kaum muslimin). Dan akan selalu ditayangkan hubungan seksual secara jelas agar  tidak ada lagi sesuatu yang dianggap suci dalam pandangan para pemuda, akibatnya keinginan besar mereka adalah bagaimana memuaskan insting seksualnya. 


Ketika itulah akhlaknya hancur.”[6]. Dari sini telah terlihat kesuksesan orang kafir penjajah meracuni otak generasi muslim dengan pornografi sehingga menghasilkan bocah 12 tahun  yang mencuri belasan celana dalam untuk memenuhi fantasi seksualnya dan bocah-bocah lainnya yang perilakunya sangat memprihatinkan.


Seharusnya melalui media, negara memberikan pendidikan bagi masyarakat, menjaga akidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Bila ada yang melanggar ketentuan ini,  negara bisa menjatuhkan sanksi kepada penanggung jawab media.


Sulit dipungkiri, media dalam sistem kapitalisme tak sedikit berorientasi pada hiburan dan bisnis semata. Sementara, dalam Islam media mewujudkan fungsinya sebagai sarana edukasi dan informasi. Islam tidak mengadopsi kebebasan pers. Islam melindungi perempuan agar tidak menjadi korban media, karena perempuan adalah kehormatan. 



Anak-anak juga dilindungi dari tayangan-tayangan sampah yang membuat kecanduan  atau mengajarkan kekerasan dan kepornoan. Media bagi anak-anak didominasi dorongan berperilaku positif sebagaimana dicontohkan generasi-generasi sukses dalam peradaban Islam, bukan karakter-karakter khayalan dengan kekuatan super.


Oleh karena itu, sulit menciptakan kondisi yang ramah anak, jika minim sinergi antara orang tua, lingkungan masyarakat dan negara. Karena itu, untuk mewujudkan media yang sehat, mencerdaskan dan melindungi umat, maka peran negara memiliki andil yang sangat besar, yakni secara tegas menghapus semua media yang mengantarkan pada keharaman baik dalam bentuk buku, majalah, siaran TV atau konten-konten virtual. 



Hal itu pun hanya mungkin terwujud apabila aturan-Nya diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, seorang pemimpin negara dalam istitusi Islam akan menetapkan media ditangani khusus oleh Departemen Penerangan yang bertanggung jawab langsung pada pemimpin.[MO/ia]  


Wallahu a’lam.







Posting Komentar