Oleh. Hana Annisa Afriliani,S.S
(Penulis Buku dan Aktifis Dakwah)

Mediaoposisi.com-Hari perempuan internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret, nyatanya masih tetap diwarnai dengan noktah hitam nasib perempuan. Masih ada saja kasus yang menjadikan perempuan sebagai objek eksploitasi, baik secara seksual maupun ekonomi.


Entah bagaimana, di alam liberalis hari ini, perempuan kerap menjadi korban pelecehan seksual. Yang terbaru adalah seorang siswi SMK di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, dilecehkan secara seksual oleh ketiga teman lelakinya di dalam kelas. Kedua tangannya dipegangi dan teman-teman lelakinya itu meremas dada siswi tersebut secara bergantian. 


Meski sudah berontak sekuat tenaga dan berteriak minta ampun, teman-teman lelakinya tersebut tetap meremas dada siswi tersebut. Parahnya aksi tersebut direkam dan diungguh ke media sosial, kemudian viral. Selidik punya selidik, para pelaku mengakui bahwa mereka melakukan hal tersebut karena bercanda. Sungguh berlebihan bukan?


Realitanya, pelecehan terhadap perempuan banyak terjadi di sekitar kita. Kita sering mendengar bagaimana seorang perempuan dilecehkan secara seksual di tempat-tempat umum, misalnya di KRL, di jalanan, dll. Bahkan pelecehan tersebut bukan hanya menimpa mereka yang membuka aurat saja, tetapi juga yang berhijab syari.


Hal terdebut menunjukkan bahwa pelecehan seksual yang menimpa perempuan didorong oleh banyak faktor. Bukan hanya sisi perempuannya yang mengundang syahwat dengan memperlihatkan aurat. Meski hal tersebut sangat mungkin juga menjadi salah satu pemicunya. Namun demikian, pelecehan seksual yang menimpa kaum perempuan juga dipicu oleh faktor eksternal. Yakni bertebarannya konten-konten pornografi yang memantik bangkitnya syahwat kaum lelaki.


Sejatinya manusia secara fitrahnya memiliki gharizah nau, yakni naluri untuk melestarikan jenis. Adapun naluri tersebut akan bangkit manakala distimulasi oleh faktor-faktor luar, seperti tontonan, bacaan, dan lagu-lagu. Sedangkan di sistem liberal hari ini, berbagai sajian tersebut tak bisa dilepaskan dari pornografi. 


Umbaran syahwat seolah menjadi hal yang harus ada demi mendongkrak minat pasar. Karena hal sejenis itulah yang memang disukai, terutama oleh generasi milenial. Seolah urusan cinta adalah urusan yang paling vital dalam hidup. Maka tak heran, jika di sistem liberal ini pula banyak terlahir bucin alias budak cinta. Sungguh memprihatinkan!


Liberalisme sungguh telah memberikan ruang bagi terciptanya kejahatan terhadap perempuan. Karena hakikatnya liberalisme meniscayakan terciptanya produk-produk pornografi. Perempuan tak hanya menjadi korban atas efek pornografi, melainkan menjadi pelakunya.


Atas nama kebebasan berperilaku, perilaku mesum dan membuka aurat dibiarkan. Bahkan ketelanjangan dikatakan sebagai sebuah seni. Seperti yang belakangan viral di media sosial, soal foto telanjang seorang model bernama Tara Basro. 


Banyak pihak yang mengapresiasi bukan menasehati. Bahkan mengganggap apa yang dilakukannya tak mengandung unsur pornografi. Termasuk pernyataan dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo) Johhny G. Plate. Ia menyebut, foto yang diunggah pemain film Pengabdi Setan itu sebagai seni. 


Liberalisme Akar Masalah Kejahatan Terhadap Perempuan


Tak bisa dipungkiri bahwa penerapan sistem liberal di negeri ini menjadi akar atas terjadinya problematika yang membelit kaum perempuan. Liberalisme telah sukses memengaruhi konsep diri perempuan tentang sebuah kehormatan. 

Seolah kehormatan bulan lagi sesuatu yang berharga dan sakral. Nilainya semakin terkikis oleh popularitas dan materi. Bukankah banyak perempuan yang rela menggadaikan kehormatannya demi imbalan popularitas dan gelimang materi?


Para perempuan seolah tak menyadari bahwa dirinya tengah tersandera sistem liberal. Tubuh dan kecantikan mereka di eksploitasi, diimingi-imingi lembaran rupiah. Tak lupa puja-puji bahwa jutaan pasang mata yang menikmati adalah sebuah penghargaan. Padahal mereka tertipu, karena sejatinya mereka sedang dilecehkan.


Islam Memuliakan Perempuan


Berbeda dengan sistem liberal, yang menjadikan perempuan sebagai objek syahwat, Islam menjadikan perempuan sebagai mahkota peradaban. Keberadaannya sangat dimuliakan. Terbukti dengan adanya sederet aturan dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum perempuan. 


Diantaranya Islam mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya secara sempurna dengan hijab syari. Adapun batas aurat perempuan yang harus ditutup adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan hingga pergelangan. Perempuan juga diharamkan bertabaruj (menonjolkan kecantikan) di ruang-ruang publik.


Islam juga menganjurkan perempuan untuk tetap berada di dalam rumahnya, kecuali jika ada keperluan syari, maka boleh keluar rumah, misalnya menuntut ilmu, berdakwah, berbelanja, dll. Islam melarang perempuan bercampur-baur dengan kaum lelaki, apalagi berdua-duaan (khalwat).


Selain itu, Islam melalui regulasi negara akan menerapkan sanksi tegas terhadap pelaku pelecehan terhadap perempuan dan kejahatan lainnya yang menyangkut perempuan. Sistem Islam akan mengenakan hukum ta’zir (berupa denda, cambuk atau kurungan) bagi pelaku khalwat, pelecehan dan lain sebagainya. Hukum-hukum tersebut akan menjamin keamanan, kehormatan serta kemuliaan kaun perempuan.


Adapun bukti sejarah telah menampakkan secara gamblang bagaimana penjagaan kehormatan perempuan oleh Khilafah. Pada masa Rasulullah saw., ada seorang Muslimah yang berbelanja di pasar Bani Qainuqa. Kemudian pada saat itu ada seorang Yahudi mengikat ujung pakaian perempuan Muslimah tadi, sehingga ketika berdiri auratnya tersingkap. 


Orang-orang Yahudi di sekitarnya pun tertawa melihatnya. Lantas perempuan tersebut berteriak. Kemudian salah seorang Muslim datang menolong dan langsung membunuh pelakunya. Namun kemudian, orang-orang Yahudi mengeroyok dan membunuh Muslim tersebut. 


Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah saw., beliau langsung mengumpulkan tentaranya. Pasukan Rasulullah saw. mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.


Begitulah pemimpin dalam sistem Islam serius melindungi perempuan. Hal tersebut dikarenakan visi kepemimpinan yang diembannya adalah akhirat. Maka, yang dicari hanyalah rida Allah Swt. Alhasil pemimpin demikian akan bekerja sesuai aturan syariat. Jika Allah memuliakan perempuan, maka seorang pemimpin pun akan berupaya menjamin agar kemuliaan itu terwujud atasnya.


Dengan demikian kaum perempuan hanya akan terlepas dari jerat pelecehan dan kemaksiatam jika berpegang kepada aturan Allah Swt. Mendekap Islam kaffah dalam kehidupan. Tak hanya itu, kemuliaan hakiki perempuan pun akan terwujud jika ditopang oleh sistem yang menjadikan Islam sebagai bingkainya, tak lain adalah Khilafah Islamiyah.[Mo/ia]

AllahuAkbar!!!

Posting Komentar