Oleh : Puput Weni


Mediaoposisi.com-Seakan tak ada henti-hentinya genosida yang terjadi pada umat islam di berbagai belahan dunia. Seperti di Palestina, Suriah, Rohingya, Uighur dan kemarin tanggal 24 Februari 2020 kerusuhan kembali terjadi di New Delhi India yang mengakibatkan 33 korban tewas, lebih dari 200 orang terluka, 2 masjid terbakar, berbagai fasilitas umum dan pribadi hancur. 


Kerusuhan di New Delhi India terjadi karena terdapat UU kontroversial yang mengizinkan India memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. Namun anehnya hal tersebut hanya berlaku bagi agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Muslim. 




Hal tersebut sangat diskriminasi terhadat umat muslim. Efek islamofobia begitu nyata, karena ini merupakan pemicu konflik beragama yang mengakibatkan tindakan teramat  kejam terhadap muslim di India. Saat para ektrimis hindu meneriakkan slogan “Jai Shri Ram” dan menyerang muslim dengan kejamnya.


Sedih, geram melihat ketidakadilan hukum lagi-lagi memakan korban umat muslim. Dimana saat kebanyakan pemimpin dunia menyuarakan antiradikalisme, ekstrimisme dan intoleransi. Namun bungkam jika pelakunya adalah non muslim, sebaliknya jika sang pelaku seorang muslim mereka pasti akan membordir berita-berita menyudutkan umat muslim dan bertindak keras menanggapi hal tersebut. 



Begitu pula para pengusung HAM seakan tumpul pada palaku non muslim dan tajam pada pelaku muslim. Kaum muslim ibarat satu tubuh, jika anggota tubuh lainnya merasakan sakit, maka anggota lainnya juga ikut merasakannya. Sehingga wajib bagi muslim dimanapun mereka berada untuk saling menjaga dan menolong satu sama lain. Namun, umat muslim sekarang tercerai berai karena terdapat sekat nasionalisme yang menghalangi untuk bisa menolong saudara muslim yang tertindas.



Para pemimpin negara muslim bersikap apatis dengan berbagai genosida yang menimpa umat muslim. Seperti pemerintah Indonesia yang tidak mengecam pembantaian muslim di India. Menurut Yunus, ada kemungkinan Jokowi takut hubungan dengan India retak akibat mengecam pembantaian muslim di negeri Bollywood,” pungkasnya. 


Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar suruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan tak bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antara umat Hindy dan Muslim di India beberapa hari terakhir (mcnnindonesia.com, 29/02/2020). Karena kepentingan kapitalisme nurani mereka seakan tertutup melihat saudara-saudara muslim yang dibantai dengan keji tanpa henti.




Sejak kekhilafahan islamiyah runtuh pada tanggal 3 Maret 1924, umat muslim tidak lagi mempunyai pelindung, tidak ada lagi pemimpin yang adil dan mengurusi urusan umat secara manusiawi. Pada saat muslim berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah, semua pemeluk agama baik muslim maupun non muslim mendapatkan perlindungan dan tak akan dizalimi. 



Saat Khilafah Utsmaniyah menguasai hampir 2/3 dunia, dengan keragaman komunitas agama dan etnis, semua dilindungi dan dijamin kesejahteraannya.


Kita lihat sejarah perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih. Setelah menguasai Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan kebebasan kepada orang-orang Nasrani untuk melaksanakan semua acara ritual keagamaan mereka dan memiliki pemimpin keagamaan yang mengatur urusan agama mereka. Hak-hak seluruh umat terpenuhi, tidak ada diskriminasi apalagi genosida.



Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin sehingga tidak mungkin bertindak brutal, karena Allah SWT melarang kezaliman dan Rasulullah SAW juga memerintahkan setiap muslim berlaku adil.  Saatnya kita umat muslim bersatu dan bersama-sama berjuang mengembalikan kejayaan islam. Mewujudkan perdamaian dunia dengan menerapkan syariat islam secara kaffah yang mengambil peraturan kehidupan dari sang Khaliq. Wallahu a'lam bish-shawabi[MO/ia]


Posting Komentar