Oleh : Dedah Kuslinah, S.T

Mediaoposisi.com-Lagi menggelora di sosmed terkait foto seminudis seorang aktris yang konon dalam upaya mengkampanyekan mencintai tubuh sendiri dan percaya diri ditengah ramainya body shaming. Ferdinan Setu, Kabiro Humas Kemenkominfo menyatakan foto tersebut telah menampilkan ketelanjangan, dan melanggar muatan kesusilaan UU ITE, dengan ancaman 6 tahun penjara. 


Namun pak menteri Johnny G Plate menilainya tak melanggar pasal kesusilaan dalam Undang-undang Informasi dan Trasnsaksi Elektronik (UU ITE). Bahkan pak menteri meminta agar hal tersebut dibedakan antara pronoaksi dan seni.


Ibarat bisul yang digaungkan sebagai berlian, sebuah analogi untuk suatu aktivitas yang sebenarnya menyebarkan penyakit dengan mencitrakannya sebagai aktivitas yang mulia. Selaras dengan ketika ketelanjangan dinilai seni, dan terus digaungkan, maka telanjang akan menjadi sesuatu yang biasa. 



Padahal penyakit yang akan mengotori pikiran dan meyebarkan kerusakan moral. Sehingga menonton film porno menjadi trend dan hobi seperti yang pernah disampaikan seorang pejabat negeri beberapa waktu yang lalu. Jika para pejabat negeri yang mempunyai kekuasaan menerbitkan peraturan, mengaruskannya, maka tidak menutup kemungkinan melihat pornoaksi layaknya menonton pertandingan sepak bola.


Jika telanjang dinilai seni, dimana setiap karya seni akan mempunyai nilai jual, tentunya hal ini menjadi magnet bagi yang lainnya untuk melakukan hal serupa. Dengan demikian stimulan-stimulan pemicu hasrat seksual akan menjamur.



Padahal hingga saat ini pornografi dan pornoaksi termasuk masalah moral yang belum tertuntaskan dan mengancam kerusakan moral generasi. Bila beberapa waktu yang lalu, marak dengan tindak kriminal begal motor. Kini kita dibikin resah dengan aksi begal payudara, begal paha dan begal bokong. Kerusakan moral ini akan terus berlangsung dengan berbagai aksi lainnya.


Adapun sikap pemerintah yang lemah terhadap pelaku pornografi dan pornoaksi bahkan bisa dilihat para pejabatnya saja saling bertentang. Dalam kasus ini saja antara Kabiro Humas dan menterinya bertentangan padahal berada dalam satu wadah. 

Baca Juga: Women’s Day

Hal ini menunjukan kelalaian pemerintah dalam menyelamatkan generasi dari kerusakan moral. Semuanya ini tidak terlepas dari gaya hidup kapitalis liberalis yang serba lepas dan hanya memikirkan keuntungan materi. Adapun bidang seni adalah ruang yang terbuka lebar bagi perempuan untuk bebas berekspresi.


Disamping itu kehidupan yang serba sekuler, menafikan agama untuk mengatur kehidupan. Agama hanya sebagai aksesoris pada kolom Kartu Tanda Penduduk. Maka sangat wajar kalau sistem sekuler kapitalis tidak mampu mengatasi masalah, justru memberi celah bagi kaum liberal bebas berekspresi tanpa aturan yang jelas. Serba bebas. Serba boleh. 


Termasuk boleh menampilkan segala bentuk aksi bebas maupun ekspresi asasi dari mahluk seksi ini tanpa batas. Andai mendapat penolakan masyarakat, buru-buru berlindung dibalik HAM, atau atas nilai seni dan budaya. Walhasil kerusakan moral tidak hanya dari satu aspek, melainkan merata diseluruh aspek kehidupan. Inilah salah satu upaya, pendudukan dan kolonialisasi di negeri-negeri muslim.



Satu pernyataan pernah meluncur dari lisan Lord Cromer, Konsul Jendral Inggris yang memerintah Mesir tahun1883-1907, bahwasannya  “ Eropa tidak akan ada di mesir jika tidak menghasilkan uang”



Tentunya ini menyiratkan bahwa sesungguhnya negeri-negeri kaum muslim sangat seksi. Dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan SDM yang banyak, menggiurkan para pemuja nafsu kekuasaan untuk menguasainya. Maka digaungkanlah ide feminisme yang akan memuliakan perempuan-perempuan dinegeri-negeri kaum muslim. Padahal akan merusaknya hingga ranah terkecil yaitu keluarga.



Didalam masyarakat Islam perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat, dan pendidik generasi masa depan. Perempuan sebagai rahim peradaban, pembentuk utama pemikiran dan kecenderungan anak-anak. Sepatutnyalah, untuk menghancurkan suatu peradaban terkhusus peradaban islam maka hancurkan pemikiran dan pemahaman perempuan terkait islam dan aturan Islam.



Menjerat pemikiran dan hati para perempuan muslim menjadi hal yang sangat penting, untuk menguasai wilayah kaum muslim. Merupakan suatu keberhasilan yang cemerlang, jika bisa menjadikan para muslimah untuk menghina dan menolak syariat, dan menganggapnya sebagai musuh. 



Kemudian menariknya menuju identitas dan system barat yang dilihatnya sebagai jalan menuju pembebasan dan keselamatan. Sehingga lahirlah para pendukung dan duta-duta budaya barat dan aturan berorientasi barat yang kuat. Akhirnya umat islam semakin jauh dari Islam, bahkan phobia terhadap ajaran dan aturan Islam.



Sesungguhnya kemuliaan dan kebahagian hakiki seorang perempuan adalah ketika kembali kepada aturan-Nya, bukan feminisme. Perempuan sebagai subjek kehidupan di muka bumi. Konsekuensinya harus terikat dengan aturan yang telah ditetapkan Allah. 



Firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 36 yang artinya “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”               


Aturan Allah mengatur bagaimana manusia mencintai dirinya sendiri (hablun mina nafs) yaitu terkait makanan, minuman, pakaian dan akhlak. Berarti untuk mencintai diri sendiri bukan dengan berfoto nudis atau seminudis. Melainkan, pertama, dengan memperhatikan asupan makanan maupun minuman kedalam tubuh. 


Firman Allah dalam surah Ath-Thaha ayat 81 yang artinya “Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada mu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku maka sungguh binasalah dia”.



Kedua, pakaian yang harus digunakan sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 59 dan an-Nur ayat 31, karena Rasulullah Saw bersabda “ sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haid (baligh) tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan” (HR Abu Dawud). Oleh karena itu sepatutnya harus ditutup dengan pakaian yang telah ditentukan oleh syara’.


Ketiga, terkait dengan akhlak atau perbuatan setiap manusia harus memenuhi dua syarat, niat yang ikhlas artinya niatnya semata-mata karena Allah, untuk Allah dan syarat kedua benar menurut hukum syara’ (miqyasul amal), amal perbuatan tidak bisa disandarkan pada akal, asas manfaat.



Sistem Islam juga sangat mampu memberantas pornoaksi dan pornografi yang sampai saat ini belum tertuntaskan. Untuk itu negara dituntut menjaga akal dan jiwa warganya. Karena itu system islam melarang keras bagi siapapun yang sengaja menyebarluaskan, mecetak atau memperbanyak konten yang berbau pornografi dan pornoaksi.


Islam telah mengharamkan perzinaan dan hal-hal yang mendekatkan pada perzinaan. Negara terjun langsung mengawasi secara ketat seluruh media yang ada, berupaya membentengi umat dari segala kemungkaran dan mendatangkan murka Allah SWT.



Dan dalam kaidah fikih, apa saja yang dapat menghantarkan kepada keharaman maka hukumnya haram. Dengan demikian negara akan menegakkan sanksi bagi pezinah laki-laki dan perempuan. Islam membawa seorang muslim kepada ketaqwaan yang hakiki menuju kehidupan yang lebih baik didunia maupun di akhirat.


Maka menjadi kewajiban moral bagi perempuan untuk menjaga kehormatannya dengan selalu terikat pada hukum syara’ atas semua aktivitas yang dilakukannya. Pornoaksi atas nama seni adalah tindakan merusak (fasad), bagaikan bisul yang digaungkan sebagai berlian dan merendahkan kehormatan perempuan.[MO/ia] 


Wallahu a’lam bish shawwab.





Posting Komentar