Oleh : Rafiah Hafid
(Aktivis Dakwah Kampus)

Mediaoposisi.com-Komisi Nasional (KomnasPerempuan mencatat kenaikan sebesar 300 persen dalam kasus kekerasan terhadap perempuan lewat dunia siber yang dilaporkan melalui Komnas Perempuan. Kenaikan tersebut cukup signifikan dari semula 97 kasus pada 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019.  


Begitupun kekerasan terhadap anak perempuan tercatat naik 65 persen ditahun 2019 ini sebagaimana dilansir dari laman nasional.tempo.com (06/03/2020) bahwa Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus.


Angka yang cukup fantastis menggambarkan kerusakan yang cukup signifikan dialami kaum perempuan. kondisi ini menjadi sorotan terlebih di hari perempuan internasional. Berbagai solusi ditawarkan termasuk kesetaraan gender, perbedaan gender seringkali dianggap sebagai penyebab terbesar diksriminasi bagi kaum perempuan, sehingga muncul jargon kesetaraan gender. 


Baca Juga: Muslimah dalam Jebakan Bank Emok

Bagi para pejuang feminisme yang menuntut emansipasi wanita, hari perempuan menjadi momen paling pas mengkampanyekan kesetaraan gender dengan dalih untuk melindungi perempuan dan mendapatkan hak yang sama selayaknya laki-laki.


Namun pada faktanya adanya ide tentang kesetaraan gender yang telah digaungkan sejak lama bahkan telah diadopsi sebagian masyarakat, nyatanya tidak pernah mampu menyelesaikan permasalahan kaum perempuan termasuk dalam hal kekerasan. Jargon ini justru malah menimbulkan masalah baru dalam sistem keluarga. 


Adanya daya saing antara kaum laki-laki dan perempuan hingga melupakan peran mereka masing-masing dalam membangun keluarga yang harmonis pupus akibat munculnya rasa ketidakadilan. Dari kondisi inilah, muncul ketimpangan yang berujung pada rusaknya tatanan masyarakat yang lahir dari rusaknya institusi keluarga akibat kesetaraan gender yang ternyata merupakan benih dari liberalisme.



Kesetaraan gender, tipu daya liberalisma ala barat

Pasca runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani 1924 di Istanbul, musuh-musuh islam senantiasa mengokohkan agenda-agenda liberalisme-sekuler termasuk dalam hal kesetaraan gender. Sejarahpun telah mencatat bahwa Pengkhianat, Mustafa Kemal At-Taturk berhasil menghapus peradaban islam di Turki salah satunya dengan keberhasilan emansipasi sebagaimana konsep barat yang berhasil dibangun dalam kalangan istri dan anak wanita. 


Keruntuhan khilafah menjadi awal malapetaka kaum muslim sebab runtuhnya perisai yang menjadi penjaga mereka. Setelah khilafah runtuh, Barat semakin berhasil dengan propaganda kesetaraan gendernya, ide ini mulai mengakar ke negeri-negeri kaum muslim, bahkan kesetaraan gender dijadikan simbol perjuangan yang harus diraih kaum perempuan.


Lewat propaganda merebahnya isu-isu kekerasan perempuan, diskriminasi perempuan, eksploitasi perempuan, marjinalisasi, dan kondisi beban ganda yang harus ditanggung perempuan dan isu-isu lainnya yang seakan menggambarkan betapa tertindasnya kaum perempuan. 


Disaat itu pula gencar, musuh-musuh islam dan antek-anteknya pembawa konsep kesetaraan gender melakukan agenda disukusi, training, sosialisasi guna mengkampanyekan ide yang mereka bawa, bahkan upaya mereka sampai pada tahap menginginkan ide ini terwujud dalam bentuk rancangan UU. Tentu tujuan yang diharapkan dari agenda ini bahwa kaum perempuan semakin terjerumus dalam ide yang mereka bawa. 


Bahkan atas naman HAM dan Kesetaraan gender dituntut adanya kebebasan dalam hal seksual sehingga tanpa disadari hal ini menciptakan dukungan terhadap adanya seks bebas, penyimpangan sosial dan rusaknya institusi keluarga melalui peningkatan isu kekerasan dalam rumah tangga, kemudian dibuat tipu daya bahwa kesetaraan gender untuk membebaskan perempuan dari belenggu rumah tangga dan mendukung wanita agar mampu berkiprah di luar rumah tangga. 


Padahal dengan adanya semua itu, justru akan semakin merusak kaum perempuan karena tidak sesuai fitrahnya. Disamping itu, dukungan kemandirian perempuan dalam ekonomi, sekaligus dukungan perempuan terhadap kesehatan reproduksinya lewat isu kesehatan secara bertahap akan membuat perempuan tidak lagi mementingkan institusi keluarga.


Tipu daya besar dari kesetaraan gender, sebuah konsep yang dibangun barat dengan dalih hak asasi manusia dan keadilan justru pada faktanya jalan besar untuk semakin merusak tubuh kaum muslim lewat perempuan dan genarasi. Tujuan barat adalah memporak-porandakan kaum muslim, dan salah satu jalannya adalah rusaknya generasi. 


Dan barat tentu mengetahui bahwa generasi terbaik islam lahir dari seorang ibu yang sangat paham perannya sebagai pendidik generasi islam terbaik. Sehingga dibuatlah upaya konsep kesetaraan gender yang dikemas dengan dalih keadilan untuk merusak tatanan masyarakat mulai dari tatanan keluaraga guna membendung kebangkitan islam.

Islam sebagai solusi

Berbagai manfaat kesetaraan gender yang dilontarkan para aktivisnya. Namun nyatanya kesetaraan gender bukan solusi tetapi justru biang masalah baru. Bahkan apa yang ditawarkan para promotornya semakin jelas bahwa ide ini lahir dari ideologi kapitalis-liberal-sekuler, konsep kesetaraan gender adalah produk yang digunakan barat untuk mencapai kepentingan dan kepuasan mereka demi mengeksiskan hegemoni barat dalam negeri-negeri islam.

Sehingga dalam menangkal konsep kesetaraan gender ini, hal mendasar yang perlu dilakukan adalah merombak metode berfikir umat dari cara berfikir kapitalistik menuju cara berfikir islam. 


Hal ini dapat dilihat dari cara berfikir bahwa penyebab tertindasnya kaum perempuan adalah akibat pendidikan rendah, sehingga dibuat program pemebrdayaan perempuan untuk menyamakan dirinya dengan laki-laki sehingga harus berkiprah di luar rumah tangga dan mandiri secara ekonomi, meski untuk mencapai tujuan itu harus menentang ajaran agama karena menganggap itu mengekang kaum perempuan. 


bermaksud menyelesaikan masalah justru menambah masalah baru yang berbuntut pada hancurnya institusi keluarga karena mencari pembelaan masing-masing dan mengabaikan peran utama masing-masing. Inilah cara berfikir kapitalistik-sekuler yang tanpa disadari sejak awal ingin mencampakkan agama dari kehidupan.

Dalam metode berfikir islam, meski kasus yang dilihat sama yakni keerasan, namun fakta yang dilihat bukan hanya bahwa perempuan berpendidikan rendah mendapatkan banyak kasus kekerasan, sebab pada kasus yang sama ada juga perempuan dengan pendidikan tinggi dan laki-laki dengan pendidikan rendah. 

Disisi lain bukan hanya perempuan yang mengalami kekerasan tetapi adapula laki-laki. Sehingga yang menjadi akar permasalahannya bukan karena si korban perempuan atau si korban berpendidikan rendah, bukan pula permasalahan gender. Melainkan karena kesalahan dari budaya kekerasan yang lahir dari ideologi kapitalis-sekuler hari ini. Sebab dalam ideologi kapitaslis bukan hanya terjadi eksploitasi wanita tapi juga laki-laki. 


Disamping itu, paham sekulerisme menanamkan bagaiman kehidupan tidak ada hubungannya dengan agama. Sehingga mengaggap apa yang dilakukan di dunia tidak ada kaitanya dengan siksa akhirat. Sehingga wajar jika kehidupan para kaum kapitalis-sekuler menampilkan kehidupan yang dibangun dengan hukum rimba karena tampak mendewakan kekerasan.


Oleh karena itu, perlu dijelaskan kepada umat bahwa yang harus diperjuangkan bukan kesetaraan gender melainkan berjuang mengembalikan kehidupan islam dalam bingkai daulah khilafah sebuah sistem kepemimpinan islam yang menjadikan syariat islam sebagai aturan ditengah-tengah mereka,.

Sebab hanya islamlah yang akan menyelamatkan mereka dari kubangan kapitalis-sekuler, karena sistem kapitalis-sekuler yang dibangun dari asas kepentingan dan pemisahan agama dari kehidupan inilah sumber malapetaka ummat.


Allah SWT. Berfirman:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).


Karena itu, individu muslim harus menanamkan cara berfikir islam dalam diri mereka dengan mencermati fakta secara benar, memahami hukum islam yang terkait dengan persoalan yang ada, dan menghukumi fakta dengan hukum islam yang terkait dengan permasalahan itu. 


Inilah cara berfikir islam, sebuah metode berfikir cemerlang sebab didasarkan pada keimanan kepada Allah bahwa Allah yang menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan sehingga Allah-lah yang maha mengetahui solusi dan segala persoalan makhluk-Nya.


Allah SWT. Berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ۬ وَرَحۡمَةٌ۬ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارً۬


Artinya : “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS Al-Isra [17]: 82).[MO/ia]




Posting Komentar