Oleh : Nena Fatimah 
(Ibu Rumah Tangga)

Mediaoposisi.com-Keluarga yang bahagia, sakinah mawaddah warahmah nampaknya menjadi keinginan setiap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S Ar Rum ayat 21 yang artinya : " Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang."


Namun, tak sedikit cobaan dalam rumah tangga yang dapat mengakibatkan bahtera rumah tangga itu  kandas, gagal mencapai apa yang dicita-citakan. Badai rumah tangga yang terus menerpa tak kunjung reda, membuat pertengkaran dan berbagai masalah rumah tangga, hingga akhirnya perceraian yang menjadi solusinya.


Seperti dilansir pada detik.com, Nyaris setengah juta pasangan suami istri (pasutri) di Indonesia cerai sepanjang 2019. Dari jumlah itu, mayoritas perceraian terjadi atas gugatan istri.


Berdasarkan Laporan Tahunan Mahkamah Agung (MA) 2019, berdasarkan data Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, hakim telah memutus perceraian sebanyak 16.947 pasangan. Adapun di Pengadilan Agama sebanyak 347.234 perceraian berawal dari gugatan istri. Sedangkan 121.042 perceraian di Pengadilan Agama dilakukan atas permohonan talak suami. Sehingga total di seluruh Indonesia sebanyak 485.223 pasangan.


Jumlah yang tidak sedikit, di negeri +62 ini banyaknya pasangan yang bercerai seakan menjadi suatu “prestasi”. Perceraian semakin meningkat bahkan menjadi trend setiap tahunnya, hal itu dianggap lumrah ketika tidak ada lagi kecocokan, maka cerai lah yang menjadi solusinya.


Beberapa penyebab perceraian tersebut diantaranya, perselisihan dan pertengkaran, faktor ekonomi, suami/istri pergi begitu saja, krisis moral dan budaya,krisis sosial, KDRT dan mabuk. Namun kurangnya pemahaman agama serta kurang kokohnya aqidah juga merupakan salah satu penyebab perceraian.


Faktor ekonomi yang kerap kali menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga terus menghiasi pemberitaan di media. Wajar saja, karena pengangguran terus meningkat dan ancaman PHK massal juga menjadi tren saat ini.


Belum lagi semakin melambungnya harga kebutuhan pokok, kesehatan dan pendidikan yang mahal, semakin membuat para suami dan istri memutar peran. Istri yang seharusnya menjadi Ummu warobatul bait, bertukar peran dengan suaminya. Dengan alasan emansipasi, perempuan berupaya memperoleh nafkah sendiri, hingga akhirnya berani mengambil keputusan cerai.


Kehidupan sekulerisme  ketika masih diterapkan dalam membina keutuhan rumah tangga memanglah berdampak sangat buruk . Apalagi ditambah kehidupan yang kapitalisme. Inilah penyebab keretakan keluarga. Rezim sekuler tidak mampu memberi solusi tuntas atas problem keretakan rumah tangga karena akar masalahnya sistemis dan penyelesaiannya parsial bahkan cenderung kontraproduktif atau memunculkan masalah baru dalam rumah tangga.


Rezim sekuler tega menumbalkan perempuan dan memandang mereka sekedar sebagai pekerja dan mesin pertumbuhan ekonomi, bukan sebagai ibu pencetak generasi dan kerhormatannya yang harus dijaga.Bahkan menurut laporan ILO (2013) terdapat sekitar 43 juta perempuan telah dipekerjakan sebagai pengasuh, tukang masak, pembersih rumah dan pembantu rumah tangga. Jumlah ini melonjak sebesar 19 juta orang selama 18 tahun terakhir dari data pertengahan 1990-an.


Kemiskinan dan rendahnya kesejahteraan di negerinya telah memaksa jutaan perempuan ini meninggalkan rumah dan anak-anak mereka demi sesuap nasi.  Harga mahal yang harus dibayar oleh rezim sekuler karena mempekerjakan kaum ibu sebagai mesin pertumbuhan ekonomi ialah terguncangnya lembaga pernikahan, lahirnya generasi telantar yang rapuh dan penuh masalah.
Lantas bagaimana solusi tuntas dalam menyelesaikan keretakan keluarga?


Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seperangkat aturan di dalamnya, termasuk dalam urusan rumah tangga. Dalam islam ,keluarga ibarat benteng pertahanan terakhir dalam mengahadapi ancaman, tantangan yang akan merusak dan menghancurkan tatanan masyarakat islam yang bersih dan tinggi.


Keluarga bisa diumpamakan sebagai madrasah,rumah sakit, masjid bahkan kamp militer yang siap mencetak pribadi - pribadi mujtahid sekaligus mujahid. Namun gambaran keluarga islam ini hanya akan terwujud jika syariat islam dilaksanakan secara sempurna sebagai aturan hidup umat manusia yaitu dengan tegaknya khilafah.


Sistem khilafah berbeda dengan sistem kapitalisme. Khilafah Islam adalah sebuah konsep pemerintahan yang didasarkan pada akidah islam. Penerapan islam oleh sistem pemerintahan khilafah mewujudkan tidak hanya kesejahteraan rakyat, namun juga ketentraman hidup setiap warganya. Khilafah memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. 

Negara juga memastikan setiap kepala keluarga memiliki mata pencaharian. Islam mewajibkan kepada suami atau para wali untuk mencari nafkah. Negara wajib menyediakan lapangan kerja dan fasilitas penunjang lainnya.


Istri atau seorang ibu tidak lah wajib bekerja karena sudah dijalankan kewajibannya oleh suami. Ketika seorang istri keluar rumah untuk bekerja maka sangat rentan ancaman di luar sana yang akan berimbas pula pada keluarga dan anak-anak tentunya. Peranan wanita dalam Islam adalah Ummu warobatul bait, ibu sekaligus pengaturan rumah tangga sehingga mampu atau bisa mencetak generasi umat yang mumpuni.


Sedangkan terkait dengan kebutuhan pokok berupa jasa seperti keamanan,kesehatan dan pendidikan,  pemenuhan mutlak sebagia tanggung jawab negara karena ini merupakan pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting.


Sungguh begitu indah, nyaman serta mampu mewujudkan kebahagiaan dan kasih sayang ketika sistem islam diterapkan. Suami menjalankan sesuai kewajibannya, istripun berjalan sesuai perannya . Sehingga ketika dalam satu keluarga menjalankan dan menerapkan islam dalam kehidupannya yang didukung oleh negara yang menerapkan sistem islam pula dalam bingkai khilafah maka tidak akan ada perceraian yang tinggi dan keretakan keluarga yang tidak tersolusikan.[MO/ia]


WallohuA'lam bissowab.

Posting Komentar