Oleh : Tri Handayani 
(Pegawai BUMN)

Mediaoposisi.com-Sejak Desember 2019 isu Corona nampaknya menjadi topik perhatian global. Virus Corona atau yang disebut sebagai CoVid-19 telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) sebagai pandemi global. 


Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Tedros Adhanom Gebhreyesus dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (11/3/2020). Tedros mengumandangkan virus corona sebagai pandemi global setelah jumlah infeksi di seluruh dunia mencapai lebih dari 121.000.


Pengumuman tersebut direspon serius oleh beberapa negara diantaranya Vietnam dan Singapura. Kedua negara tersebut telah berhasil mencatat angka kesembuhan yang signifikan dari kasus virus corona yang ditanaganinya. Vietnam merupakan negara pertama di Asia yang mengumumkan semua pasien virus corona di negaranya sembuh total. 



Tiga pekan setelah kasus pertama ditemukan, pemerintah setempat mampu menangani virus mematikan tersebut. Bahkan sejak 13 Februari 2020 tidak ada lagi kasus virus corona yang dikonfirmasi oleh negara tetangga tersebut. Seluruh pasien terinfeksi yang berjumlah 16 orang dinyatakan sembuh.


Disamping dunia yang tengah serius dan tanggap dalam menangani virus mematikan corona, Indonesia justru sangat santuy (baca : santai) menanggapi kegentingan global ini. Hal ini terlihat jelas dari respon Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto. 



Alih-alih memberikan arahan yang dapat menenangkan masyarakat, Terawan justru mengaku “heran” mengapa masyarakat begitu heboh dengan kasus virus corona, khususnya setelah Presiden mengumumkan status positif kasus tersebut. Ia menambahkan bahwa angka kematian flu lebih tinggi daripada virus corona. Selain itu mantan Tim Dokter Kepresidenan tersebut bahkan menyebut virus corona sebenarnya adalah virus yang biasa saja.



Seharusnya sebagai Menteri Kesehatan tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan konyol atau senda gurau yang membuat masyarakat banyak berspekulasi, apalagi menimbulkan spekulasi negative dan membuat masyarakat megambil tindakan yang keliru. Terhadap kasus virus corona, memang sebaiknya dihindari perasaan panik yang berlebihan. 



Namun menanggapinya secara serius adalah suatu keharusan mengingat kasus tersebut adalah terkait virus mematikan. Santai dalam hal ini bukanlah menganggap remeh tindakan-tindakan pencegahan dan penanganan yang telah disosialisasikan oleh lembaga berwenang. 



Santai yang dimaksud adalah tidak menunjukkan kepanikan berlebih atau parno yang mengarah pada dampak psikis sehingga menimbulkan tindakan-tindakan yang berlebihan seperti memborong masker, hand sanitizer, makanan, bahan pokok, dan lain-lain di supermarket sebagai bahan cadangan. 



Kendali penuh dalam mengatasi hal ini sebenarnya ada di tangan negara atau pemerintah. Apabila pemerintah mampu mengeluarkan kebijakan tegas maka masalah kegaduhan dan kepanikan publik akan lebih mudah ditangani. Pemerintah dapat menindaklanjuti secara tegas terhadap kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Dengan menutup izin atau larangan bagi wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia setidaknya mampu mengurangi penyebaran virus corona yang dibawa dari luar negeri. 



Kemudian pemerintah melalui lembaga kesehatan melakukan sosialisai terkait tindakan preventif yang diberlakukan untuk masyarakat agar terhindar dari tertularnya virus corona. Selain itu pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk masyarakat agar kesehatan masyarakat dapat dipastikan aman dari virus corona. Pemerintah menjamin segala sarana penunjang dan kebutuhan masyarakat sebagai upaya untuk menekan angka korban berikutnya dari kasus virus corona. 



Dengan melibatkan semua elemen pemerintah atau negara, masyarakat, dan individu untuk serius dalam menaggapi kasus virus corona, maka kekhawatiran dan ancaman kematian dapat ditangani. Hal ini bisa kita lihat dalam hukum islam, dimana islam telah memberikan  gambaran yang sejelas-jelasnya dan solusi gambling dalam menghadapi kejadian semacam ini. 



Meninjau hukum islam, apabila terjadi kasus semacam ini (kasus virus mematikan) disuatu wilayah maka hal utama yang bisa dilakukan adalah dengan menghindari interaksi antara penduduk yang terjangkiti dengan penduduk yang tidak terjangkiti virus. 



Salah satunya direalisasikan dengan mengisolasi wilayah sumber wabah atau virus. Isolasi bukan berarti meninggalkan wilayah tersebut tanpa memberikan penanganan, namun diisolasi dengan cara tetap diberikan penangan medis yang cepat dan tepat agar virus tersebut tidak menyebar. 



Kemudian untuk wilayah lain yang belum terjangkiti wabah atau virus tersebut untuk senantiasa menghindari wilayah sumber wabah, baik dengan menghentikan atau menghindari kunjungan maupun kontak langsung dengan orang yang terkena virus. 


Sehingga jelas bahwa dalam merespon kasus virus mematikan corona yang tengah menerpa dunia, harus dipandang sebagai kasus serius dengan penanganan yang serius bukan dengan kepanikan yang berlebihan.[MO/ia]

Posting Komentar