Oleh : Reni Rosmawati
Ibu Rumah Tangga, Alumni BFW



Mediaoposisi.com-Dewasa ini, Isu kesetaraan gender menjadi isu krusial yang tengah hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tak tanggung-tanggung, demikian banyak pihak yang terus berupaya mengampanyekan serta memperjuangkan untuk terlaksananya kesetaraan gender tersebut.


Sebagaimana dilansir oleh laman Timesindonesia (25/02/2020),  Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TPPKK) Kabupaten Bandung Hj. Kurnia Agustina Naser, mengatakan zaman sekarang kaum perempuan tidak lagi terkungkung aturan. Perempuan bisa berkarya, berprestasi, bahkan bisa menjadi pemimpin dan berkontribusi untuk pembangunan di daerahnya.



Menurutnya, banyak sekali pembeda anak perempuan dan anak laki-laki dalam mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat pembangunan. Untuk itu PUG (Pengarus Utamaan Gender) diperlukan sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan pembangunan yang dapat dinikmati secara adil, efektif, dan akuntabel oleh seluruh penduduk, baik perempuan, laki-laki, anak perempuan, dan anak laki-laki.



Menurutnya pula, PUG bisa menjadi solusi kesenjangan bagi keterbatasan SDM kaum perempuan. Sesuai salah satu prioritas pembangunan Pemkab Bandung, peningkatan SDM menjadi sangat penting bagi keberhasilan pembangunan daerah.


Hal tersebut disampaikannya di acara Peningkatan Peran Serta Kesetaraan Gender Dalam Pembangunan Melalui Pembinaan Organisasi Perempuan di Aula Kantor Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, Selasa (25/2/2020).


"Bukan saatnya lagi perempuan dianggap sebagai beban, tetapi potensi luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi nasional." Ungkapan itu tampaknya benar-benar menjadi doktrin kekinian bagi sebagian kalangan. 



Untuk terealisasinya hal tersebut, maka menciptakan kesetaraan gender dianggap satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Itulah sebabnya hingga kini kesetaraan gender mendapatkan apresiasi luar biasa dari sebagian kalangan yang berasumsi perempuan bisa berkontribusi dalam memajukan pembangunan negeri.


Sejatinya, pembangunan negeri tentu wajib mengikuti arahan sesuai kodrati masing-masing gender. Ini karena setiap gender adalah ciptaan Allah yang dibebani dengan tanggung jawab sesuai dengan kodratnya masing-masing. Maka, akan menjadi tidak adil jika kemudian memaksakan persamaan peran yang tidak sesuai dengan kecenderungan kodrati tersebut.


Menyaksikan fakta di atas, digaungkannya kembali Pengarus Utamaan Gender (PUG) menjadi indikasi bahwa para pemikir emansipasi wanita tengah berusaha menghilangkan batas-batas antara laki-laki dan perempuan dengan berbagai cara dan dalih. 


Baca Juga: Women’s Day

Untuk diketahui PUG atau Pengarus Utamaan Gender adalah strategi yang dilakukan secara rasional dan sistematis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia (rumah tangga, masyarakat dan negara). 



Melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.


Dari pengertiannya, PUG tiada lain hanyalah alat untuk menjadikan perempuan sebagai komoditi dalam pembangunan. Melalui PUG perempuan dipandang wajib turut berkontribusi untuk pembangunan negeri dan daerah dengan asas kesetaraan gender. 


Paradigma tentang perempuan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan pembangunan yang terkandung di dalam Pengarus Utamaan Gender (PUG) secara tidak langsung telah menggeser  fitrah perempuan yang susungguhnya yakni seorang ibu. Sekaligus menghapus kepemimpinan suami, yang berujung pada pembukaan keran kebebasan atas nama kesetaraan dan HAM.


Mirisnya, anak-anak pun menjadi korban karena seorang ibu yang seharusnya menjadi pendidik utama, lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Alhasil, maraknya perilaku LGBT, seks bebas, penyalahgunaan narkoba dan lain-lain. 



Itu semua sebab kurangnya perhatian orang tua, terutama ibu pada kehidupan pergaulan anak-anaknya. Inilah saat kapitalisme menuntut peran maksimal perempuan untuk menghasilkan materi. Kapitalisme-liberal telah mencabut fitrah seorang ibu demi ambisi kapitalistiknya.


Jika kita menelaah secara mendalam, isu kesetaraan gender sesungguhnya adalah isu importir  dari Barat. Ide kesetaraan gender sebenarnya berangkat dari fakta diskriminatif yang menimpa kaum perempuan. Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran, bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya.



Ide Kesetaraan Gender (KG) pada mulanya diusung oleh gerakan feminisme. Gerakan ini ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Karena itu, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum. Mereka selalu dinomor duakan.


Pergerakan di Eropa untuk “menaikkan derajat kaum perempuan” disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Pada tahun 1792, Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul, Vindication of the Right of Woman (Mempertahankan Hak-hak Wanita), yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan di kemudian hari. 



Pada tahun  1830-1840 sejalan dengan pemberantasan praktik perbudakan, hak-hak kaum perempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji perempuan, diberi kesempatan ikut dalam pendidikan, serta hak pilih. (Muslimah.news)



Dari sini, maka jelaslah ide kesetaraan gender bukanlah berasal dari Islam. Tetapi berasal dari budaya kafir Barat. Namun sayangnya, saat ini di negeri-negeri muslim ide kufur tersebut diadopsi dan ditiru. Fakta ini sungguh ironis, karena jauh sebelum dunia modern menuntut tentang kesetaraan gender, Islam telah mengatur demikian ideal berbagai hal yang berhubungan dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan.


Islam memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah dua jenis makhluk yang berbeda. Laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat dibandingkan perempuan. Perempuan mempunyai perasaan yang lebih sensitif daripada laki-laki. Keduanya mempunyai porsi tersendiri sesuai dengan kemampuan masing-masing.



Islam tidak menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan yang harus dikejar atas nama karir, jabatan, dan gaya hidup sebagaimana standar kebahagiaan kehidupan liberal kapitalis. Islam juga tidak menjadikan perempuan sebagai komoditi bagi terlaksananya pembangunan.



Islam menempatkan perempuan pada posisi yang demikian mulia, terhormat dan tidak mudah dieksploitasi, hal ini tiada lain karena peran dan tugas besar yang dimilikinya. Yakni sebagai "Ummu wa rabbatul bayt" (ibu dan pengatur rumah tangga) dimana kemuliaannya jelas nampak sebagai "ummu madrasatul ula" (ibu sebagai pendidik utama) dan "ummu ajyal" (ibu sebagai pencetak generasi unggul). 



Yang akan mendukung pembangunan dengan melahirkan generasi masa depan gemilang. Itu sebabnya, dalam Islam peran perempuan sangat berpengaruh besar bagi kehidupan. Maka tak heran, ketika membaca biografi orang-orang hebat, kita dapati ada peran ibu yang luar biasa di dalamnya.



Karena tugas mulia yang diembannya, Islam tidak mewajibkan kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah. Meskipun demikian, Islam pun tidak melarang kaum perempuan untuk bekerja asalkan sesuai dengan kadar kemampuannya dan tetap mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu dengan baik. Bahkan sejarah mencatat, di masa kekhilafahan dulu banyak sekali perempuan yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan guru.



Islam memandang kedudukan perempuan sama dengan laki-laki dalam hak, kewajiban dan tanggung jawabnya. Setiap perempuan memperoleh hak yang sama dengan laki-laki selama tidak menyalahi syari’at. Allah Swt. berfirman:


"Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada perempuan. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. al-Baqarah [2]: 228)


Ayat di atas, menjelaskan kepada kita bahwa perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Namun laki-laki memiliki satu tingkatan kelebihan daripada perempuan. Hal ini karena laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.


Maka, menyetarakan antara laki-laki dan perempuan dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Kesetaraan gender tidak sesuai dengan fitrah manusia, karena mengingkari keberadaan naluri yang merupakan sifat kodrati; melekat pada penciptaan manusia. 



Naluri laki-laki adalah sebagai seorang pemimpin, pelindung dan pencari nafkah. Sedangkan naluri perempuan adalah sebagai seorang ibu. Laki-laki dan perempuan sama-sama makhluk Allah, diciptakan untuk beribadah, dan bukan ditujukan untuk bersaing, tapi untuk saling melengkapi.


Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa hanya dalam Islamlah baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan kemuliaan atas perannya masing-masing. Sejarah mencatat ketika Islam berjaya, para perempuan mengalami kemajuan yang luar biasa, tanpa menyetarakan perannya dengan laki-laki. 



Islam melindungi harkat dan martabat para perempuan.  Maka dari itu, peran perempuan sangat penting untuk memperjuangkan kembali kehidupan Islam yang dulu pernah berjaya. Bersama-sama dengan laki-laki saling berfastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan). Karena hanya Islamlah yang memuliakan perempuan dan semua itu hanya bisa terwujud ketika negara menerapkan syariat Islam secara kafah dalam institusi Daulah Khilafah Rasyidah.


"Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (TQS. Ali Imran [3]: 36)[MO/ia]

 Wallahu a'lam bi ash-shawwab




Posting Komentar