Oleh : Sayma Putri S 
(Aktivis Muslimah Dakwah Community)



Mediaoposisi.com-Kemiskinan kian hari semakin sangat memprihatinkan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengklaim jumlah masyarakat miskin kronis atau sangat miskin di Indonesia_ada 9,4 juta jiwa penduduk Indonesia yang masih kategori miskin kronis atau sangat miskin," kata Bambang di ruang rapat Komisi XI DPR RI, Senayan, Jakarta pada Rabu (16/1/2019). 


Hal ini menjadi tuntutan kapitalis merenggut peran perempuan. Sistem ini memaksa perempuan bekerja untuk bisa memenuhi segala kebutuhan hidup. Sehingga laki-laki telah terbiasa berlepas tangan untuk menafkahi perempuan dan tidak membantu kehidupan perempuan, sehingga perempuan terpaksa masuk ke dunia kerja. Sehingga menjadi kebiasaan masyarakat.


Akibatnya perempuan lalai akan perannnya mengurusi anak-anak dan keluarganya. Terlebih lagi, ketika perempuan bekerja di tengah-tengah masyaraka, bahkan hingga larut malam. Hak itu akan mengancam harga diri dan kehormatannya, sehingga perempuan menjadi sengsara. Karena telah jauh dari fitrahnya, terkadang ada juga yang meninggalkan keluarganya seperti menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).


Hal-hal inilah yang kita saksikan di negeri-negeri barat, bahkan negeri-negeri Islam yang terpengaruh kapitalis barat. Begitulah yang di alami Kelompok belajar untuk anak-anak buruh migran seperti Smart Class Dua Bersaudara mudah dijumpai di Desa Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Mereka harus terpisah dari orangtuanya, demi memenuhi kebutuhan hidup.s


Berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) tahun 2015, di desa tersebut terdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapak dan bahkan keduanya untuk bekerja di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Hong Hong dan negara-negara Timur Tengah. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya, Lenek Lauk.



"Kita tidak bisa membayangkan kalau kemudian satu desa rata-rata sekitar 300 anak dan di Kabupaten Lombok Timur ada sekitar 250 desa berapa jumlah keseluruhan," kata Suharti, direktur Yayasan Tunas Alam Indonesia, yang melakukan pendampingan anak-anak buruh migran di kabupaten itu.


Dunia kerja telah memaksa perempuan melalaikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka, sehingga muncullah generasi yang menyimpang. Perempuan melalaikan kewajiban terhadap suaminya, sehingga terjadilah konflik dan perceraian.


Padahal kemiskinan bukanlah salah perempuan tapi sistem kapitalislah yang mendorong perempuan hilang akan perannya. Akibatnya didapati kehancuran generasi bahkan hancurnya ketahanan rumah tangga.


Siapa pun yang menggunakan akal sehatnya pasti akan percaya akan rusaknya sistem kapitalis-sekular yang diterapkan saat ini. Penerapan sistem kapitalis-sekular telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk perempuan.


Barat telah berhasil menghancurkan keluarga Muslim, melalui penyebaran tsaqofah yang rusak kepada kalangan perempuan. Atas nama kesetaraan gender. Kesetaraan gender sering dipuja-puja secara berlebihan oleh pegiat feminis, seolah apabila wanita diberi hak penuh untuk setara menduduki posisi 50:50 dengan laki-laki maka hak-hak perempuan akan terakomodir dan mampu membebaskan mereka dari penindasan.


Padahal, sejatinya ide kesetaraan gender ini penuh dengan racun yang berbisa dan merusak bagi perempuan. Akhirnya anak-anak menjadi rusak, ketahanan keluarga Juga  menjadi hancur sebagaiman hancurnya institusi-isntusi Islam lainnya.


Satu-satunya harapan adalah Islam, sistem Islam hidup sempurna yang diturunkan Allah SWT. Islam telah menetapkan berbagai hukum manusia dalam sifatnya sebagai manusia, menetapkan hukum-hukum sesuai dengan jenisnya, laki-laki maupun perempuan. 


Dan menjamin perwujudan peran masing-masingvsesuai dengan kodratnya tanpa merendahkan satu diantara lainnya. Islam juga menetapkan peran negara sebagai pengatur urusan umat, yang wajib memenuhi kebutuhan umat, laki-laki daan perempuan.[MO/ia]


Wallahu a'lam bis shawab



Posting Komentar