Oleh : Luthfia Fadillah
(Mahasiswi Surakarta)

Mediaoposisi.com-Hari wanita sedunia (International Women’s Day) dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Akan ada banyak kampanye gerakan feminisme yang semakin menyuarakan hak-hak persamaan atau kesetaraan mulai dari masalah pakaian, pekerjaan hingga menuntut kebebasan berpasangan sesama jenis yang seringkali dimanfaatkan kaum LGBT untuk ditunggangi gerakan feminisme. 


Pada awalnya gerakan Feminisme lahir dari tuntutan para wanita yang pernah merasa di diskriminasi oleh negaranya sendiri pada pertengahan abad eropa tepatnya pada abad ke 16-18 M. Saat itu wanita hanya dianggap sebagai hiasan dan pemuas hawa nafsu bagi kaum pria bahkan wanita dianggap tidak rasional karena didominasi oleh perasaan. 


Maka hal ini menjadi awal mula bangkitnya wanita untuk menuntut kesetaraan. Gerakan feminisme juga lahir dari asas liberal dimana wanita diberi kebebasan tanpa terikat hukum syar’i dalam mengatur hidupnya. Salah satu aspek yang dituntut kesetaraan oleh para wanita adalah ingin melaksanakan segala aspek pekerjaan seperti politik, ekonomi, sosial dan lainnya yang membuatnya minim sekali menghabiskan waktu didalam rumah untuk mendidik anak dan melayani suami. 


Apalagi di negara kapitalis sebagai penyokong gerakan feminisme menggunakan kesempatan ini untuk menjadikan para wanita sebagai komoditas perdagangan dimana seringkali wanita dituntut untuk berpakaian tidak sesuai syar’i lalu membiarkan wanita menghabiskan waktu hampir 12 jam diluar rumah untuk menjalani pekerjaan.


Baca Juga: Virus corona, mengingatkan mereka tentang Tuhan

Selain dijadikan komoditas perdagangan, wanita akan kehilangan perannya dalam membidik rumah tangga. Sang anak akan lebih rentan merasa tertekan dan depresi ketika tidak ada figur seorang ibu yang memberinya perlindungan dan pengawasan pada anak saat diluar rumah. Maka tak heran ketika anak maupun remaja saat ini mudah terlibat aksi tawuran, narkoba, seks bebas, pornografi dan lain-lain. 


Hal ini disebabkan karena lepasnya tanggung jawab orang tua terutama ibu dalam mendidik anak. Terlebih lagi orang tua seringkali merasa cukup mempercayakan anaknya mendapat pendidikan di sekolah sehingga merasa tidak perlu mendapat pendidikan didalam rumah. Padahal untuk pendidikan akhlak dan moral anak hanya bisa bermula dari peran seorang ibu di dalam rumah. Maka tidak pantas bagi seorang ibu lebih mengutamakan karir daripada mendidik akhlak anaknya dirumah.



Sejatinya negara yang tidak berlandaskan hukum syara’ tidak akan pernah tahu caranya memuliakan wanita dan tidak akan paham bagaimana kedudukan mulia seorang wanita. Maka tak heran jika masa kelam dahulu para wanita ditindas dan di-diskriminasi lalu di masa sekarang wanita justru dijadikan budak pekerjaan dan komoditas perdangan. 


Dan sayangnya, kaum wanita yang jauh dari landasan hukum syara’ pun malah membela diri dengan mengangkat gerakan feminisme yang secara kenyataan bahwa kesetaraan itu melewati batas kodrat wanita. Maka ada suatu ungkapan “jika ingin menghancurkan suatu bangsa, maka hancurkan struktur keluarganya dengan mengikis peran ibu dan buat mereka lebih memilih menjadi wanita karir ketimbang menjadi ibu rumah tangga”.




Dalam Islam wanita telah dimuliakan sehingga Allah menurunkan sebuah surah yang membahas tentang wanita, ialah surah An-Nisaa’ yang artinya wanita-wanita. Beberapa hadits juga membicarakan tentang kemuliaan wanita, diantaranya hadits riwayat Ahmad yang menyebutkan bahwasanya wanita dapat masuk surga dari pintu mana saja ketika ia menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah:


Menjaga shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan dan taat pada suami. Adakah surga itu meminta agar wanita mengejar karir setinggi mungkin sampai melupakan kewajibannya sebagai hamba Allah. Jawabannya tidak. 


Maka standar kemuliaan seorang wanita adalah dilihat dari seberapa taatnya ia pada hukum Allah, bukan dari seberapa besar harta dan karir yang mampu ia kejar. 


Kemuliaan wanita juga pernah disabdakan Rasulullah dalam haditsnya ketika ditanya seorang laki-laki tentang siapakah orang yang lebih berhak untuk dihormati, lalu Rasulullah menjawab “ibu” sebanyak 3 kali kemudian baru menjawab ayah. Karena ada 3 hal dari wanita yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, yaitu mengandung, melahirkan dan menyusui.


Jika mengingat kembali tentang perjuangan R.A Kartini dalam mendirikan sekolah khusus perempuan yang fokus mengajar baca-tulis, membatik dan menjahit ialah bukan semata untuk membuat wanita dapat berkompetisi dengan laki-laki, melainkan agar wanita dapat terlatih dan mahir dalam beraktivitas rumah tangga dengan kemampuan menjahit, membatik sehingga membangun jiwa keibuan yang dapat mendidik anak dan melayani suami. 


Maka dari segi fisik dan tanggung jawab, perempuan tidaklah sama dengan laki-laki karena keduanya telah memiliki kedudukan dan kelebihannya masing-masing. Dan Islam tidak menghalangi wanita untuk beraktivitas atau bekerja diluar rumah asalkan sesuai dengan ketentuan syariat Islam yaitu menutup aurat, mendapat izin suami, menjaga kehormatan ketika diluar rumah dan lebih memprioritaskan dalam mendidik anak dan melayani suami dalam rangka ibadah kepada Allah Swt.



Maka hanya didalam daulah yang menerapkan Islam lah wanita akan dimuliakan tanpa melihat seberapa tinggi karir atau hartanya. Karena didalam daulah Islam, wanita akan fokus menyiapkan diri untuk melahirkan generasi-generasi pejuang peradaban Islam yang justru akan membawa daulah lebih maju dalam berbagai aspek kehidupan tanpa mengorbankan harga diri wanita.



 “Sesungguhnya, wanita diciptakan dari tulang rusuk. Sungguh, bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Apabila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang tetapi padanya ada kebengkokan.” (HR. Bukhari dan Muslim)[MO/ia]

Posting Komentar