Oleh : Desy Nur Rochmah
(Alumnus Universitas Padjadjaran)


Mediaoposisi.com-Kasus foto semibugil aktris Tara Basro beberapa waktu lalu menyita perhatian publik. Lewat foto tersebut, Tara Basro mengampanyekan body positivity, mengajak kaum perempuan untuk mencintai tubuhnya tanpa harus rendah diri. Konon hal ini ditujukan untuk melawan ide body shaming

Unggahan foto akhirnya menghilang daru dunia maya Rabu (04/03) setelah sebelumnya sempat diklaim oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam undang-undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE).
            

Body shaming (penghinaan fisik) pada dasarnya berkonotasi negatif, yaitu sebuah perilaku mengolok-olek bentuk tubuh orang lain, baik dengan tujuan bercanda atau benar-benar menghina. Parahnya, ketika perbuatan mengolok-olok ini terjadi di media sosial teryata tak jarang berubah menjadi cyber bullying hingga dapat menyebabkan masalah psikologis pada korbannya


Tercatat di tahun 2018 ada 966 kasus yang ditangani polisi dari seluruh Indonesia. Sebanyak 347 kasus diantaranya selesai, baik melalui penegakan hukum maupun pendekatan mediasi antara korban dan pelaku.
            


Kasus body shaming memang cukup pelik di tengah derasnya arus sekularisasi muslimah di Indonesia. Namun, tindakan Tara melalui unggahan fotonya tersebut juga tak dapat dibenarkan. Bebas berekspresi menjadi alasan para pekerja seni untuk berdandan, beradegan tak senonoh hingga berpose tanpa busana sekalipun, menurut kesenian perbuatan-perbuatan itu sangat dibolehkan.


Perilaku liberal semacam ini tidak lain adalah buah dari penerapan sistem hidup sekuler dan life style Barat. Kampanye anti body shaming ini sebenarnya merespon terhadap pembakuan ukuran kecantikan sebagaimana dihadirkan oleh media saat ini. Kecantikan diukur hanya dari fisik semata.
            

Bentuk aksi bebas dengan menampilkan lekuk tubuh dengan dalih apapun termasuk melawan body shaming bertentangan dengan etika, terlebih lagi bertentangan dengan akidah Islam. Perempuan sebagai makhluk Allah SWT terikat dengan aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT bagi mereka. 


Menutup aurat sempurna dengan mengenakan jilbab dan kerudung adalah bentuk pemuliaan dan penghormatan bagi kaum hawa. Dalam Islam, kaum Muslimin tidak hanya menilai pada diri ataupun sesama manusia lainnya terpatok pada ukuran tubuh dan penampilan fisik semata, sebab Allah SWT hanya menilai kemuliaan manusia dari ketakwaannya.[]MO/ia]

Posting Komentar