Oleh : Aida Al Farisi
(Aktivis Dakwah Kampus Makasar)


Mediaoposisi.com-Pada hari Rabu, 27 Maret 2020 Hizbut Tahrir Indonesia mengadakan agenda dalam bentuk talk show. Agenda yang bertajuk tema “Indonesia Berkah dengan Islam Kaffah,” ditayangkan melalui live streaming melalui Fokus Khilafah Channel. Hastag yang diangkat dalam agenda ini “#RememberingKhilafah2020.” 


Tujuan politis dan politik dari agenda ini, untuk edukasi dalam menyadarkan umat bukan hanya sebatas mengingatkan keruntuhan institusi Khilafah 3 Maret 1924. Sejatinya 95 tahun ketiadaan Khilafah membuat kaum muslimin tak berdaya.  Derita tiada henti. Kaum Muslim dihinakan oleh para musuhnya. Penganiayaan, persekusi, penindasan, penistaan, semunya dialami oleh umat Islam seluruh Dunia.


Substansi Khilafah mampu mempersatukan umat di seluruh dunia. Hanya dengan Khilafah aturan islam secara kaffah bisa diterapkan. Jika ada yang menolak hanya dua kemungkinan. Pertama mereka belum faham tentang Khilafah. Hal ini disebabkan, sejak keruntuhan institusi Khilafah kita hidup dalam sekat- sekat negara- bangsa (nation state). Ikatan kita bukan lagi ikatan aqidah. Pemikiran yang diadopsi kaum muslim, bukan lagi pemikiran Islam secara utuh. 


Baca Juga: “Khilafah, Agenda Penting Umat”

Namun lebih dari itu pemikiran- pemikiran Barat telah menyatu dengan tsaqafah Islamiyah. Selain sebab ini, orang yang tidak memahami substansi Khilafah kemungkinan terjebak dengan sejarah. Banyak yang menuliskan akan subsatansi khilafah dengan opini negatif. Padahal sejarah tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalam  mengukur sebuah kebenaran. 


Akibatnya yang tidak melakukan penelitian dan perenungan lebih dalam pasti akan terjebak dalam gambaran sejarah. Kedua, menolak karena memahami esksitensi Khilafah akan mampu menumbangkan peradaban Kapitalis- Sekularisme saat ini. Mereka jadi pembenci, penghalang, bahkan ada yang rela jadi boneka atau antek dari kaum penjajah. Ditempatkan di negeri kaum Muslimin, lalu ditawarkan kekuasaan.



Khilafah sebagai Tajul Furud (mahkota kewajiban). Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW mampu terwujud jika negara menjadi pelaksana. Hanya dengan institusi Khilafah syariah secara menyeluruh bisa diterapkan dan dijalankan. Jihad, Politik Islam, Ekonomi Islam, sistem sanksi dan hukum pembuktian dalam Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan 


“Yang wajib adalah menjadikan kepemimpinan (imarah) sebagai bagian dari agama dan sarana dalam untuk bertaqarrub kepada Allah. Taqarrub kepada Allah dalam hal imarah (kepemimpinan) yang dilakukan dengan cara mentaati Allah dan Rasulnya adalah bagian taqarrub yang paling utama.” (imam Ibnu Taimiyah, As- siyasah Asy- syar’iyah).



Ketiadaan Khilafah di tengah- tengah umat sebagai ummul jaroim (induknya segala keburukan). Aturan- aturan Islam diaborsi karena penerapan Ideologi kapitalisme- Sekularisme. Kaum muslim terpasung dalam politik demokrasi. Tersandera dalam konsep ekonomi kapitalis. Sistem pergaulan, sihir liberal kian dipuja-puja. Pendidikan tak lagi mendidik, sosial, kesehatan, ketahanana, media, semuanya diwarnai dengan kebobrokan sistem kapitalis.  


Di seluruh sudut belahan dunia, kaum muslim ditindas, dibantai, didzalimi. Begitu bengis nan sadis. Lihatlah wahai umat, saudara kita di Burma, ditindas. Negeri Bangladesh, Kashmir kejahatan orang kafir tiada henti. 


Baca Juga: 96 Tahun Dunia Tanpa Khilafah, Semoga ini Tahun Terakhir


Waziristan, Afganistan, pesawat tempur Amerika masih menggempur. Negeri Chechanya, Kaukasus dan Krimea kini masih terkerut oleh tangan kasar Rusia. Lalu Palestina, Suriah, Rohingnya di Myanmar, Xinjiang, dan negeri kita kawan, Indonesia.   Kemuliaan Islam kini tak ada lagi. Negeri- negeri Islam kian berduka. 


Nestapa menghantui. Sebilah pedang pemikiran, menusuk kaum muslimin. Tembus hingga mampu meluluhlantahkan pertahanan aqidah umat Islam. Saling berpecah menjadi 57 negara- negara. Tak ada lagi persatuan di tengah kaum muslimin. Pada hal Rasulullah SAW bersabda “perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi,seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakannya.” (HR. Muslim).



Khilafah berdiri di atas landasan Islam serta hukum- hukum yang terpancar dari aqidah. Sistem Khilafah bersumber dari wahyu Allah SWT. Tujuan mulia tegaknya Khilafah bukan untuk membangun peradaban dan masyarakat dengan standar perbuatan manusia. Melainkan berdasarkan standar perintah dan larangan Allah SWT. Mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia, dan jihad dalam penegakkan dan penyebaran agama Allah SWT. 



Khilafah akan mampu menjaga ras kelestarian manusia, akal, kehormatan, jiwa, kepemilikan individu, agama serta keamanan negara. Dalam Khilafah legalisasi hukum syara yang bersumber dari Al- Qur’an, As Sunnah, Ijma dan qiyas akan diterapakan oleh seorang Khalifah. 



Maka tanpa Khilafah penyebaran risalah Islam dan penerapan hukum- hukum Allah SWT tak akan bisa diterapkan secara kaffah. Imam al- Ghazali mengungkapkan “Agama dan kekuasaan ibarat saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Sesuatu yang tanpa pondasi niscaya akan runtuh dan sesuatu tanpa penjaga akan lenyap.” (Al- Ghazali, Al- iqtishad fi al- l’tiqad)


Baca Juga: Corona Membongkar Kegagalan Negara Mendidik Perempuan Menjadi Madrasatul Ula.

Benarlah kiranya bahwa kaum muslimin lupa hingga ada yang tidak mengetahui bagaimana Islam sesungguhnya, dan kegemilangannya. Selama 13 abad (1300 tahun) Islam pernah memimpin dunia memayungi 2/3 dunia. Kejayaannya bukanlah romantisme sejarah. Islam bukan hanya agama ruhiyah ataupun spritual. 



Namun Islam adalah agama siyasih (politik). Islam sejatinya adalah Ideologi, yang berarti termuat kandungan Fikrah dan thariqah. Kemajuan Islam sebagai peradaban di masa lalu terbukti di segala bidang termasuk ekonomi, pasukan perang, kesehatan, pendidikan, hingga sains dan teknologi. Dalam konstelasi politik internasional, Daulah Khilafah menjadi negara nomor satu selama berabad- abad tanpa pesaing.  


Ada kemunduran, tentu akan ada kebangkitan. Inilah yang dikonsepkan oleh syekh Taqiyuddin an- Nabhani, pendiri Partai Politik Internasinal Hizbut Tahrir. Beliau termasuk mujtahid mutlak. Tahun 1953 beliau mendirikan Hizbut Tahrir. Bergerak dalam dakwah pemikiran, dengan tujuan melanjutkan kehidupan Islam. Aktivitas politik dengan pemikiran menjadi karakter dari dakwah Hizbut Tahrir. Pertama: Membangkitkan pemikiran kesadaran individu, dengan Iman. Kedua: Membangkitkan kesadaran kolektif dengan dakwah politik. 


Ketiga: Daulah Khilafah harus tegak kembali, diperjuangkan bersama umat yang telah teropinikan islam, dibantu ahlul quwwah  yang tersentuh keimanannya. Sesungguhnya Indonesia dan negeri- negeri muslim lainnya hingga dunia seluruhnya, hanya akan berkah dengan syariah dan Khilafah. Sebagaiamana dalam firman Allah SWT 


“Jika sekiranya penduduk negeri- negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat- ayat Kami), maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al- A’raf: 96).[MO/ia] 


WalLahu ‘alam bishowab.
                               
               

Posting Komentar