Oleh : Wahyu Nita

Mediaoposisi.com-Kerapuhan dan malapetaka tengah mengancam keluarga Indonesia. Kasus kekerasan dalam rumah tangga menggunung. Ketidakharmonisan rumah tangga sudah menjadi berita sehari-hari dan bahkan perceraian seringkali tak bisa dihindari. 


Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pengadilan Agama, Mahkamah Agung pada Kamis (17/11/2016) dalam laman resminya, menyatakan sudah ada 315 ribu kasus perceraian yang telah diterima dari seluruh Indonesia.


Ternyata, kasus perceraian memiliki rasio tertinggi hingga 84% dari keseluruhan perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama. Hal ini menunjukkan perceraian menjadi salah satu masalah yang sering terjadi di Indonesia. Pada data ini, terlihat dua jenis kasus perceraian yang dilaporkan pada Pengadilan Agama yaitu Cerai Gugat yang dilaporkan pihak wanita dan Cerai Talak yang dilaporkan oleh pihak pria.


Terlihat pihak istri lebih banyak mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama dengan total 224.240 laporan yang diterima. Dari keseluruhan, terdapat 152.395 pasangan suami istri resmi diceraikan secara hukum oleh Pengadilan Agama. Sedangkan laporan lainnya belum terselesaikan dan tidak bisa diputuskan karena berbagai hal, mulai dari dicabut, ditolak, tidak diterima, atau dicoret dari register.


Sedangkan cerai talak yang dilakukan oleh suami, jumlahnya lebih kecil, hanya sekitar 90 ribu kasus saja, dengan persentase diterima hanya 60 ribu kasus atau sekitar 66 persen saja. Akibat dari tingginya jumlah laporan perceraian yang diterima, tahun ini sudah ada 212 ribu janda barudi Indonesia. Jumlah ini akan lebih meningkat bila digabungkan dengan putusan cerai yang dikabulkan oleh Pengadilan Negeri.


Setidaknya ada dua faktor penyebab kenapa kondisi di atas bisa terjadi. Pertama, faktor internal umat Islam yang lemah secara akidah sehingga tidak memiliki visi-misi hidup yang jelas. Hal ini diperparah dengan lemahnya pemahaman mereka terhadap aturan-aturan Islam, termasuk tentang konsep pernikahan dan keluarga, fungsi dan aturan-aturan main di dalamnya.


Kedua, faktor eksternal, berupa adanya upaya konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan berbagai pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak, terutama paham liberalisme yang menawarkan kebebasan individu, baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama maupun dalam kepemilikan.



Tuntutan ekonomi, pengaruh media sosial, KDRT, hingga munculnya orang ketiga disebut menjadi salah satu faktor utama penyebab perceraian. Percekcokan suami-istri terkadang disebabkan hal sepele yang terdapat di media sosial.


Dalam sistem negara sekuler seperti Indonesia saat ini, keberadaan media adalah perwujudan dari hak asasi, manifestasi dari kebebasan berbicara dan kebebasan berekspresi. Karenanya konten media massa tidak dibatasi dengan tegas. Demikian pula penggunaan individu terhadap media sosial (medsos) bisa untuk apa saja. Tidak ada yang memberi batasan dan pengarahan penggunaan. 


Adanya kebebasan individu mengakibatkan media lebih banyak menyebarkan informasi sampah dan membangun persepsi dan pemahaman yang justru merusak. Bahkan saat ini media massa menjadi salah satu faktor pengancam generasi. Konten-konten porno bertebaran dan menjadi komoditas menguntungkan segelintir pihak. Dalam masyarakat kapitalis sekuler, seks dianggap hal yang harus selalu dihadirkan di tengah kehidupan. 


Wajar masyarakatnya dipenuhi perselingkuhan, zina, kekerasan seksual, dan kebejatan moral. Keluarga hancur dan masa depan generasi terancam.


Fenomena diatas semakin diperparah dengan lahirnya UU PKDRT, UU Perlindungan Anak, UU Kewarganegaraan, UU Pornografi, draft CLD KHI, UU Kesehatan, Rancangan Amandemen UU Perkawinan dan Hukum Materil Peradilan Agama, yang kesemuanya mengandung spirit pembebasan dari aturan Islam, termasuk merombak pola interaksi, peran dan fungsi perempuan sebagaimana diajarkan Islam sekaligus menghapus kepemimpinan suami, yang berujung pada upaya mendesakralisasi lembaga perkawinan sekaligus membuka keran kebebasan atas nama kesetaraan dan HAM.



Sebagai contoh, pasal 51 ayat 1 DUHAM 1948 berbunyi: Seorang isteri selama dalam ikatan perkawinan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan suaminya atas semua hal yang berkenaan dengan kehidupan perkawinannya. UU PKDRT yang mengkriminalisasi peran suami dalam mendidik Istri atau anak atas nama penghapusan tindak kekerasan, sekaligus mempublikasi persoalan-persoalan privat yang sebenarnya diberikan solusinya oleh Islam.



UU ini juga membuka celah terjadinya disfungsi dan disharmoni peran suami-isteri yang lebih jauh akan menggoyah keutuhan rumahtangga. Begitupun, amandemen UU Kesehatan memuat aturan yang ‘bergesekan’ dengan hukum Islam, semisal mencegah nikah dini, tapi memberi peluang seks bebas dan legalisasi aborsi. 



Sedangkan UU PA memberi peluang kebebasan pada anak dalam mengeluarkan pendapat dalam segala hal yang pada akhirnya akan mengarah kepada kebebasan dalam berperilaku, termasuk kebebasan beragama. Di tingkat akar rumput, upaya ini diperkuat dengan gerakan massif seluruh operator lapangan dan event organizer mereka dari kalangan LSM liberal dan LSM gender yang mereka danai dan mereka bina.


Ketahanan Keluarga Terancam


Ketika perempuan bekerja full time sebagaimana para laki-laki, jelas akan membuat keseimbangan dalam keluarga terganggu.  Perempuan memiliki peran dan tanggung jawab sebagai ibu dan pendidik generasi.  Peran sebagai ibu dan pendidik generasi tidak akan dapat tertunaikan dengan optimal, bahkan bisa jadi akan terabaikan.


Keluarga memiliki  fungsi-fungsi  tertentu, yang dengan berfungsinya keluarga akan membangun masyarakat yang kuat.  Keluarga akan berfungsi dengan baik apabila unsur pembentuk keluarga dapat berjalan dengan optimal. Laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah keluarga dan perempuan sebagai istri yang memiliki peran sebagai istri, ibu dan pendidik generasi, maka fungsi keluarga dapat terwujud dengan baik.  


Terwujudnya fungsi keluarga akan membuat ketahanan keluarga  terbentuk kuat. Sayangnya mewujudkan keluarga ideal semacam ini bukan sesuatu yang mudah. Sistem sekuler yang mengungkung masyarakat kita saat ini membuat kehidupan serba sempit. Hal ini diperparah dengan adanya benturan-benturan nilai akibat berkembangnya pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. 


Kenyataan ini mau tidak mau berdampak pula pada kehidupan keluarga muslim. Jarang ditemui keluarga muslim yang benar-benar bisa menegakkan nilai-nilai Islam. Keluarga Muslim, bahkan ikut terjebak pada kehidupan yang materialistik dan individualistik. Dampaknya bisa ditebak. Kenakalan anak dan remaja juga menjadi potret buram umat Islam saat ini yang tentu saja akan menjadi ancaman serius bagi nasib umat Islam dan bangsa secara keseluruhan di masa depan.



Bagi perempuan bekerja, salah satu yang menjadi persoalan penting  adalah bagaimana ibu membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak dan penguatan kasih sayang keluarga.  Dengan bertambahnya beban perempuan sebagai pencari nafkah, maka akan muncul persoalan kualitas dan kuantitas pelaksanaan peran utama perempuan.  Oleh karena itu, bekerjanya para perempuan akan membahayakan ketahanan keluarga.



Islam Menjamin Pemeliharaan Kodrat Perempuan dan Ketahanan Keluarga
Keluarga merupakan tumpuan yang utama dan pertama dalam mempersiapkan generasi penerus peradaban. Setiap individu yang berkeluarga pasti mendambakan keluarga yang sakinah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu memberikan ketenangan, ketentraman dan kesejukan yang dilandasi oleh iman dan taqwa, serta dapat menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya.



Setiap keluarga muslim berkewajiban memperkuat ketahanan keluarganya masing-masing. Allah berfirman :



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


 “Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”  (at-Tahrim : 6).


Ketahanan keluarga adalah konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga islami dari nilai-nilai liberalisasi dan sekuler yang dapat mengancam eksistensi keluarga tersebut dalam mengamalkan nilai-nilai yang islami.



Oleh karena itu, ketahanan keluarga harus dijaga kekuatannya.  Demikian juga pemeliharaan kodrat perempuan demi terwujudnya fungsi keluarga.  


Saat ini bekerjanya perempuan akibat tidak terwujudnya kesejahteraan keluarga sebagai akibat dari sistem ekonomi kapitalis. Tata kehidupan yang diatur dengan kapitalisme juga membuat para perempuan terpesona dengan jebakan pemberdayaan perempuan.


Kodrat perempuan akan terjaga dan terpelihara dalam sistem kehidupan Islam yang menjamin kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu. Sistem ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan keluarga sehingga para perempuan tidak perlu bekerja mencari nafkah.  Islam menjamin para perempuan menjalankan peran kodratinya dengan optimal.  



Fungsi keluarga akan dapat terpenuhi dengan optimal.  Dengan demikian ketahanan keluarga juga akan terjaga.  Keluarga yang kuat akan membentuk masyarakat yang kuat.


Upaya strategis yang harus dilakukan untuk menghadapi berbagai konspirasi asing dalam penghacuran keluarga muslim adalah mengajak umat untuk bersegera meninggalkan sistem liberal sekuler ini, dengan cara melakukan pencerdasan umat dengan Islam kaaffah (ideologis). Targetnya adalah untuk membangun profil muslim/muslimah tangguh yang siap berjuang melakukan perubahan sistem. 



Dalam konteks muslimah, pencerdasan diarahkan untuk membangun profil muslimah yang siap mencetak generasi pejuang, menjadi isteri salehah pendamping para pejuang sekaligus yang siap mengajak dan memimpin para muslimah untuk perubahan ke arah Islam.



Pada saat yang sama, diupayakan pengokohan fungsi keluarga muslim, agar menjadi keluarga-keluarga yang tegak atas dasar ketaatan kepada Allah, menjadikan syari’at Islam sebagai standar sehingga setiap keluarga muslim mampu berfungsi sebagai mesjid, madrasah, rumahsakit, benteng pelindung dan kamp perjuangan yang siap melahirkan generasi pejuang dan pemimpin umat, yang berkualitas mujtahid sekaligus mujahid. 



Kesemuanya itu diarahkan untuk mewujudkan masyarakat taat syariat, dimana pemikiran, perasaan dan aturan masyarakatnya diikat oleh pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, yakni Islam. Adapun strategi yang dibutuhkan untuk meraih target ini tidak lain adalah dengan menggencarkan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat, tak terkecuali muslimah. Hingga Islam dipahami secara utuh sebagai solusi masalah-masalah kehidupan mereka.



Dengan demikian akan muncul para muslimah tangguh yang memiliki kecerdasan politik tinggi dan siap memperjuangkan Islam secara bersama-sama.[MO/ia]


Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Posting Komentar