Oleh : Aisyah Karim
 (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)


Mediaoposisi.com-Per 25 Maret 2020 kasus positif Corona di Indonesia menjadi 790 kasus, sebagaimana yang disampaikan Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB (kompas.com 25/3/2020). Satu persatu wilayah telah susul menyusul ditandai sebagai titik merah penyebaran Covid-19.


Ramainya pemberitaan terkait wabah ini ditengah-tengah masyarakat tak pelak membawa atmosphir keresahan dan ketakutan yang semakin meluas. Satu demi satu korban terus berjatuhan meninggalkan kengerian yang mendalam. 



Pandemi ini telah memasuki fase kritis yang ditandai dengan tingginya gelombang kekhawatiran terinfeksi hingga menyebabkan beberapa gangguan pada kesehatan jiwa. Keluhan sulit tidur, labil, kehilangan konsentrasi dan munculnya rasa marah setiap kali mendengar bertambahnya jumlah pasien yang terinfeksi.


Social distancing yang mengarah ke mengisolasi diri demi mengurangi  bertemu orang lain juga sangat berpengaruh kepada kesehatan jiwa. Hal ini tercermin dari keadaan kota-kota besar yang terpaksa mengubah cara hidup mereka. 


Tak sedikit mereka yang bekerja di bidang layanan seperti restoran dan rumah makan, harus kehilangan mata pencaharian mereka akibat social distancing. Tanpa waktu yang jelas kapan kondisi ini berakhir, tentu saja ini dapat menjadi tantangan berat untuk orang-orang pengidap depresi, gangguan kecemasan dan gangguan stress pasca trauma.



Stress dan depressi jika tidak dikelola dengan baik akan sangat berbahaya karena akan menimbulkan aktivitas irrasional. Di Solo misalnya, seorang warga negara Korea Selatan, Jung Eun Hee (57) nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamar hotel karena ketakutan mengira dirinya terinfeksi virus Covid-19.


Demikian pula yang terjadi di India, seorang pria bernama Balakhrisnayya melakukan bunuh diri untuk melindungi keluarganya dan desanya dari wabah mengerikan Covid-19. Ia telah mencurigai dirinya terinfeksi padahal dokternya hanya meminta ia menggunakan masker saja. 


Lain halnya di Saudi Arabia, seorang mahasiswa asing diduga dari China dikabarkan bunuh diri di rumah sakit King Fahd Jeddah, Arab Saudi setelah mengira dirinya tertular virus Corona pada Sabtu 15/2/2020. Hasil laboratorium menunjukkan dia negatif terinfeksi corona.


Jahiliyyah Menyikapi Wabah


Jahiliyyah adalah ciri umum yang senantiasa dikaitkan dengan perilaku masyarakat Arab ketika Rasulullah mengenalkan Islam. Kata jahiliyyah artinya bodoh. Disebut bodoh karena ketidakmampuan menggunakan akal atau pikirannya. Diajari tidak nyambung, diberi sesuatu menolak, dinasehati tidak mau mendengarkan, sesuatu yang penting dianggap tidak ada gunanya, dan sebaliknya sesuatu yang tidak ada gunanya dianggap penting.


Dalam konsep menyikapi wabah perilaku jahiliyyah mencakup  segala bentuk keyakinan dan sikap yang menyalahi akidah dan syariat Islam. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor; Pertama, karena tidak adanya ilmu pada diri seseorang. Dalam hal ini tampak pada penanganan Covid-19 di awal-awal sebelum meluas hingga saat ini. Terdapat beberapa pejabat negara yang menyepelekan dan mengolok-olok Corona, padahal faktanya virus ini  telah melumpuhkan sejumlah negara.


Mahfud MD menyatakan bahwa Indonesia zero Covid-19. Wakil Presiden Ma`ruf Amin menyatakan Corona tidak akan muncul di Indonesia karena istighasah ulama.  Menteri Perhubungan yang kini positif terinfeksi Covid-19 pernah mengatakan Corona tidak akan masuk Indonesia karena kita gemar makan nasi kucing. 



Lain lagi Menteri Kesehatan yang menyampaikan Indonesia belum terinfeksi karena kekuatan doa. Ketika ditanya soal corona yang belum terdapat kasusnya di Indonesia, Menteri Airlangga berkelakar; “izinnnya berbelit-belit, virus Corona tidak masuk”.


Kedua, karena meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Ia meyakini kebathilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebathilan (jahil murakab). Dalam persfektif penanganan Corona, tindakan pemerintah menggenjot sektor pariwisata di tengah virus Corona bahkan memberikan promo sejumlah diskon jelas sebuah kebathilan. 


Ini adalah pintu yang menyebabkan Corona melakukan penjelajahan ke berbagai pelosok Indonesia. Parahnya, Ketika hampir semua negara-negara yang terinfeksi melakukan lockdown untuk memangkas penyebaran virus, Indonesia mengumumkan bahwa tidak akan melakukannya.


Ketiga, melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, baik keyakinan itu benar adanya ataupun salah. Skandal 49 TKA asal China yang masuk ke Kendari menjadi sorotan karena pemerintah tetap membuka pintu selebar-lebarnya kepada asing di tengah badai Corona yang semakin meresahkan. Menteri Luhut bahkan sempat meminta masyarakat jangan meributkan hal tersebut.


Termasuk pula perilaku jahiliyyah dalam menyikapi wabah adalah berputus asa dari rahmat Allah kemudian mengakhiri hidup. Golongan yang berpikiran seperti ini beranggapan bahwa ketika musibah datang sejatinya Allah telah meninggalkan mereka. Dari pemahaman yang demikian muncullah stress, depresi hingga melahirkan sikap-sikap jahiliyyah turunan lainnya. Mereka mulai bersandar kepada selain Allah sampai ada pula yang menjadikan para dukun sebagai penolongnya di tengah wabah ini.


Bupati Belitung, Sahani Saleh mengerahkan para dukun dan tetua adat yang tergabung dalam Forum Kedukunan Adat Melayu Belitong untuk menolak penyebaran Corona melalui ritual tolak bala. Paranormal kondang, Mbah Mijan mengaku banyak masyarakat bertanya kepadanya soal Corona. 


Menurutnya kepercayaan masyarakat kepada dukun atau paranormal merupakan pukulan telak bagi pemerintah, terutama Kementerian Kesehatan. Hal ini adalah bukti, bahwa masyarakat menginginkan informasi resmi dari pemerintah secara lengkap, tegas dan tuntas.


Mendatangi dukun untuk berkonsultasi padanya dan menggunakan jasa perdukunannya merupakan suatu kemungkaran. Islam melarang tegas perbuatan ini dan memperingatkan umatnya dari bahaya perbuatan ini. Termasuk untuk meramal datangnya musibah atau bencana. Muawaiyah bin al Hakam berkata, “Dulu kami biasa mendatangi dukun,” Nabi SAW bersabda: “Jangan kalian mendatangi kahin” (HR. Ahmad, al-Thabarani, al-Baghawi, al-Baihaqi).



Termasuk sikap jahiliyyah dalam menyikapi bencana adalah melakukan penimbunan barang dan panic buying. Ini adalah langkah irrasional yang menyebabkan barang menghilang dari pasar dan terjadi lonjakan harga diatas kewajaran.


Akan halnya ada segolongan masyarakat yang meributkan dengan membenturkan antara sunnah shalat berjamah misalnya dengan keputusan ulama yang untuk sementara melarang shalat berjamaah di masjid dan melakukan social distancing, menghindari kerumunan untuk mencegah penyebaran Covid-19 maka ini adalah perilaku yang tidak tepat dalam menyikapi wabah.



Demikian pula dengan pernyataan “tetap hidupkan sunnah di tengah wabah” atau “lebih takut Allah atau Corona”, ini sungguh tidak tepat. Keputusan ulama untuk meminta kepada muslim agar dalam kondisi pandemi ini melangsungkan shalat di rumah dalam rangka social distancing adalah hukum fikih. Inilah tugas ulama, mendalami fakta yang disajikan ahli, lalu menghukumi dengan dalil yang paling tepat. Inilah yang disebut fatwa dan seharusnya dijalankan.


Islam Menyikapi Wabah


Islam menuntun umatnya untuk menjadikan alam semesta dan kehidupan sebagai penguat keimanan kepada Allah termasuk berbagai musibah yang harus dihadapi oleh manusia. Islam juga telah menyediakan seperangkat piranti dan rambu-rambu untuk menghadapi musibah. Islam mengingatkan manusia dari berbagai keyakinan yang salah dan perilaku jahiliyyah dalam menyikapi semua ujian ini.


Bekal utama untuk melawan wabah adalah akidah. Setiap muslim harus meyakini wabah ini adalah ujian atau sebuah bentuk kefasadan (azab) karena maksiyat-maksiyat yang dilakukan. Bahwa setiap penyakit yang Allah berikan pasti Allah ciptakan pula penawarnya. 



Sedang jika wabah ini bentuk kefasadan maka taubat adalah sebuah keniscayaan. Setiap muslim mestilah berbaik sangka kepada Allah, yakin takdir Allah SWT pasti baik dengan tetap memaksimalkan ikhtiar untuk meraih kesembuhan.


Sikap Islam menyikapi wabah dimulai dari kepemimpinan yang unggul. Khalifah sebagai pucuk pimpinan tertinggi telah mengikat akad ketika ia di baiat untuk menjadikan dirinya pelindung (junnah) bagi rakyatnya. Ia memandang dirinya sebagai pelayan atau penggembala yang bertanggung jawab penuh atas gembalaannya termasuk ketika wabah melanda.


Islam telah menetapkan karantina/isolasi bagi daerah yang terkena wabah. Karantina kini lebih familiar dengan sebutan lockdown. Lockdown adalah sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang mulia. 14 Abad lalu metode ini telah diaplikasikan dengan cemerlang oleh generasi kaum muslimin. Lockdown akan sangat mudah dijalankan dalam kepemimpinan Islam, rakyat akan tunduk patuh karena perintah Khalifah adalah hukum syara` yang wajib ditaati.


Khalifah akan bersikap transparan, tidak menyembunyikan fakta yang kemudian menambah keresahan rakyat. Khalifah mampu memberikan rasa tenang ditengah gelombang wabah, hingga timbul kepercayaan dari rakyat bahwa mereka akan bisa melewati keadaan tersebut. Khalifah juga melakukan komunikasi publik yang baik sehingga rakyat terhindar dari hoaks dan berita bohong yang menyebabkan mereka stress dan berperilaku irrasional.



Politik ekonomi Islam yang khas telah meniscayakan tersedianya kas negara yang melimpah untuk tetap survive menghadapi kesulitan. Ketika wabah hadir negara sigap menanggung kebutuhan rakyatnya meski harus melakukan lockdown. Khalifah tidak akan melakukan pencitraan di tengah wabah, ia bersikap tegas dan menomor satukan keselamatan rakyatnya. Tidakkah kita merindukan kepemimpinan yang demikian ?[MO/ia]








Posting Komentar