Oleh : Muthi Idris


Mediaoposisi.com-Negeri +62 terkadang prilakunya lebih unik dari negeri lainnya. Sebagaimana keputusan pemerintah provinsi yang masih tidak selaras dengan pemeritah pusat yaitu, meliburkan sekolah dan universitas selama 2 pekan dalam rangka mencegah penyebaran COVID-19 yang tengah mewabah ini dihawatirkan jika tanpa edukasi justru menjadi ajang berlibur atau liburan.



Bersuka cita dengan diliburkannya sekolah dan bekerja juga bukan sikap yang bijak mengingat yang kita hadapi bukan hal yang remeh, WHO saja telah menetapkan korona atau COVID-19 sebagai pendemi global artinya virus yang menyebar secara internasional diluar kendali, dimana kita tahu awal kemucuannya di Wuhan, China sekarang sudah menyebar di 141 negara di dunia, termasuk Indonesia.


Meskipun begitu pemerintah pusat masih saja enggan untuk melakukan lockdown (mengunci akses masuk dan keluar untuk mencegah penyebaran virus corona, larangan mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang, penutupan sekolah dan semua tempat umum) karena dianggapnya masih beresiko besar terhadap perekonomian dan sosial, sebagaimana yang diungkapkan juru bicara pemerintahuntuk corona, Achmad Yurianto.


“Kita harus hati-hati betul dengan ini. Tidak latah-latahan. Punya kehormatan menentukan negara kita sendiri. Jadi engga kemudian, kenapa enggak ngikut seperti itu. karena kita negara merdeka, ngga harus, mengikut mereka,” Istana Negara, Jakarta, Minggu (15/13)


Dari penyataan diatas sepertinya kita bisa menangkap siapa sebenarnya yang tidak merdeka, dikendalikan oleh kepentingan ekonomi dan kepentingan materi, memanfaatkan situasi saat negara lain lockdown dan tidak berani mengambil tindakan yang pro pada keselamatan rakyat?


Meski sampai hari Minggu (15/3) jumlah kasus positif COVID-19  mencapai 117 sejak di umumkan 2 Maret lalu. (katadata.co.id) Bahkan Mentri Perhubungan Budi Karya Sumandi positif terkena COVID-19.


Sejumlah negara di dunia sudah memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran, seperti italia, demark, iran, China, Korea Utara, Mongolia dan empat kota di Spanyol, Korea Selatan dan Ibu kota Manila di Filifina, namun belum merubah keputusan pemerintah pusat untuk melakukan lockdown.


Tak ada edukasi tak ada kebijakan yang pro rakyat. Tanpa edukasi libur 2 pekan ini sangat mungkin dijadikan ajang berlibur mengingat tempat-tempat umum, pasar dan mall-mall tidak diliburkan(ditutup), lalu bagaimana COVID-19 ini bisa tuntas di negeri ini?


Suatu saat wabah ini akan berhenti tanpa menelan banyak korban jika kita melakukan pencegahan sejak dini, tidak ada cara lain selain dengan karentina (lockdown). Karena orang sakit bersentuhan dengan orang sehat akan membuat dia menjadi sakit, lalu menularkannya kepada orang lain. Tanpa lockdown, memungkinkan satu orang terkena COVID-19 menularkan ke banyak orang.



Memang tanpa lockdown virus akan mati akan tetapi banyak orang yang akan mati dalam prosesnya.
Dengan karantina (lockdown) akan membuat orang tidak sakit berbarengan, kemungkinan menyebarnya virus sangat rendah, memberi waktu kepada orang-orang untuk sembuh, kemudian orang yang sembuh dari virus akan sangat sulit bagi virus untuk kembali ke orang tersebut karena sudah punya imunitas.


Sungguh sempurnanya Islam 1400 tahun lalu, Islam mengajarkan kita bagaimana cara menangani wabah penyakit. Ribuan tahun lebih dulu dari masyarakat moderen saat ini yaitu membangun ide karentina atau istilah hari ini lockdown, sebagaimana sabda Rasulullah saw:



“Jika kalian mendengar tentang suatu wabah di suatu negeri , maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Tempat yang menjadi sumber kemunculan wabah akan di karantina (lockdown) pemerintah atau Khalifah akan mengirim obat-obatan dan kebutuhan kesehatan dan logistik lainnya segera. Ilmuan di bawah Khalifah juga akan didorong untuk menemukan obat dan perawatan baru melalui penelitian dan pengembangan. 


Inisiatif cepat akan diambil tanpa mengambil keuntungan semua diberikan secara gratis tanpa melihat suku, ras atau agama. Wabah pun akan enyah secara efektif dan efisien tanpa menjatuhkan banyak korban sesuai dengan yang di syariatkan.


Lalu libur 2 pekan ini apa yang harus kita lakukan?


Sesungguhnya pemilik COVID-19 ini adalah Allah SWT, maka pebanyaklah bertaqarub kepadaNya, dengan permanyak berdoa, berzikir, shalawat dan taubat sesunguhnya tanpa COVID-19 juga kematian itu adalah hal yang pasti bagi setiap jiwa.


Tetap optimis, tetap produktif beramal salih dan berkarya meski aktifitas publik kita terbatas, taati setiap intruksi dari pemerintah dan dinas kesehatan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Libur 2 pekan ini adalah cara pencegahan yang bisa kita lakukan untuk keselamatan kita bersama meski pemerintah pusat belum menegaskan untuk menutup seluruh tempat umum lainnya.



Inilah Indoneisa dengan cerminan pemerintahan boneka ala Kapitalis menghadapi epidemi global yang menjadi pertimbangan bukan keselamatan masyarakat akan tetapi keselamatan ekonomi, kemanfaatan materi.


Maka sudah selayaknya bagi umat Islam untuk mengembalikan segala permasalah hidup kepada Islam, menjadikan Islam sebagai solusi. Jangankan hal besar seperti penanganan COVID-19 ini hal terkecil sekalipun Islam punya solusinya. Mari tegakan syariat Islam secara sempurna dengan menegakan Khilafah.[MO/ia]

Posting Komentar