Oleh : Rengganis Santika
 (ibu rumah tangga - bandung)

Mediaoposisi.com-Kemiskinan dan ketimpangan hidup antara kelas atas, menengah dan bawah, didalam dominasi kapitalisme demokrasi global saat ini merupakan masalah klasik di dunia. Hampir seluruh negara diberbagai belahan bumi, mengalami kesenjangan hidup dan kemiskinan. Sebesar 2.153 taipan/konglomerat memiliki kekayaan setara 4,6 milyar penduduk dunia! 


Bahkan Amerika serikat sebagai adidaya dunia sekaligus pusat kapitalisme global juga tidak terlepas dari problem kemiskinan, jumlah tunawisma, penerima santunan meningkat di AS. Apakah kemiskinan bisa dihapuskan? Mungkinkah kemiskinan dapat dihapuskan secara total dalam sistem ini??. Ataukah merupakan sesuatu yang Halu..!! Begitu komentar anak muda kekinian.    



 Dunia yang terbebas dari kemiskinan, dibawah kapitalisme demokrasi nampaknya memang cuma mimpi alias halusinasi belaka! Wajar bila rakyat pesimis menatap dunia yang terbukti telah menciptakan kesenjangan yang kian jauh antara si kaya dan si miskin.  Sebab dalam paradigma sistem ideologi kapitalisme demokrasi, kesejahteraan dan  kemakmuran hanya milik para kapital (yang punya uang).



Ketika Indonesia memilih aturan kehidupan demokrasi kapitalisme maka kemiskinan adalah suatu keniscayaan yang alami. Inilah cacat kapitalisme, kemiskinan bagaikan lingkaran setan yang tak ada ujung penyelesaian.  Ideologi ini berupaya  menutupi cacatnya dengan mencoba meminimalisir namun tak mampu menghilangkan kemiskinan, apalagi mencapai kesejahteraan bagi individu. Akankah upaya ini mencapai hasil ataukah akan sia-sia?




Semua ini bisa terjawab dengan melihat fakta yang terjadi saat ini.  Selama 75 tahun  Indonesia merdeka. Selama itu pula, Indonesia hanya berkutat  sebagai negara dunia ketiga atau negara berkembang, ini adalah sebutan halus untuk sebuah negara miskin!..Selama itu pula Indonesia berada dalam sistem demokrasi dengan berganti-ganti rezim dan pemimpin, namun kondisi Indonesia tetap tak beranjak dari dunia ketiga. 



Boleh dibilang Indonesia dalam rezim saat ini berada dipuncak keterpurukan, semua rekomendasi untuk mengatasi kemiskinan dari world bank tak membuahkan hasil, bahkan 115 juta penduduk lndonesia kelas menengah, rentan kembali miskin, seiring kebijakan dan kondisi ekonomi Indonesia yang stagnan cenderung menurun (cnn.Indonesia) Dipastikan jumlah orang miskin meningkat.



Tekanan hidup yang meningkat, dan berbagai musibah yang menimpa bangsa semakin menambah jumlah orang miskin. Mahalnya kebutuhan pokok, pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan, kemudian sulitnya lapangan kerja, serta inflasi yang meningkat menjadi faktor penyebab meningkatnya jumlah kemiskinan secara sistemik.



Semua ini jelas disebabkan oleh aturan yang diterapkan negara, sehingga mengakibatkan buruknya peran pemerintah/negara dalam melindungi dan mengatur rakyatnya. Sebab dalam kapitalisme demokrasi fungsi negara sebatas regulator, peran negara begitu minimal.


Bahkan negara memanfaatkan kemampuan kelas menengah dalam membayar pajak sebagai aset untuk menutup kemiskinan. Jadi artinya negara meminta rakyatlah yang menolong rakyat lain, begitu pula mekanisme yang terjadi pada jaminan kesehatan (BPJS). 


Selain itu proyek-proyek pengentasan kemiskinan yang terus digulirkan pada akhirnya hanya menambah hutang negara dan sekedar menurunkan angka kemiskinan secara statistik. Turunnya angka kemiskinan lebih karena pergeseran jumlah miskin dan rentan miskin, bila tekanan ekonomi meningkat mereka miskin kembali. (Peter Abdullah, pengamat indef).



Rakyat melarat bersanding dengan konglomerat dalam angka-angka buatan sistem kapitalisme yang bernama GNP (Growth  National Product) dan PDB (Product Domestic Bruto). Walhasil realitas kemiskinan menjadi nihil. 



Rupanya rezim saat ini tengah mencoba menutupi fakta kegagalannya dalam 'meri'ayah' (mengurus) rakyatnya dengan mengotak atik angka. Realitanya rakyat miskin autopilot harus berjibaku mengurus kebutuhannya sendiri agar bisa bertahan hidup di negri yang sesungguhnya kaya ini.


  Mereka adalah korban dari sistem yang berpihak pada korporasi (pengusaha), konglomerat, kaum bermodal/ber-uang (kapitalis). Sebagai contoh UMKM yang menjadi andalan kelas menengah kebawah tersisih korporasi, UMKM bisa berproduksi namun tak bisa menjual.



Data kemiskinan dimanipulasi rezim sedemikian rupa plus bumbu narasi pencitraan, seolah- olah jumlah kemiskinan menurun. Kemudian dibangunlah narasi bahwa rakyat mempunyai taraf kehidupan yang lebih baik. Namun rakyat kini semakin kritis dan cerdas, sebab realitas rakyat yang makin susah adalah jawaban yang paling jujur dan shahih!.



Sungguh mengherankan, negara bukannya berupaya memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi, malah sibuk mengotak-atik data dengan menurunkan standarisasi/ukuran sehingga jumlah kemiskinan menurun. Sementara akar masalah kemiskinan yang menuntut solusi cepat tidak teratasi.



Maka jelas sudah bahwa kemiskinan adalah bahaya laten kapitalisme, jadi.mustahil kemiskinan dapat dihapuskan dalam ideologi ini. Yang bisa dilakukan kapitalisme hanya menurunkan angka saja namun itupun bersifat fluktuatif mengikuti mekanisme pasar.


Marilah kita bandingkan dengan solusi islam dalam menyelesaikan masalah ekonomi. Rasululloh saw ketika pertama kali menginjakan kaki di Madinah setelah hijrah. Maka beliau sebagai pemimpin negara baru, menjalankan prioritas pertama kebijakan adalah membangun stabilitas ekonomi rakyat, karena perkara "perut" tak bisa ditunda. 



Hanya dalam waktu beberapa jam saja Rasululloh mengambil langkah taktis dan strategis dengan melakukan pemerataan antara si kaya dan si miskin dengan mempersaudarakan anshor (menengah kaya) dan muhajirin (miskin tidak punya apa-apa). Lapangan kerja terbuka, harta berputar (al hasyr 7), hingga ekonomi stabil tak ada kesenjangan.


Tiap individu terpenuhi kebutuhan pokoknya. Stabilitas yang dibangun Rasululloh saw dalam negara kecil yang masih baru di madinah,  hanya dalam tempo beberapa jam saja kemudian menjadi pondasi kekuatan besar ekonomi kekhilafahan dimasa yang akan datang, masa sepeninggal Rasul ekonomi kekhilafahan semakin kuat hingga menjadi adidaya melampaui Persia dan Romawi yang jadi kekuatan dunia saat itu. 


Hingga terus  100 tahun sepeninggal Rasululloh masa khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam masa pemerintahan 2,5 tahun saja rakyat khilafah tercatat taraf kehidupan sangat makmur, tak ada orang miskin (mustahik), semua muzaki. 



Terus kesejahteraan ini bertahan selama 13 abad, melalui penerapan politik ekonomi islam yaitu, negara wajib menjamin kebutuhan pokok setiap individu dengan layak dan gratis (sistem ekonomi dalam islam,.taqiyuddin an nqbhani). 


Fungsi negara sebagai junnah (pelindung) berjalan. Bandingkan dengan sistim lain buatan manusia seperti kapitalisme dan komunisme, berpuluh tahun bingung dalam menghapus kemiskinan...akhirnya muncul kaum proletar, borjuis, konglomerat dan kaum melarat...


Bahkan kapitalisme pun saat ini cacatnya kian parah dan tengah sekarat!!..masih kah mau bertahan dalam kapitalisme?? Orang yang mau berfikir obyektif pasti memilih aturan sempurna dari Alloh swt. Wallohu'alam..

Posting Komentar