Oleh : Nur Azizah 
(Penulis & Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com-Media gempar dengan kasus pembunuhan anak umur 5 tahun di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kasus pembunuhan kali ini banyak menimbulkan pertanyaan, menggemparkan, dan menggegerkan kalangan masyarakat. Mulai dari orang tua, pendidik, pemerhati pendidikan, bahkan sampai kepada ahli psikologi.



Dikutip dari Pojoksatu.id, Awalnya, pada Kamis (5/3) korban bermain ke tempat pelaku NF di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Keduanya memang tetanggaan yang sering bermain bersama.


Peristiwa bermula saat balita usia 5 tahun ini diperintahkan untuk mengambil mainannya di dalam kamar mandi. Kemudian, pelaku menyusulnya ke kamar mandi. Pada saat balita itu sedang berjongkok, tak lama kemudian pelaku melancarkan aksinya dengan mencekik dan ditahan didalam bak air sehingga korban tidak bisa bernafas selama 5 menit.



Tidak berhenti sampai disitu, saat melihat sang korban masih bernafas pelaku segera mencolok mulut sang bocah kemudian dimasukkan dengan air.


Esok paginya pelaku bingung bagaimana caranya membuang jenazah itu, hingga akhirnya pelaku menyerahkan diri dan melaporkannya langsung ke Polsek Taman Sari, dilansir dari kompas.com
Kasus yang menggegerkan masyarakat ini membuka mata kita, bahwa para anak remaja mengalami fase yang bermasalah. 


Di era digital, para remaja diserang dengan tayangan sampah yang mempromosikan sadisme tanpa sensor dan melalui gawai yang sifatnya sangat privasi atau disebut Smartphone. Tayangan sadisme beranak pinak dan hadir begitu saja di gawai anak-anak, seolah tidak ada pengawas tayangan di negara ini.


Film-film sadisme berteberan di Facebook dan Wattpad. Screening pembaca cukup dilakukan dengan memberi label D (Dewasa) dan 18+. Siapa yang akan menjamin bahwa label tersebut dipatuhi? 


Nyatanya banyak dari mereka tidak menghiraukan label itu, sehingga muncul rasa penasaran dan mencoba untuk menontonya yang akhirnya mendoktrin para Remaja yang menonton untuk meniru dari adegan tersebut. Apalagi kini Hollywood gemar membentuk Citra positif terhadap pembunuhan berantai. Hingga penonton tak merasa benci justru merasa terinspirasi dari kisahnya.


Sungguh menyedihkan. Menjadi remaja di era digital memang tak mudah. Kemajuan teknologi yang menjulang menjadi kesempatan emas untuk kapitalisme barat mendulang dolar dari tayangan kekerasan yang di filmkan.


Banyak argumentasi yang dilayangkan oleh masyrakat yang menyayangkan peristiwa pembunuhan sadis ini. Mulai dari lemahnya peran orang tua dan dukungan lingkungan hingga mengambil jalur pintas agar anak tenang yaitu diberikan gawai yang canggih dan di bebaskan untuk menonton segala tayangan kekerasan, ada yang menyebutkan gangguan jiwa, atau pelaku yang tidak mampu memfilter baik dan buruk.


Padahal semua penyebabnya karena disematkannya terhadap kasus tersebut adalah buah dari triple-isme yang semakin menjadi-jadi.


Remaja adalah sasaran utama bagi rezim, menjadi santapan empuk sekaligus konsumen yang memiliki nilai petensial yang tinggi untuk memasarkan semua hasil industri hiburan yang dilahirkan kapitalis-sekuler-liberal. Meskipun mereka mengakui dengan gamblang bahwa konten horor dan kekerasan amata sangat merusak generasi muda. Seperti yang dilansir oleh Livestrong (1/12/2018), anak kecil atau remaja bisa terkena efek negatif akibat menonton film horor yang dengan gamblang menampilkan kekerasan.


Efek negatif yang akan timbul dari film tersebut adalah menciptakan ketakutan pada si penonton, efek jangka panjangnya seperti menimbulkan gangguan tidur, phobia, sering cemas, katarsis simbolik, agresi, dan tentunya memicu pada kekerasan. 



Namun karena keuntungan besar yang diperoleh dari produksi konten horor dan kekerasan, mereka seakan tak lagi peduli dengan dampak yang akan terjadi pada yang menontonya. Bahkan liciknya, mereka memperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu naiknya profit sekaligus menghancurkan generasi muda suatu bangsa dengan cepat.


Umat Butuh Solusi


Jika kapitalis barat bergerak cepat untuk menghancurkan generasi muda maka seharusnya negarapun bertindak lebih gesit untuk mengatasi masalah seperti ini.


Solusi atas masalah ini tak hanya bisa ditangani melalui polisi, psikolog, atau orang tua pelaku. Butuh peran negara didalamnya, solusi integral-sistemis yaitu dimulai dari mengubah asas kehidupan kita yang sudah masuk ke jurang bernama sekuler-liberal, di mana agama hanya dimaknai sebagai aktivitas ritual belaka, sisanya tidak boleh ikut campur dalam kehidupan.


Selanjutnya, keluarga harus dikembalikan posisinya sesuai tatanan syariat islam, bahwa keluarga adalah kepemimpinan terkecil. Mulai dari Ayah yang bertanggung jawab atas amanah sebagai pemimpin (qawam), ibu bertanggung jawab atas posisinya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm wa robbatul bait), sedangkan anak wajib bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan juga wajib mentaati kedua orang tuanya (selama tidak maksiat).


Semua anggota keluarga akan memerankan kewajibannya masing-masing. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Hingga berkumpul di jannah adalah missi utama suatu keluarga. Jika ada salah satu dari mereka yang tak menjalankan kewajibannya, maka ada mekanismenya dalam sosial. Mengingatkannya dan membentuknya kembali dengan fondasi ketaatan kepada Sang Khalik.



Dari sisi negara, maka negara akan turut memperhatikan relasi keluarga, sudahkan terwujud sakinah atau belum. Negara ikut berperan memfasilitasi para anggota keluarga yang memiliki konflik untuk dinasehati, dimediasi, dan dihibur.


Dahulu Khalifah Umar bin Al Khaththab pernah membuatkan rumah tepung untuk para perempuan yang sedang berkonflik dengan suaminya. Di sana mereka makan dan istirahat, hingga suasana hatinya mulai membaik dan terhibur sehingga tak ada lagi kesedihan, dan bisa kembali pulang dengan gembira. Khalifah Umar ra juga pernah "Memaksa" seorang pemimpin dalam keluarga (suami)  agar bekerja untuk menafkahi keluarganya.


Tidak sampai disitu, negara juga berperan untuk menyejahterakan ekonomi agar kefakiran tak menjadi momok utama yang menyeramkan dan merongrong keharmonisan keluarga. Para penguasa Islam terus mengingatkan rakyatnya agar senantiasa bertakwa, sehingga suasana masyarakat adalah suasana ketakwaan.


Aneka tayangan yang akan tersajipun difilter terlebih dahulu. Jika ada unsur kekerasan dan merusak keharmonisan keluarga akan diblokir. Media akan diisi tayangan yang lebih bermoral seperti pembelajaran Al-qur'an, hadits, fikih, sains dan lainnya. Semua upaya ini merupakan kolaborasi yang kompak antara individu dan negara dalam menerapkan syariat islam secara Kaffah.


Pada dasarnya sepanjang sejarah hanya islam lah yang berhasil mencetak generasi muda yang tangguh, cerdas, taat, berprestasi dan berkarya untuk umat. Mereka dididik sejak dini dengan tatanan aturan islam, dekat dengan al-qur'an, hafal banyak hadits, mengetahui hukum-hukum syara, sehingga tidak akan ada lagi untuk berbuat baik dan meninggalkan yang buruk.


Dengan begitu hanya Khilafah lah jawaban dari segala bentuk keresahan dan problematika yang terjadi ditengah umat. Menerapkan Islam secara Kaffah, akan membentuk keluarga sakinah di seluruh rumah hingga mencetak generasi yang sehat jiwa dan raganya.[MO/ia]

Wallahu a'lam bishawab.



Posting Komentar