Oleh : Ayyatul.S.N 
(Aktivis Muslimah Jakarta)


Mediaoposisi.com-Bulan maret menjadi harinya perempuan karena diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Semaraknya para perempuan menyerukan keadilan, kebebasan, juga kesetaraan. Agar hidup lebih sejahtera bebas dari intimidasi karena selama ini kerap kali perempuan menjadi objek pemuasan, diberlakukan semena-mena, dianggap tidak berguna. Benarkah demikian kenyataannya pada ranah publik?


Dunia akan memperingati Hari Perempuan Internasional pada Minggu (8/3/2020). Kali ini PBB mengangkat tema “Saya Generasi Kesetaraan: Menyadari Hak Perempuan”. Kampanye generasi kesetaraan membawa bersama orang dari setiap gender, usia, etnis, ras, agama dan negara untuk mendorong aksi yang akan menciptakan kesetaraan gender dunia yang semua layak mendapatkannya.



Tujuan kampanye tersebut untuk memobilisasi mengakhiri kekerasan berbasis gender, keadilan ekonomi dan hak untuk semuanya, otonomi tubuh, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi, serta tindakan feminis untuk keadilan iklim. Selain itu, menginginkan teknologi dan inovasi untuk kesetaraan gender dan kepemimpinan feminis.


Namun data mengatakan lain, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat terjadi kenaikan jumlah kasus kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP). Sepanjang 2019, Komnas mencatat terjadi 2.341 kasus atau naik 65 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 1.417 kasus.


Lalu "Komnas Perempuan memberikan catatan khusus terhadap siber ini yaitu kenaikan sebesar 300 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujar Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin dalam acara Catatan Tahunan Komnas Perempuan di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (6/3/2020).


Perempuan Korban Liberalisme


Sudah sejak lama hegemoni barat bercokol di negeri-negeri kaum muslimin tidak terkecuali negeri ini, yang mayoritas beragama Islam. Namun sistem yang diemban oleh negeri ini adalah Demokrasi Liberal yang menyuarakan kebebasan pada setiap individu. 


Memisahkan antara kehidupan dengan agama, sehingga perempuan ikut menyuarakan yang disuarakan para perempuan barat. Agama sedikit-sedikit bergeser menjadi ranah pribadi sehingga ide-ide barat mulai menyebar pada khalayak umum.


Di antaranya adalah ide feminisme dan juga kesetaraan gender yang menitikberatkan pada persamaan (equility). Pandangan ini merupakan salah satu unsur dari worldview (pandangan alam) barat modern. 


Dan pandangan semacam ini menyatakan perlu adanya kesamaan posisi, kondisi dan partisipasi lelaki perempuan dalam setiap aspek kehidupan. Namun kenyataannya ini bukanlah sebuah keadilan karena kodratinya lelaki dan perempuan berbeda. Ada ranah masing-masing yang harus ditempati sesuai fitrahnya.



Feminisme adalah anak keturunan dari Liberalisme; ideologinya kebebasan tanpa tapal batas. Ide barat yang menjadi sebuah sistem negeri ini tidak dapat menyelesaikan persoalan mengenai perempuan, karena banyaknya penggiat feminis dan kesetaraan gender tidak menyurutkan jumlah dan jenis persoalan yang dihadapi perempuan. 


Seperti eksploitasi ekonomi, komersialisasi di media, kekerasan seksual dan tiadanya jaminan kesehatan dsb. Data-data yang ada telah menunjukan gagalnya sistem negeri ini mengentaskan masalah kehidupan perempuan.


Cara pandang Liberal yang memberikan solusi feminisme dan kesetaraan gender justru menghasilkan masalah baru berupa konflik, persoalan disharmoni dalam keluarga dan masyarakat. Sehingga hanya cara pandang Islam solusi keadilan untuk perempuan.


Islam Memuliakan Perempuan


Secara umum Islam memandang laki-laki dan perempuan posisinya sama tidak ada perbedaan, masing-masing ciptaan Allah Subhana wa ta'ala. Memiliki tanggung jawab yang sama dalam beribadah kepada Allah serta dalam menjauhi segala larangan-Nya. Begitu pula dalam syariat Islam mendapat pahala dan ancaman siksa yang seimbang sesuai amal dan perbuatannya. 


Setiap hak dan kewajiban lelaki dan perempuan tidak dibedakan  sebagai hamba-hamba-Nya.  Allah Subhana wa ta'ala berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa [4]: 124)


Namun demikian lelaki dan perempuan tidak dapat disetarakan dalam berbagai hal. Menyetarakan keduanya dalam kedudukan sosial, peran di ranah publik, pekerjaan, jenis kewajiban dan haknya, semua itu menyalahi kodrat. 


Bahwa lelaki dan perempuan kenyataannya berbeda dilihat dari kasat mata fisiknya secara biologis, terlebih perempuan yang akan mengandung juga melahirkan. Belum lagi cara berpikirnya, menyelesaikan suatu masalah pada kecenderungan emosi, juga potensi dari masing-masing individu.



Pandangan Islam mengenai hubungan lelaki dan perempuan adalah saling melengkapi sehingga dapat menjadi keluarga yang harmonis dan mencapai peradaban gemilang. Tidak seperti para sekuler yang memandangnya sebagai persaingan. Karena adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan fitrahnya, memberikan hak kepada yang berhak. Sehingga konsep feminisme yang mengusung kesetaraan gender merupakan ilusi keadilan perempuan.


Islam memuliakan perempuan dengan memerintahkan menutup aurat keseluruh tubuhnya, ini bukan mengekang tapi ini bentuk cinta Sang Maha Pencipta kepada hamba-Nya yang bernama perempuan. Terdapat kebaikan disetiap perintah yang Allah Subhana wa ta'ala turunkan.


Hubungan suami istri dalam Islam adalah menciptakan generasi pencetak peradaban yang mulia, juga menjadi keluarga yang bermanfaat bagi umat dalam peradabannya. Peran lelaki bertanggung jawab sebagai pemimpin (qawwam) bukan semata-mata untuk merendahkan perempuan yang dipimpinnya, namun untuk melindungi, membimbing keluarga menuju keridaan Allah Subhana wa ta'ala dan masuk kedalam Jannah.


Seorang suami harus mempergauli istri-istri nya dengan baik, Allah telah menetapkan kepemimpinan rumah tangga (qiyadah al-bayt) berada di tangan suami. Berkaitan dengan rumah tangga suami berhak atas pengaturan dan pemeliharaannya saja. Bukan seperti memiliki kekuasaan dan hak memerintah, karena itu istri berhak memberikan masukan terhadap ucapan suami.


Sehingga perempuan wajib melayani suaminya, apapun yang ada didalam rumah menjadi kewajiban sang istri. Dan suami wajib menyediakan apa saja yang dibutuhkan didalam rumah guna memuliakan istrinya. Bahkan istri yang menyusui anaknya harus diberi ganti ongkos. Ini semata-mata karena Islam memuliakan perempuan. Dan bila Istri rida menolong suami untuk mencuci, memasak, mengurus rumah maka ada pahala berlimpah menantinya.


Islam memuliakan perempuan dengan menjaganya agar tetap di rumah, bukan menjadi seperti dalam penjara. Pandangan sekuler liberal bahwa bekerja menghasilkan materi atau uang untuk digunakan, namun Islam berbeda pandangannya jauh ke depan bahwa perempuan bekerja untuk mencetak generasi unggul penerus peradaban Islam. Dan Islam tidak melarang perempuan bekerja selama kewajibannya terpenuhi yaitu ummu warabatul bait.


Kenyataan yang ada di ranah publik bahwa feminis dan kesetaraan gender yang menyebabkan terjadinya intimidasi terhadap perempuan karena menyalahi kodrat dan fitrahnya. Keadilan Perempuan cukup jelas dalam syariat Islam menempatkan perempuan dalam ranahnya. 


Konsep equality yang diusung feminis bukan solusi, itu hanya merupakan penguasaan barat terhadap dunia global. Sehingga untuk mengentaskan keadilan yang bukan ilusi semata dan merupakan kemuliaan perempuan adalah dengan menerapkan Syariat Islam secara kaffah.[MO/ia]


Wallahu'alam bishawwab

Posting Komentar