Oleh : Merli Ummu Khila
(Kontributor Media, Pegiat Dakwah)

Mediaoposisi.com-Laki-laki itu berusaha melindungi tengkorak kepalanya, saat tongkat besi itu mendarat bertubi-tubi. Tubuhnya bersimbah darah, hampir saya meregang nyawa di tangan puluhan laki-laki beringas. Malangnya, meski ratusan mata menyaksikan namun tidak ada yang berusaha menyelamatkan.


Muhammad Zubair (37 tahun), Harus menerima perlakuan tersebut hanya karena dia muslim. Hidup di antara mayoritas Hindu, membuatnya seakan tidak berhak atas bumi yang dia pijak, India. Tidak ada satu kesalahan pun dia perbuat.


Yang lebih menyakitkan, dunia Islam seolah buta, Islam sebagai populasi muslim terbesar seperti macan ompong. Tidak ada kekuatan yang membuat kafir segan apalagi takut. Justru penyiksaan terhadap minoritas semakin beringas.


Meskipun belum ada laporan bentrokan baru pada hari Rabu (26/02), kota ini terus tetap gelisah setelah kerusuhan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut.


Kerusuhan yang terjadi, bukan lagi tentang hukum kewarganegaraan baru. Kekerasan itu berubah menjadi sektarian, dengan laporan orang diserang berdasarkan agama mereka. Toko Muslim dijarah dan dirusak, sebuah masjid yang terbakar sebagian, dengan halaman-halaman dari Alquran tergeletak di tanah.


Masjid lainnya dirusak pada selasa siang. Sebuah rekaman yang tersebar di media sosial menunjukkan seorang pria berusaha mencoba melepas bulan sabit dari atas menara masjid. Setidaknya 200 orang menjadi korban dalam kerusuhan itu, baik dari warga Muslim maupun Hindu.


Penderitaan muslim di New Delhi salah satu dari ratusan kasus penyiksaan muslim khususnya yang menjadi minoritas dalam sebuah negara. Demi mempertahankan akidahnya, mereka harus mempertaruhkan nyawa. Nyaris tanpa pembelaaan dari saudaranya seiman.

Penderitaan muslim di berbagai belahan dunia Islam sudah saatnya diakhiri. Karena kedzaliman terhadap umat Islam sudah berpuluh-puluh tahun berlansung tanpa ada titik terang penyelesaian. Hampir tiada pembelaan dari pemimpin negeri Islam. Sedangkan umat hanya mampu mengutuk dan berdoa.

Penderitaan umat sejatinya terjadi pasca runtuhnya negara adidaya khilafah Utsmaniyyah. Pada 3 Maret 1924, Majelis Agung Nasional Turki membubarkan kekhalifahan dan mengasingkan Abdul Mejid II beserta para pangeran dan putri Wangsa Utsmaniyah dari Republik Turki. 



Runtuhnya Daulah inilah yang menjadi cikal bakal setiap penderitaan umat muslim di Palestina, Suriah, Irak, muslim Uighur di Xinjiang China, muslim Rohingya di Myanmar dan diberbagai tempat lainnya.


Munculnya istilah minoritas adalah bagian dari strategi Barat devide et impera (politik belah bambu). Istilah ini di definisikan untuk sekelompok penduduk di sebuah daerah, atau wilayah, yang berbeda dengan mayoritas, dengan ras, bahasa dan agama tertentu. Dan istilah ini muncul setelah runtuhnya Daulah Khilafah.


Adanya nation state atau negara bangsa dengan batasan teritorial sehingga individu yang menetap di dalam wilayahnya tidak bisa berpindah ke wilayah lain. Bersamaan dengan itu muncul pula perasaan nasionalisme yang berhasil menyekat perasaan sesama muslim. Akhirnya umat Islam terkotak-kotak menjadi  negara-negara kecil.


Harus ada satu pucuk kepimpinan dari 1,6 milyar umat Islam dibelahan bumi ini. Yang mampu menjadi perisai dan periayah umat dari penjajahan Barat dan antek-anteknya. Umat saatnya bersatu menghimpun kekuatan yang dulu pernah ada dan berjaya.


Karena hanya dengan Khilafah, menjaga nyawa seorang muslim seperti menjaga nyawa seluruh manusia. Seperti dahulu pernah terjadi pada masa khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah. Hanya karena seorang muslimah yang ditawan di sebuah kota pesisir di kota Amurriyah, Sang Khalifah mengerahkan tentaranya yang menggetarkan musuh.



Bayangkan, panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), begitu besarnya pasukan yang dikerahkan oleh khalifah. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.


Saatnya kita kembali merasakan perlindungan seperti yang dulu pernah dirasakan umat Islam pada masa kekhalifahan. Sebagaimana bisyarah Rasulullah Saw. :


"... Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih.[MO/ia]


Waallahu a'lam bishshawaab

Posting Komentar