Oleh Dwi Perwita Sari, S.Pd 
(Guru dan Aktivis Muslimah Kaffah)

Mediaoposisi.com-Penyebaran virus corona semakin meluas di Indonesia. Lihat saja, jumlah pasien yang positif terinfeksi wabah itu sudah tembus 369 orang dengan jumlah pasien yang meninggal dunia mencapai 32 orang (20/3). Kekhawatiran pun makin menyelimuti perasaan masyarakat. Tagar #dirumahaja di berbagai media sosial bermunculan sejak awal pekan ini.


Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mengimbau warga untuk bekerja dan belajar dari rumah demi meminimalisir penyebaran virus corona. Tak ayal, banyak masyarakat yang mengisolasi diri di rumah masing-masing karena masalah tersebut. Meskipun demikian, tidak tahu sampai kapan virus corona terus menyebar di Indonesia. 


Yang jelas, pemerintah belum bisa menekan penyebaran virus. Semakin hari, jumlah pasien positif kian bertambah dikarenakan kurang seriusnya pemerintah dalam mengatasi wabah corona tersebut sejak awal. “Bak nasi telah menjadi bubur” yang membuat kejadian ini berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.


Pemandangan keramaian kedai makan yang berada di dekat gedung perkantoran saat jam makan siang tak lagi terlihat. Belum lagi pusat perbelanjaan menjadi tempat yang juga dihindari oleh masyarakat. Padahal, banyak pelaku UMKM hingga ritel besar di tempat itu.


Baca Juga: Perlunya Kesadaran Politis di Tengah Penyebaran Covid-19


Masalahnya, penurunan daya beli masyarakat akan membuat tingkat konsumsi rumah tangga melorot. Padahal, konsumsi rumah tangga saat ini masih menjadi komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB) terbesar.  Artinya, ekonomi Indonesia amat bergantung dengan konsumsi masyarakat.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi rumah tangga menyumbang hingga 56,62 persen terhadap ekonomi Indonesia sepanjang 2019. Diikuti dengan komponen investasi serta ekspor dan impor. "Ini mempercepat menuju krisis. 


Tiga triwulan tidak teratasi bisa krisis. Ini skenario terburuk tapi ya," ucap Eko kepada, Kamis (19/3). Menurut dia, Indonesia sendiri saat ini sebenarnya sudah bisa disebut resesi. Pasalnya, ekonomi dalam negeri sudah melambat sejak tahun lalu.


Ditambah lagi semakin menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) sudah menembus ke angka Rp 16.273 dipicu kepanikan pasar akibat penyebaran corona di berbagai negara. Angka ini hampir mendekati dolar AS saat krisis pada 1998 yang berada di kisaran Rp 16.800. Hal ini semakin membuat pemerintah dan masyarakat dalam batas dilema tingkat tinggi, dimana krisis ekonomi dan kesehatan akibat wabah covid-19.


Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyatakan bahwa hal ini terjadi karena pasar menilai jika Indonesia terlalu lambat untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Misalnya saat awal 2020, ketika ada isu penyebaran corona di Jakarta, pemerintah dengan santai bilang tak ada virus corona."Sudah salah langkah pemerintah ini, dari awal anteng saja bilang kalau Indonesia bebas corona. Nah pasar sekarang melihat kalau Indonesia sedang berjuang untuk terbebas dari corona. Pasar juga menunggu proses penanganan," jelas dia.



Ibrahim juga mengungkapkan, dolar AS diprediksi akan terus bergerak hingga Rp 16.500 karena pasar memang akan jor-joran menarik. "Bisa dilihat obligasi berguguran, indeks saham berguguran," jelas dia. Melihat fakta ini, jika terus dibiarkan maka Indonesia akan sulit bangkit dari keterpurukan akibat kehancuran dari berbagai sisi.


Sementara disisi lain Islam selalu menunjukkan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Islam mengatur semua hal dan memberikan solusi atas segenap persoalan. Islam telah lebih dulu membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.


Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).


Dengan solusi yang telah Rasul contohkan, wabah tersebut dengan sangat cepat diatasi sehingga tidak merusak sistem tatanan pemerintah lainnya terutama terkait sistem ekonomi negara.


Didalam sistem islam, kekayaan alam yang dikelola sendiri merupakan penghasilan utama dalam memenuhi setiap kebutuhan sandang dan pangan masyarakat. Ditambah dengan zakat, infaq, shadaqah, kharaj dan fa’i sehingga keuangan negara tetap stabil walaupun terjadi hal yang tidak diinginkan. Sistem ekonomi yang baik akan menghasilkan kesejahteraan terhadap seluruh masyarakat. Kita bisa bercermin dari Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dimana tidak ditemukan masyarakat yang miskin dikarenakan keuangan negara dikelola sesuai dengan tuntunan dalam islam.



Ini merupakan ujian dalam bernegara agar masyarakat terutama para pemimpinnya harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah milik Allah SWT yang diamanahkan kepada manusia. Oleh karenanya mereka harus kembali kepada hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah yang Maha Pencipta dengan menerapkannya secara komprehensif diseluruh tatanan kehidupan.[MO/ia] 


Wallahua’lam bish showwab

Posting Komentar